Senin,23 Oktober 2017 | Al-Itsnain 2 Safar 1439


Beranda » Kolom Riau Pos » Taufik Ikram Jamil » Mana Kegembiraan Riau?

Mana Kegembiraan Riau?

Taufik Ikram jamil | Minggu, 07 Agustus 2016 10:20 WIB

ENTAH mengapa senantiasa terbersit kegembiraan setiap kali orang mengenang hari lahir, hari jadi, selalu juga disebut ulang tahun. Kegembiraan itu kemudian disalurkan dengan berbagai perayaan. Sekurang-kurangnya niat untuk sesuatu yang lain dibandingkan hari biasanya.

“Ya, seperti kawan saya yang mengenang hari lahirnya beberapa hari lalu, melewati hari tersebut dengan memperbanyak permintaan maaf kepada kawan-kawannya. Sebab ia tidak punya uang untuk belanja apa-apa, yang tentu saja tetap memperoleh ucapan tahniah,” tulis saya kepada Abdul Wahab melalui pesan pendek (SMS) beberapa jam lalu.

Langsung saja Wahab menyembar SMS itu dengan menulis tentang peringatan hari lahir  Provinsi Riau, 9 Agustus bersamaan dengan hari Selasa mendatang.  Ia mengajukan pertanyaan dengan menyebut adakah kegembiraan menyambut hari jadi Riau ke-59 ini? Seperti biasa, memang pemerintah daerahlah yang memfasilitasi  peringatan tersebut, tetapi bagian mana yang tersisa untuk rakyat Riau secara keseluruhan?

Sekurang-kurangnya, tulis Wahab lagi, apakah pemerintah daerah menebarkan kegembiraan sempena hari jadi sekarang? Tapi apa makna yang dapat ditangkap dari kondisi yang menurut Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Al azhar, tergolong lembab. Artinya, tak ada suatu semangat yang muncul menjelang har jadi Riau ke-59 ini.

Memasuki Agustus misalnya, tak selembar spanduk, baliho, atau sejenis dengannya, yang mengabarkan hari jadi Riau tersebut. Bandingkan dengan Jakarta, juga dengan Pekanbaru, saat merayakan hari jadinya tahun ini. Riau seperti memasuki hari-hari yang tanpa makna, biasa saja sebagaimana hari-hari sebelumnya.

Sebaliknya, asal ingat saja, hari jadi mengandung berbagai harapan dan kenyataan yang bagaimanapun wujudnya, harus disambut dengan kegembiraan dalam konteks menyukuri. Kita bergembira karena diberi kesempatan untuk wujud, sehingga memiliki kesempatan pula untuk mengatur diri kita sesuai dengan apa yang dirasakan dan dipikirkan.

Kesemuanya menjadi kesatuan karena pendiri povinsi ini tidak salah melihat potensi Riau. Memiliki sumber daya alam yang melimpah, dibalut dengan adat resam yang membuka diri pada perkembangan, sumber daya manusia pun, masih dapat dipupuk. Belum lagi dalam menjawab tantangan ke depan baik lokal maupun regional.

Kalau persoalan lokal memang sudah jelas, regional pun pasti terseret-seret. Misalnya, dalam program Asean Community, Riau merupakan kawasan penting sejalan dengan posisinya di kawasan perairan internasional. Dalam keadaan demikian pula, gagasan maritim yang hendak diwujudkan pemerintah kini, pasti menempatkan Riau pada catatan khusus karena geografisnya juga.

“Mungkin kegembiraan terhadap posisi geografis tersebut, tidak sebanding dengan ketidakgembiraan Riau akhir-akhir ini, sehingga menguap begitu saja,” tulis Wahab. Nyatanya, tambah kawan yang tinggal di kawasan Selat Melaka itu, dari berbagai segi, Riau menghadapi persoalan besar.

Selalu disebut sebagai daerah rawan korupsi saja, seiringan dengan temu-temuan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebabkan, hati bernyut keras. Belum lagi soal begitu susahnya Riau mencari pemimpin, misalnya dalam menentukan wakil gubernur, Ketua DPRD, dan sekretaris daerah.  Tak mengherankan, negeri ini senantiasa dipimpin pelaksana tugas (Plt) yang alhamdulillah,dengan pelantikan Ahmad Hijazi sebagai Sekda Riau pekan lalu, hal semacam itu sudah dapat diselesaikan.

Teringat pula kondisi ekonomi rakyat Riau yang memang parah. Harga komoditas produksi masyarakat sungguh mengkhawatirkan. Tak saja sawit, tetapi juga karet dan kelapa. Sementara peremajaan tanaman-tanaman itu, masih belum jelas. “Ini bukan sesuatu yang menggembirakan kan?” tanya Wahab yang tidak memerlukan jawaban.

Belanja pemerintah yang di mana-mana amat diperhitungkan bagi pertumbuhan ekonomi tempatan, telah beberapa tahun ini juga tidak menggembirakan. Sisa anggaran puluhan persen yang terpaksa balik ke kas negara, dipandang dengan hati pilu. “Jadi, mana gembira Riau pada hari jadi sekarang, ketika persoalan tumpuk-menumpuk dan tak terselesaikan?” tulis Wahab.

Saya menarik nafas panjang dengan harapan bahwa hal-hal semacam itu, juga sepatutnya menjadi bahan peringatan setiap hari jadi. Bukankah hari jadi, juga menyuguhkan pertanyaan tentang apakah yang sudah dibuat sekarang, sudah dapat memenuhi cita-cita pendiri provinsi ini sendiri yang juga adalah kita?***

   

comments powered by Disqus