Sabtu,19 Januari 2019 | As-Sabt 12 Jamadil Awal 1440


Beranda » Melayu Serantau » Mengukir Kalam Menjadikan Puisi, Tak Sekedar Jadi

Mengukir Kalam Menjadikan Puisi, Tak Sekedar Jadi

Oleh: H Abdul Kadir Ibrahim | Senin, 13 April 2015 16:13 WIB
H Abdul Kadir Ibrahim

Dalam menulis puisi, menyadari, memanfaatkan dan memaknakan peristiwa atau apa-apa yang berlaku (terjadi) dan hadir di dalam pandangan ataupun ingatan, sepatutnya bukan main-main atau hanya sekedarnya (makna “sekedar” tak sama dengan “se-kada-dar”). Bila mendudukkan diri dengan segala potensi terhadap hal-ikhwal yang baru kita katakan itu, maka nisca-yalah dapatlah melahirkan sebuah puisi yang lazim dikatakan puisi.

Puisi-puisi yang disiarkan Tanjungpinang Pos setiap Ahad selama bulan Maret 2015, sejatinya telah memberi ruang kepada pikiran dan harapan kita, betapa puisi masih terus ditulis. Sebagai tak berlebihan bila dikatakan puisi-puisi yang disiarkan itu sebagian besar menunjukkan sebagai puisi yang beridentitas. Eloklah kita berharap pada masanya nanti para penulisnya akan dikenal sebagai nama-nama yang dileretkan sebagai kesinambungan kepenyairan Indonesia modern.

Puisi yang disiarkan Tanjungpinang Pos (Ahad, 1 Maret 2015), “SETIAKU” karya Muh. Husain Achmad. Kita tidak tahu berapa usia penulis “puisi” ini. Namun bila kita baca seluruh kata dalam kalimat dan baik-bait yang dirangkaikannya, demikian kentara bahwa dia seperti masih muda-belia. Kata-kata yang dituliskannya sejatinya belumlah sebagai puisi sebagaimana dikenal secara umum dan “baku” melainkan baru setakat luahan dan tumpahan “kepedikan” hati sebagai tersebab disakiti seseorang (mungkin kekasih).

Namun demikian, kita menaruh harapan besar kepada Muh. Husain Achmad untuk kelak, suatu ketika benar-benar melahirkan karya-karya puisi yang bernas dan membumi dengan segala kekhasan dan identitasnya. Ini dapat kita taruhkan harapan, karena dari enam bait kata-kata yang dirangkaikannya, ada satu bait, yakni bait ketiga dapatlah telah menampakkan corak apa yang dinamakan puisi. Sayangnya bait-bait yang lain tidak diikhtiarkan sedemikian rupa oleh sang penulis, sehingga menjadikan tujuan menulis puisi belum tercapai.
Bait ketiga itu, sudah demikian memadainya sebagai sebuah puisi. Sayang…/ Di sini nadiku tersayat belati rinddu/ Sekarat karena sakau akan cintamu/ Seakan pisau tajam tertancap abadi dalam relung hati/….. Jika keseluruhan puisinya itu dibangun dengan kata-kata yang serupa itu, tentu puisinya menjadi mengena dan mengesankan.

Selanjutnya puisi Iffah Affkarin yang berjudul “KAMU” dan “IA YANG PENGECUT”. Kedua “puisi” yang ditulisnya benar-benar termasuk dan betapa jelas-telanjangnya sebagai tumpahan atas kemarahan dan kebencian yang dikecewakan, alias dihianati cintanya. Kita hanya berharap, di masa mendatang tulislah “kepedihan” cinta atau apapun namanya, dengan rangkaian kata-kata yang pada wujud dapat dikatakan tergolong dalam kelompok puisi.

