Kamis,21 Agustus 2014 | Al-Khomis 24 Syawal 1435


Beranda » Kolom Riau Pos » Taufik Ikram Jamil » Seni - Politik

Seni - Politik

Taufik Ikram jamil | Minggu, 13 Januari 2013 09:47 WIB

Abdul Wahab menyimak juga sembang-sembang seniman sempena hari jadi ke-20 Dewan Kesenian Riau (DKR), Rabu lalu. ‘’Sebuah diskusi yang tetap menarik, meski bukan sesuatu yang baru. Seni dan politik. Sesuatu yang sudah sejak lama dibicarakan, berabad-abad bahkan,’’ tulis Wahab melalui pesan pendek (SMS) yang sampai pada telepon genggam saya.

Jika demikian halnya, tentu saja, pokok materi pikiran yang dibicarakan itu, bukanlah hal yang dapat dituntaskan termasuk pada sembang seniman tersebut. Hal itu juga sekaligus memberi peluang yang begitu banyak pada pendapat dan pendukungnya untuk menjelajah segala sesuatu yang berhubungan dengannya.

Pada gilirannya, sahabat saya itu menulis, seniman tidak akan mungkin melarikan dirinya dari politik, apalagi memandangnya sebagai suatu penyakit berketerusan (alergi). Malahan dapat dikatakan bahwa sasaran seni adalah suatu bahan baku yakni hati, sedangkan politik adalah bagaimana upaya memberi daya pada hati untuk keperluan kuasa.

Tidak mengherankan, dalam perjalanan seni, ada hubungan langsung antara seni dengan politik walaupun wajahnya amat beragam.

Sebut saja penggerak revolusi Prancis yang kini mengilhami kehidupan demokrasi di dunia, justru dilaungkan oleh seniman Voltaire, misalnya. M Yamin, siapa yang tak mengenalnya sebagai pujangga Balai Pustaka yang begitu menginspirasi dalam membangun kebangsaan Indonesia, misalnya melalui konsep Sumpah Pemuda 1928.

Tengok pula pencapaian seni Indonesia yang begitu menggelora setidak-tidaknya ditandai dengan kemerdekaan RI 1945 dan peristiwa berdarah 1960-an.

Di kawasan Melayu Riau, Soeman Hs pada gilirannya memegang tongkat penasihat daerah. Abdurrahman Sidik yang terkenal dengan syair ibaratnya, juga dikenal sebagai seorang mufti Kerajaan Inderagiri.

Banyak orang tahu, Raja Ali Haji, di dalam kerajaan berperan sebagai penasihat. Tak lupa pula, Ronggowarsito, yang merupakan seorang ningrat dengan pikiran yang melompat jauh ke depan. Bahkan Hang Jebat, seorang prajurit tangguh, dalam ‘’Hikayat Hang Tuah’’, juga dikenal sebagai seorang penyair handal—salah seorang pengagumnya adalah Sultan Mahmud yang kemudian hari menjadi musuh utamanya.

Tentu saja, keperluan karya seni terhadap politik adalah keperluan kreatif. Makanya, di dalam sastra misalnya, orang mengenal bagaimana suatu bentuk karya kreatif itu mengolah persoalan-persoalan politik. Sebutlah nama semacam Boris Pasternak dan Marquez, bahkan Pramoedya Ananta Toer, Muchtar Lubis, sampai sastrawan Riau terkini yang dengan begitu amat memikat mengolah politik sebagai bahan kreatif.

‘’Syair Ikan Terubuk’’, begitu memesona sebagai suatu metofora tentang jatuh bangun Siak dalam menghadapi intervensi asing. ‘’Apa pula kurangnya Bujang Tan Domang yang didedahkan Tenas Effendy atau tutur-tuturan Pak Ganti, Wak Setah dan Taslim di sepanjang Sungai Rokan,’’ tulis Wahab.

Bagaimana seni di medan tempur, tak terbilang banyaknya yang dapat dicatat. Dalam perang Riau, Raja Haji menyertakan joget dalam rombongan perang, sementara syair-syair di Aceh menggelorakan semangat juang pemuda. Seorang sahabiah paca zaman Rasulullah SAW, justeru membekali empat anaknya dengan syair yang berlandaskan iman. Setelah keempat anaknya syahid, begitu tulus ia berkata bahwa hal itu hanyalah pengorbanan yang tak seberapa.

Agaknya, di sisi lain, itukah yang menyebabkan seni senantiasa dipandang sebagai sesuatu yang patut ‘dicurgai’ oleh penguasa. Nasib tragis ini begitu banyak dialami seniman, di Indonesia pun demikian seperti yang dialami Pramoedya dan WS Rendra. Politik menjadi musuh yang dengan tangannya menjangkau sendi-sendi kehidupan lain. Ini ditambah oleh sifat politik yang senantiasa ingin berkuasa.

Dalam keadaan demikian, mungkin bukan sesuatu yang bijak mengajukan pertanyaan, apakah seniman perlu terjun ke alam politik praktis. Sebab hal itu adalah hak pribadi. Tetapi yang pasti, masih begitu banyak kesenimanan yang harus diperjuangkan melalui jalur politik. Bayangkan saja, bangsa yang katanya berbudaya ini, sampai sekarang belum memiliki undang-undang kebudayaan, apalagi undang-undang percabangan seni lain. Seniman seolah-olah tidak termasuk dalam kelompok warga negara.

‘’Ya, hubungan seni dengan politik seperti wajah dengan berbagai rupa: paradoks, ironis dan entah apa lagi istilah yang lain, betapapun keduanya berada serumah bahkan sekamar. Mungkin inilah agaknya yang menyebabkan, pembicaraan tentang seni dan politik, senantiasa menjadi sesuatu yang tetap dapat mengemuka dan berkembang,’’ tulis Wahab.***

comments powered by Disqus