Senin,23 Oktober 2017 | Al-Itsnain 2 Safar 1439


Beranda » Melayu Serantau » Dorong Bahasa Melayu Jadi Bahasa Internasional

KONGRES BAHASA MELAYU

Dorong Bahasa Melayu Jadi Bahasa Internasional

| Senin, 15 Juni 2015 11:45 WIB

BATAM (RIAUPOS.CO) - Kongres Bahasa Melayu pertama yang digelar di Batam, Ahad (14/6/2015) hingga Senin (15/6) di Planet Holiday Hotel Batam dan diikuti enam negara sahabat berfokus untuk mengangkat derajat Bahasa Melayu sebagai bahasa internasional.

"Kita tahu bahwa Bahasa Melayu merupakan bahasa yang penggunanya terbanyak nomor empat setelah Cina, Inggris dan Spanyol. Melalui kongres ini, akan digagas agar bahasa Melayu jadi bahasa Internasional," kata Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan, Ahad (14/6/2015).

Karena itu, dia ingin agar bahasa Melayu juga mendunia layaknya bahasa lain di dunia tersebut. Karena itu, diperlukan suatu kesepakatan dan kompromi antar negara pengguna Bahasa Melayu untuk menjadikannya bahasa yang kian kokoh.

Saat ini, ujar Wali Kota, empat negara seperti Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam resmi memakai Bahasa Melayu. Seperti diketahui, bahasa Indonesia yang kita gunakan sehari-hari juga berasal dari bahasa Melayu. Selain menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pemersatu.

Sementara budayawan sekaligus Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Al-Azhar mengatakan, dalam kongres ini fokus memperkuat peran bahasa Melayu. Menurut Azhar, ada kekhawatiran lantaran masyarakat pengguna bahasa Melayu mulai mencampur adukkan bahasa asing.

"Ada perasaan bahwa masa kini cukup berjarak dengan bahasa Melayu sebagai bahasa adab sopan santun," katanya.

Selain itu, lanjut Al-Azhar, saat ini, orang hanya akan bertumpuh di bahasa Melayu Sebagai fungsi komunikasi belum merambah sebagai bahasa pendidikan. Untuk menjadi bahasa dunia, tentu bahasa tidak cukup dengan aspek jumlah pengguna akan tetapi juga terkait bahasa ilmu pengetahuan.

"Melalui kongres ini kita menggali kekuatan bahasa melayu sebagai bahasa ilmu pengetahuan sehingga bisa dijadikan bahasa internasional," katanya.

Kongres ini diikuti oleh negara-negara yang memiliki kaitannya dengan sejarah Melayu. Selain Indonesia, enam negara yang mengikuti kongres yakni Malaysia, Singapura, Brunai, Thailand, Kamboja dan Filipina.

Sementara pembicara dalam kongres ini merupakan budayawan Melayu seperti Prof Zainal Abidin dari Malaysia, Dr Abdul Latif, Dr Abdul Malik, Dr Hamiding Sanur, Dr M.Noh Dafi, Aswandi Syahri, Dr Zan Musa dan Prof Dr Mahsun. Sementara kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketual LAM Riau, Al-Azhar dan Samson Ramba Pasir.

Sementara itu, akademisi Melayu, Zainal Abidin yang datang langsung dari Malaysia mengungkapkan bahwa bahasa Melayu sejauh ini dalam proses mengilmukan bahasa Melayu. Di mana saat ini timbul kehawatiran dan mulai tergerus oleh bahasa asing.

"Kami di Malaysia sedang menghadapi masalah ini. Kita sedang berusaha mengembalikan lagi bahasa Melayu," katanya.

Malaysia, kata dia, sebelumnya berfikir dengan bahasa Inggris akan lebih maju. Namun, kenyataannya tidak demikian. berkaca pada Jepang dan Cina yang ternyata maju dengan menggunakan bahasa mereka sendiri.

"Di Thailand sudah berjalan dari dua tahun lalu untuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa ilmu pengetahuan, kita harapkan negara lain demikian," katanya.(rna)

comments powered by Disqus