Puisi “CINTA ITU MASA LALU” karya Alfye S Puteri. Wau, demikian berbedanya mengungkapkan hal-ikhwal terkait dengan “cinta” yang dialami atau dilaluinya. Betapa kata-kata yang dipilih, disusun dan ditampilkan dalam baris-baris, kalimat, bait demikian mengena dan betul sebagai mencitrakan suatu puisi. Sebagian besar kata-kata yang dipilihnya sebagai mewujudkan perlambangan-perlambangan yang menjadikan setiap baris puisinya menjadi kuat, terasa menghujam dan mengesankan. Puisinya memberi rasa kepada cinta bagaimana menggelorakan cinta, meskipun telah menderita kecewa tersebab cinta itu sendiri.

Menyekat ruang di hati/ Menyimpan memori tentang kami/ Aku, kau dan dia/ Terikat dalam satu cinta// Aku merenung di kala malam/ Saat bulan tak indah dipandang/ Lalu awan hitam terus menerjang// Penatku tak pernah hilang/ Terus terayun-ayun dalam pikiran/ Fantasi liar dari segala kesalahan/ Kau dan dia hanyalah kenangan// Lalu kemana lagi harus kuberlari/ Mencoba mencabik tembok yang tak bertepi/ Seolah kuku-kuku ini adalah tembok besi/ Aku sakit sendiri.

Selanjutnya ada pula puisi “MATI MEMATIKAN” karya Ibeng. Puisi Ibeng ini bukan beranjak dari kepahitan cinta, melainkan tentang “peristiwa” alam. Sayangnya, penulisannya samalah kenyataannya seperti yang ditulis Iffah Afkarin. Padalah berbagai “peristiwa” atau kejadian yang bersangkut dengan alam, betapa dapat ditulis dengan hebat dalam suatu puisi. Hanya saja diperlukan sangat secara mendalam pemikiran dan perenungan serta pengetahuan bagaimana menulis puisi.

Puisi-puisi dalam (Tanjungpinang Pos, Ahad, 15 Maret 2015) karya Hamami Fadjri berjudul “FOR MY BELOVED WIFI”. Sejatinya hanya sebagai “ucapan terima kasih” terhadap WIFI. Mudah-mudahan nanti suatu masa ada dan keras kemauan serta ikhtiar untuk berlatih menulis puisi, sehingga wujudlah puisi yang dapat dihidangkan di tengah laman puisi.

Kemudian puisi “SATU MALAM DI JALAN BRAGA” karya Sufiano. Mmmm. Empunya nama Sufiano benar-benar memaknai Jl Braga di “Kota Kembang” Bandung. Kebetulan saya pun pernah berbulan-bulan tinggal di jalan itu dalam tahun 2005 tatkala mengikuti Diklat Kepemimpinan yang ditaja Depdagri RI. Betapa penulis kita ini berhasil dan mampunya memindahkan apa-apa yang ada, tampak dan berlerat di jalan tersebut dalam jalinan kata dan kalimat sehingga ianya menjadi sejatinya puisi. Betapa kata-kata pilihan berhasil diungkaikannya dengan betapa jelasnya pula sebagai metafora. Suatu puisi dari “kenyataan” yang sebenarnya bila dibabitkan-kaitkan dengan “Periyangan” ataupun “Kota Kembang” Bandung adalah pedih dan perih, tetapi sebagai suatu puisi yang indah dan mengesankan.
Hamparan braga terbentang batu-batu alam/ diselimuti dingin gemerlap cahaya lampu/ tumbuh berserakan bunga-bunga dunia/ bercengkrama terselip cinta sesaat/ dari caffe trotoar sang juru parkir/ tak henti-hentinya melayani tamu bergentayangan/ senandung kecapi terseok-seok tarian jemari/ tergerus alunan barat menepis periyangan/ sedikitpun tak merasa prihatin/ campu dan bajigur takada lagi bersanding/ berselempang sarung berkebaya lugu/ hanya seronok hamburger empuk dimanjakan/ dompet tebal saweran bergizi/ tertatih-ptatih mengembalikan periyangan asli/ filter tameng di hati sendiri.

