Kamis,23 November 2017 | Al-Khomis 4 Rabiul Awal 1439


Beranda » Kolom Riau Pos » Taufik Ikram Jamil » Menari dan Menari

Menari dan Menari

Taufik Ikram jamil | Senin, 02 Mei 2016 11:19 WIB


BUKAN main peringatan hari tari sedunia yang jatuh hari Jumat lalu tahun ini. Tidak saja di Pekanbaru yang menandai peringatan tersebut dari pagi, bahkan tak surut pada malam harinya walaupun kota ini dilanda hujan-angin lebat, Desa Bokor, Kabupaten Meranti pun tak ketinggalan. Ditaja oleh Sanggar Seni Bathin Galang, mereka bahkan menari di tengah sawah.

Dapat dicatat bahwa baik di Bokor maupun di Pekanbaru yang langsung ditangani Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum dan Taman Budaya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Riau, mereka memiliki semangat yang sama. Hari tari sedunia dijadikan momen untuk merangsang kreativitas tari dengan alas kebudayaan Melayu. Di Pekanbaru, mulai dari tradisi seperti tampilan Tepak Zapin, sampai tarian berkelas Laksamana, ikut ambil bagian. Tak lupa pula penampilan tim dari Aceh dan Sumbar yang memukau.

Cuma lain pula komentar kawasan saya Abdul Wahab melalui pesan pendek (SMS) yang sampai di telepon genggam saya hari itu.

“Kata Sutardji Calzoum Bachri, Rumi menari bertemu dia, tapi di mana Rumi kini?” Saya langsung ingat, presiden penyair Indonesia yang lahir di Rengat itu bertutur dalam sajaknya bertajuk Sampai (1987). Lebih lanjut ia menulis, “Kami tidak di mana-mana/ kami mengatas meninggi/ kami dekat.” 

Bukankah Jalalaludin Rumi terus menari. Badannya berputar-putar, jubahnya melambai, mengibar. Dari mulutnya melimpah kata-kata yang dikutip orang sebagai puisi. Sampailah ia meninggal, ketika diziarahi ribuan orang dari lintas agama, Rumi dikenal sebagai sufi agung yang menari. 

Cuma gerak dan lambai tangannya, geleng dan sentakan lehernya, belum juga berhenti. Terus berputar-putar, terus bergerak, seperti berbagai planet yang berjalan pada manzilah-manzilahnya. Bulan berputar sampai membentuk tandan kurma yang tua, misalnya. Seperti juga halnya, tiada orang berhenti memutari Ka’batulah di Makkah al-Mukarramah dalam ritual ibadah thawaf.

Syahdan, Hang Jebat pun menari saat menghadapi kematian. Begitulah semula kematian yang datang kepadanya membentang, menjadi lapangan berwarna hijau. Embun tipis melayap di atasnya, ditembus bulan purnama yang seperti baru merekah dari tampuk. Hang Jebat tersenyum, tapi kemudian tangannya sebelah kanan yang tertekuk, dengan tangan kiri menyentuh siku kanan, berkelebat; grus... “Ayo, Kanda Tuah, katanya sambil menggerakkan jari telunjuk”, tulis Wahab.

Tuah memandang Jebat nanar, tapi ekor matanya siap melompat ke segenap penjuru. Pelan-pelan pula ia tancapkan kaki kanan ke bumi dengan paha yang mengeras. Hulu keris tameng sari, digenggamnya setelah dikepal berkali-kali. Senjata dari Jawa tersebut seperti paham bahasa hati, terlihat sedikit meronta bagaikan tak rela memandang tikai dan tikam.

“Telah kuserahkan keris itu pada Kanda, sebab hanya dengan asbabnyalah aku akan terbunuh,” kata Jebat sebagaimana ditulis Wahab. Kaki kanannya melangkah tanpa menukarkan gerak dengan kaki kiri, seperti memasuki lapangan berwarna hijau dengan layapan embun tipis yang ditembus cahaya bulan purnama tadi. Sebentar kemudian, telapak kaki kirinya seperti terseret membuat putaran delapan puluh derjat, lalu berhenti dengan satu sentakan pada tungkai. Hups...

