Jumat,18 Agustus 2017 | Al-Jumuah 25 Zulkaedah 1438


Beranda » Kolom Riau Pos » Taufik Ikram Jamil » Riau Bertobat

Riau Bertobat

Taufik Ikram jamil | Minggu, 04 September 2016 11:02 WIB

SEBETULNYA tak ada yang baru dari pesan pendek (SMS) Abdul Wahab dua hari lalu, tetapi tetap menyentak saya dan getarannya sampai sekarang masih terasa. Setelah memperbincangkan penundaan dana alokasi umum (DAU) Riau dan sejumlah kabupaten, pada gilirannya Wahab menulis, “Riau bertobat. Bertobatlah.”

Ia sendiri mengaku bahwa kalimat tersebut bersumber dari kawannya pula yang saya memang saya kenal meski tidak akrab. Namanya Nantan. Ya, Nantan. “Dia cakap seperti itu dengan aku yang boleh juga kita resapi,” tulis Wahab kemudian.

Ajakan bertobat Nantan itu, dibawa Wahab sampai di tempat tidur. Entah bagaimana kemudian, ia mengaitkan kalimat tersebut dengan kondisi Riau sekarang. Suatu kondisi yang begitu menekan; di tengah asap kian pekat, dilatarbelakangi dengan sosial politik yang senantiasa berasap pula dalam pengertian bukan asap sebenarnya. Listrik yang sekejap hidup sekejap mati, menambah tekanan lain menjadi-jadi.

Pembayaran gaji pegawai Pemprov Riau dan dua kabupaten bakal ditunda. “Nah, gaji pegawai yang bersama negara saja ditunda, bagaimana gaji pihak lain? Belum lagi kita melihat pelaksanaan APBD yang tersendat-sendat, besar pengaruhnya bagi ekonomi daerah,” tulis Wahab.

Begitu saja kemudian, Wahab merasa bahwa dalam beberapa tahun ini, hampir kurang ada berita yang menggembirakan dari Riau. Soal koupsi, usah cakap. Ikhwal kriminal tak alang kepalang sampai ada peristiwa menjual daging manusia di pasar bebas. Pemasokan narkoba bukan kecil pula, sempat tertangkap empat truk ganja. Kemiskinan rakyat Riau yang mencapai 14 persen dari 5,5 juta penduduknya seperti sama sekali tidak berkaitan dengan potensi ekonomi Riau. Belum lagi penurunan hampir semua komoditas yang dihasilkan masyarakat banyak termasuk rendahnya harga komoditas tersebut sampai pada titik akhir.

Sebaliknya, sebagai gambaran umum, dapatlah disebutkan bagaimana minyak di Riau yang ditambang sejak pemerintahan Sultan Syarif Kasim II tahun 1930-an, menjadi peyangga utama pembangunan Indonesia. Belum lagi hasil hutan, batu bara, dan gas. Begitu juga kebun sawit yang terluas di Indonesia, mencapai 3,5 juta hektar. Tahun 2014 saja, devisa negara yang dihasilkan Riau adalah Rp 600 trilyun dari Rp 1.800 trilyun Anggaran Pembangunan dan Belanja Nasional (APBN).

Tentu ada yang diperoleh daerah ini dari sawit. Tetapi kehilangangannya pun tak tanggung-tanggung, seperti kondisi alam menjadi monokultur dan penyedotan air bumi begitu besar. Jalan-jalan hancur, apatah lagi, Riau hanya jadi penonton dari devisa yang dihasilkan sawit karena sampai saat ini, pemerintah pusat belum menentukan bagi hasil sawit.

Selebihnya, asap yang melanda daerah ini sejak akhir 90-an atau sudah berjalan belasan tahun. Kerugiannya pun tak alang kepalang seperti yang terlihat pada pelumpuhan sekolah dan tansportasi udara. Belum lagi penyakit, potensi kanker yang mengendap bukan saja pada anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Gangguan otak pun tidak dapat disepelekan akibat asap tersebut.

Jadi, apa pun potensi positif di Riau, segera saja menampakkan potensi negatifnya. “Akan lama waktu kalau dicari-cari di mana salahnya, lagi pula tidak mampu menyelesaikan masalah. Potensi kekayaan alam Riau tidak mungkin tidak dieksploitasi, tetapi bagaimana pengeksploitasian tersebut memberi kesadaran bagi kemanusiaan,” pikir Karim.

Di situlah kemudian ia kembali teringat pada perkataan Natan agar bertobat. Kalau disederhanakan, selain tetap menjalankan perannya sebagai makhluk sosial ekonomi, warga Riau harus benar-benar memperhatikan sisi relijiusitas. Dalam hal ini, bertobat adalah pilihan utama karena di dalam bertobat juga mengandung pengabdian kepada Yang Maha Kuasa. Sebab, tobat tanpa penyerahan diri kepada-Nya, tidak akan membuahkan hasil apa-apa.

Usah payah-payah mencari titik awal tobat itu. Usah dibongkar-bongkar kesalahan. Sebab, Rasulullah SAW saja, setiap hari beristighfar sedikitnya 70 kali. Seorang yang amat suci, seseorang yang sudah dijamin posisinya di sisi Allah, penguasa masa lalu, kini, dan masa mendatang. “Barangkali, asap ini merupakan bala yang diturunkan Allah kepada kita,” kata Karim lagi. Masih di dalam hati.

Apalagi sambung Wahab, , apa yang ada di dunia ini, tidak terlepas dari cobaan Allah SWT. Kekayaan dan mudaratnya, diciptakan agar manusia mengingat kepada-Nya sebagai sumber kekuatan. Pasti, semua yang baik itu datang dari-Nya, sedangkan keburukan muncul akibat ketidakmampuan manusia mengendalikan hawa nafsunya. Jadi tidak ada istilah baik dan buruk dari Allah karena Pencipta itu hanya berkaitan dengan kebaikan saja.

Teringat pula ia bahwa jika selama ini, Riau dikenal sebagai pengekspor asap, kini juga tergolong sebagai pengimpor asap. Daerah asap itu pula selama ini, belum “menerima” bencana alam seperti tsunami maupun gempa. Ya, Riau, Jambi, dan Sumsel, kini secara bersama-sama menerima petaka ini dengan rembetan ke daerah lain.

Hujan yang menderas di Riau sekarang, belum tentu mampu mengusir asap dari daerah ini. Menjelang Maghrib Kamis lalu (1/9/16) misalnya, hujan dan angin bagai mencabut kota ini. Seketika langit malam menghijau. Tapi menjelang pagi, jarak pandang di kawasan itu, paling-paling 500 meter. Pasalnya, Riau kan juga tidak bisa menolak asap kiriman. Alamak....

Dalam keadaan semacam ini pula, bagi Wahb, Allah masih memperlihatkan kecintaannya kepada Riau. Tiga kali sholat minta hujan atau istisqa’ yang didengar Wahab, tiga kali pula membuahkan hasil. “Jadi, apa lagi. Allah belum menutup pintu rahmat-Nya kepada Riau. Jangan sampai menunggu daerah ini hancur dulu baru melakukan tobat bersama-sama,” tulis Wahab.***

comments powered by Disqus