Selanjutnya puisi “DOAKU” karya Rachmat Purnanto. Secara keseluruhan dari kata-kata dan baitnya semata-mata sebagai suatu doa kepada Yang Maha Kuasa. Sebenarnya, puisi pun dapat ditulis sedemikian rupa yang seolah-olah doa kepada Tuhan. Tapi tentulah bukan sebagai doa yang lazim disampaikan di tengah orang ramai. Kemudian puisi “TAK AKAN SAMA” karya Derista. Sebagaimana juga puisi tersangkut cinta, yang sekedar meluahkan kepahitan atau kekecewaan cinta. Hanya melepas itu saja.

Dalam Tanjungpinang Pos, Ahad 22 Maret 2015 terdapat puisi dua puisi Didit Maulana yang berjudul “HARIMAU PEKAT” dan “DARAH RETAK”. Ini dia lagi-lagi kita merasa gembira, karena kedua puisi Didit yang sebenarnya pendek, singkat tetapi memang ianya puisi. Betapa metafora “harimau” dan “darah yang retak” luar biasa dibangun dengan kata-kata. Dapat terasa sekali, memukau dan sejatinya mengesankan.

Demikianlah pula halnya dengan puisi “HANCUR DALAM EMOSI” karya Andi Pratama, “PEMILIK HATI” karya Fadhli M, dan “PANGERAN BERPECI PUTIH” karya Qinita Ash-Shofa. Ketiga nama ini mengangkat perihal cinta, tetapi sudah boleh dikatakan berhasil memunggahnya dari “dunia kata-kata” lalu menyinggasanakannya ke dalam suatu puisi. Hanya saja diperlukan kerja keras lagi agar puisi-puisi yang ditulis, sekalipun dari kepahitan cinta, tetapi tetap dimaknakan sebagai puisi.

Puisi pekan terakhir bulan Maret, Tanjungpinang Pos, Ahad, 29 Maret 2015 memuat karya Miss Gita Malhotra dengan puisinya “ILALANG KUSAM”, Riza Aulia Akfiyani dengan puisinya “SEPI” dan Najma dengan puisinya “KASIH”. Adalah Miss Gita Malhotra sudah meyakinkan arah penulisannya untuk bertengger sebagai seorang penyair. Pun Riza Aulia Akfiyani dan Najma.

Betapa Miss Gita menemukan kata-kata dengan segala metafora-nya, yang mementaskan di angkasa baca bahwa puisinya berwarna dan berjatidiri. Cuplikan puisinya … // Pudaran angin sepoi itu pelindungku, sungai nan indah itu maduku/ Tak ada daya upaya selain nakhida prau/ Aku yang ilalang penuh debu/ Bermuka kusam mengharap ratapan bunga mawar. Kutipan puisi Najma yang berjudul KASIH. Kelabu malam sudah seperti pendamping hidupku/ Menaruh kepercayaan pada kunang-kunang/ yang bercahaya pada saat itu/ Menyimpan sedih senangnya lembaran kehidupanku….// …..

Demikianlah ulasan kita untuk puisi-puisi bulan Maret. Di samping kita berharap lahir, muncul dan tampil penulis-penulis puisi semakin ramai yang karyanya dimuat di harian ini, kita berharap banyak pula, agar jajaran Redaksi Tanjungpinang Pos dapat memberi balasan kebersamaan atas karya-karya yang sudah ditulis. Dalam bahasa sederhana, jika honorarium dari sebuah puisi jauh lebih sepadan, niscayalah akan banyak penulis puisi dengan puisi-puisi yang berkulalitas ikut meramaikan laman sastra kita ini. Semoga! ***

 

Source: http://www.tanjungpinangpos.co.id/2015/115976/mengukir-kalam-menjadikan-puisi-tak-sekedar-jadi/

comments powered by Disqus