Minggu,20 Agustus 2017 | Al-Ahad 27 Zulkaedah 1438


Beranda » Seniman & Budayawan » Said Parman

Koreografer Tari Makyong

Said Parman

Redaksi | Senin, 21 Desember 2009 20:18 WIB
Said Parman

Tak banyak birokrat yang menyukai seni, apalagi seni tradisi. Said Parman adalah satu di antara yang sedikit itu. Latar belakang pendidikannya sebagai calon guru SD, serta keterlibatannya dalam semacam program revitalisasi makyong pada 1978/1979, menjadi semacam jalan pembuka. Setelah ikut bermain makyong dan sempat tampil di beberapa tempat, benih kecintaan pada seni tradisi ini pun terus tumbuh.

Makyong sebagai salah saru bentuk seni tradisi Melayu yang masih tersisa di Kepulauan Riau memang menyedot minat dan kepedulian Said. Baginya, makyong adalah semacam roh yang menyimpan jejak dan tapak kemelayuan masa lampau yang masih tetap aktual untuk disimak, digali, dan dimaknai ulang di tengah alam Melayu kini. Ketika Asosiasi Tradisi Lisan dipercaya pemerintah menggarap usulan ke UNESCO agar seni makyong masuk sebagai Memory of the World. Sejak bersentuhan dengan makyong, Said remaja sudah terobsesi untuk menceburkan diri di sini.

Sejak itu pula, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ), kini Institut Kesenian Jakarta yang berada di lingkungan Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta menjadi impian dan harapan Said, namun ia tidak memiliki uang yang cukup dan akhirnya ia memutuskan untuk mendaftar di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) pada jurusan Komposisi Tari. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana muda, kemudian seiring perubahan status ASTI yang melebur dalam Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarya, Said melanjutkan ke jenjang S1 pada jurusan yang sama. Gelar sarjana seni akhirnya ia raih pada 1987.

Bersama sastrawan BM. Syamsuddin (alm), pada awal 1990-an, Said ditunjuk oleh Kepala Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Riau untuk menggali khizanah seni tradisi makyong yang sudah tak lagi terdengar keberadaannya. Untuk itu, selama sekitar tiga bulan dia harus “nyantrik” di rumah Pak Khalid, tokoh makyong yang masih tersisa di Pulau Mantang Arang. Bukan saja untuk menggali cerita dari Pak Khalid tentang makyong berikut ritual dan seni pertunjukannya, tetapi yang lebih penting dari proses nyantrik itu adalah untuk menyerap roh makyong.

 
Sebagai koreografer lulusan ISI Yogyakarta, pola-pola gerak tari makyong ia sempurnakan, meski tidak mengubah pakem yang sudah ada, Said percaya bahwa makyong sebagai seni tradisi juga memiliki kekenyalan. Topeng makyong diyakini tetap menjadi kekuatan. Tetapi dialog dalam lakon kisah masa lampau yang dihadirkan juga perlu disikapi dengan semangat kekinian. Dalam konteks seni pertunjukan, aspek ritual dan profan acap kali memang jadi kabur.

Karena itu, ketika berperan sebagai tokoh Awang Pengasuh dalam setiap pentas makyong yang ia ikuti, Said mengaku bisa leluasa berimprovisasi sekaligus menyerap roh makyong hingga ke dasar. “Kita harus melihat makyong dengan nurani, karena ia percaya kita semua adalah pewaris dan pembuat tradisi”.

 

Biodata

Nama :  Said Parman
Lahir :
Sungai Pinang, Lingga, Kepulauan Riau, 29 Oktober 1960

 
Pendidikan :

SD Negeri 85 Raya Singkep (1975),

SMP Negeri 1 Dabo (1978),

SPG Negeri Tanjung Pinang (1981),

Akademi Seni Tari / ASTI Yogyakarta (1984),

S1 Komposisi Tari ISI Yogyakarta (1987)

 

Profesi :

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Sosial Kota Tanjung Pinang (2008),

Kepala Dinas Pariwisata Kota Tanjung Pinang (2003-2005),

Penari Makyong,

Koreografer

 

Karya :

Komposisi Kompang Berarak (1993),

Tari Topeng Makyong (1994),

Tari Sentak Belang Kaki (1994),

Tari Kipas Mendu (1995),

Tari Jebat Gugat (1997),

Tari Tahta (1998),

Tari Makosuik (1999),

Tari Jegau (2000)

 

Sumber : www.tamanismailmarzuki.com

 

comments powered by Disqus