Rabu,28 Juni 2017 | Al-Arbi'aa 3 Syawal 1438


Beranda » Seniman & Budayawan » Taufik Ikram Jamil

Seniman Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 2003

Taufik Ikram Jamil

Redaksi | Minggu, 06 Desember 2009 09:06 WIB
TAUFIK IKRAM JAMIL lahir di Telukbelitung, Kabupaten Bengkalis, Riau, pada 19 September 1963. Ia mengenyam pendidikan mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Bengkalis. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Riau (PSBSI FKIP Unri), dan selesai tahun 1987.

Selain dikenal sebagai seorang cerpenis dan penyair, Taufik Ikram Jamil juga dikenal sebagai jurnalis. Ia bahkan lebih dulu dikenal sebagai sastrawan berkat cerpen-cerpennya yang dipublikasikan di media-media nasional, seperti Kompas, Berita Buana, majalah Amanah dan sebagainya. Ia memulai karier kewartawanannya pada tahun 1983 sebagai wartawan di mingguan Genta, Pekanbaru. Tahun 1988,  ia  pindah ke Kompas dan sempat ditugaskan selama beberapa tahun di Jakarta.


Pada tahun 1991, ia mendirikan Yayasan Membaca yang bergerak di bidang kebudayaan. Yayasan ini kemudian menerbitkan jurnal Menyimak yang memuat karya-karya sastrawan setempat. Kemudian, tahun 1999, yayasan ini bermetamorfosis menjadi Yayasan Pusaka Riau yang bergerak dalam berbagai bidang, di antaranya kebudayaan, penerbitan, dan kesenian. Pada tahun 2002, ia berhenti menjadi wartawan di harian Kompas untuk mencurahkan pikiran dan ide-ide kreatif demi kemajuan seni. Pada tahun itu juga ia mendirikan dan mengetuai Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) di Pekanbaru, satu-satunya akademi kesenian di Sumatera. Tahun 2002–2007 ia terpilih sebagai ketua Umum Dewan Kesenian Riau (DKR).

Dalam dunia kesusasteraan, Taufik Ikram Jamil banyak menghasilkan karya yang telah dimuat dalam berbagai media cetak seperti Riau Pos, Kompas, Berita Buana, Republika, Suara Pembaruan, Kartini, Horison, Kalam, Jawa Pos dan Ulumul Qur‘an. Kumpulan puisi sulungnya adalah Tersebab Haku Melayu, kemudian menyusul kumpulan cerita pendek Sandiwara Hang Tuah, Membaca Hang Jebat, dan roman Gelombang Sunyi. Adapun karya sastranya yang berisi tentang sejarah terhimpun dalam berbagai antologi di Pekanbaru, Jakarta, Yogyakarta, Lampung, Makassar, Surabaya dan Kualalumpur, misalnya Negeri Bayang-bayang dan Soeharto dalam Cerpen Indonesia, serta antologi cerpen dalam bahasa Inggris Menagerie 4. Seorang pakar sastra Belanda, Dr Will Derks telah membahas karya-karyanya dalam sebuah bunga rampai tentang pembangunan Asia yang diterbitkan di London  tahun 1998.

Melalui karya-karyanya, Taufik Ikram Jamil semakin terkenal, sehingga ia sering mendapat undangan untuk menghadiri berbagai event sastra di dalam dan luar negeri. Tahun 2001, ia mewakili Indonesia untuk membaca sajak bersama penyair dari sepuluh negara dalam International Poetry Festival yang diselenggarakan Majelis Sastra Asia Tenggara. Ia juga pernah menjadi pembicara dalam berbagai seminar di beberapa kota besar, di antaranya Jakarta, Bogor, Johor Baru, Kualalumpur dan Leiden.

Karya-karyanya, untuk buku puisi, adalah Tersebab Haku Melayu (Yayasan Membaca, Pekanbaru, 1994), Negeri Bayang-bayang (antologi puisi, Pekanbaru, 1996). Sementara untuk cerpen-cerpennya, ia mengumpulkannya dalam Sandiwara Hang Tuah (Grasindo, Jakarta, 1996), Hikayat Batu-Batu (Kompas, Jakarta, 2005), Jumat Pagi Bersama “Amuk” dan  Membaca Hang Jebat (Grasindo, Jakarta, 1995), antologi cerpen Soeharto dalam Cerpen Indonesia (Penerbit Bentang, Jogyakarta, 2001), antologi cerpen dalam bahasa Inggris Menagerie 4. Untuk roman, Taufik Ikram Jamil telah melahirkan Gelombang Sunyi (Kompas, Jakarta, 2001), Hempasan Gelombang (Kompas. 1999). Satu bukunya yang lain, Dari Percikan Kisah, Membentuk Propinsi Riau, merupakan buku sejarah (Yayasan Pusaka Riau, Pekanbaru, 2001).

Atas karya dan jasa-jasanya pada sastra dan budaya, Taufik Ikram Jamil telah dianugerahi beberapa penghargaan, di antaranya dari majalah Horison untuk kategori cerpen terbaik berjudul Menjadi Ratu (1997), dari Yayasan Sagang untuk kategori karya budaya terbaik berjudul Sandiwara Hang Tuah (1997), dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk kategori cerpen utama Indonesia berjudul Jumat Pagi Bersama ”Amuk” (1998). Dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sebagai juara harapan II dalam sayembara penulisan roman berjudul Hempasan Gelombang (1998), dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) untuk kategori sastra terbaik berjudul Membaca Hang Jebat (1999), dari Yayasan Sagang untuk kategori seniman terbaik (2003).

Ia menikah dengan Umi Kalsum dan dikaruniai tiga orang anak, Tuah Kalti Takwa (sulung), Megat Kalti Takwa dan Nadim Kalti Takwa. @
comments powered by Disqus