Sungguh Jebat yakin bahwa ajalnya di tangan Tuah. Mendurhaka, itulah cap yang diberikan padanya, sebagai dosa yang tak terampun dalam khazanah Melayu. Dan ia terima hukuman itu tanpa banyak dalih asalkan dilakukan oleh Tuah, orang yang ia bela dan ia puja. Tapi Jebat ingin mati dalam gerak. Karena dalam gerak, semuanya akan menjadi, yang kita kemudian menamakannya sebagai silat.

Tuah dan Jebat bersilat, betapapun mereka sudah dapat membayangkan dengan pasti, siapakah yang akan berhenti bergerak terlebih dahulu, menjumpai rumus di antara diam ke diam. Pada mulanya diam, bukankah akhirnya akan diam? Di antara diam itu ada gerak yang harus dikelola agar menghasilkan diam yang diimpikan. Jebat mengimpikan mati dalam silat, mati dalam tari, sebagaimana pujangga Hasan Junus mengatakan bahwa sesungguhnya silat adalah tarian mengantar kematian. 

Aduhai, Mak Semah di Siak, lain lagi. Dia mengepangkan tangannya dengan selendang yang melintasi pundak. Sebentar ditatapnya balai-balai dengan seseorang yang terbaring. Berbuat seperti itu, telapak tangannya bergerak-gerak seperti orang melambai dengan ritme patah-patah. Tak lama kemudian, kaki kanannya berinsut, disusul kaki kiri seperti menyapu lantai. Sedikit lenggokan di leher, menyebabkan tubuhnya terayun, terayun-ayun.

Lihatlah Mak Semah. Semua anggota tubuh Mak Semah sudah bergerak. Tangannya yang terkepang berayun ke atas ke bawah, sementara kaki-kakinya membuat langkah, mengelilingi balai-balai dan orang yang terbaring tadi. Mak Semah terlihat seperti terbang dengan jumbai kepak pada selendang. Sesekali terdengar ia berucap, Tabale-bale, heh...

Mak Semah terus seperti melayang-layang. Dalam beberapa langkah, ia sempat berhenti dengan tangan yang terus mengepak-ngepak, sementara matanya tak lepas dari balai-balai dan orang terbaring. Mak Semah terlihat seperti elang, mengangkasa dan melayap. Mak Semah menukik, Mak Semah melambung. Mak Semah terus terbang yang kita kemudian menamakannya sebagai tarian olang-olang.

Bukankah dengan tarian itu, Mak Semah mengimpikan kehidupan? Sebab kehidupan memang harus digerakkan dengan suatu gerakan yang terajut pada impian dan makna. Menjumpai gerakan yang tidak teratur baik menjelang kematian dan menjemput kehidupan, hanya berkawan dengan kekecewaan yang luasnya tiadalah bertepi. Maka bukankah tepat apabila Abdul Wahab, masih melalu SMS-nya mengatakan bahwa tarian adalah suatu sistem mengorganisasi gerak untuk maksud-maksud kemanusiaan.

Fitrah gerak hanya ada dalam fungsi. Setelah Allah SWT menciptakan dunia ini dengan simbol kata agar manusia paham yakni Kun! (sebab Allah Maha Pencipta termasuk tidak memerlukan kata), geraklah yang kemudian menjalankan fungsinya. Kesan saya (bukan tafsir), bukankah sengaja Allah sebutkan dalam al-lQu’ran, bagaimana planet dan embel-embelnya bergerak sesuai dengan mazilah-manzilahnya yang menunjukkan adanya pengorganisasian gerak?

Udara tak akan berguna kalau tidak bergerak dengan aturan tertentu, sehingga menimbulkan angin yang mungkin menjadi penyejuk bagi petani setelah sekian jam membalik-balik tanah. Air yang bertakung akan menjadi penyakit, setidak-tidaknya akan menjadi sarang nyamuk. Orang yang tidak bergerak akan disebut lumpuh. Jadi, gerak adalah suatu aktivitas yang semula jadi. 

“Boleh kan, kalau aku ingin memaknai hari tari sedunia ini semacam itui? Tidak sekadar melenggang-lenggok, apalagi tanpa henti 24 jam, karena sesungguhnya kita tak pernah berhenti menari. Menari dan manari...,” tulis Wahab. Silakanlah!***



comments powered by Disqus