Minggu,20 Agustus 2017 | Al-Ahad 27 Zulkaedah 1438


Beranda » Melayu Serantau » Tanjungpinang Ini Tiba-tiba Lenyap (HABIS)

Tanjungpinang Ini Tiba-tiba Lenyap (HABIS)

| Kamis, 07 Mei 2015 10:52 WIB

Peradaban Baru

Oleh :  Musliha

SEMUA-semuanya kehilangan semangat, tiba-tiba terdengar tangisan bayi. Rupanya ada ibu yang melahirkan. Sayangnya ibunya tak terselamatkan. Lima menit kemudian, terdengar lagi tangisan bayi yang berbeda, dari ibu yang lainnya. Takdir berkata sama, ibunya pun meninggal dunia. Entah di mana suami-suaminya, mungkin hilang bersama Atlantis. Kedua bayi itu memecah keheningan, pecahan itu berubah menjadi penyemangat dan harapan. Membuat ratusan orang berkumpul di tepi pantai itu, tempat pertama kali mereka terdampar di pulau tak berpenghuni. Karena kedua bayi inilah, sisa Atlantis yang hilang mencoba bangkit kembali.

“5 tahun berlalu. Telah berdiri banyak rumah-rumah sederhana. 10 tahun, sudah mulai banyak fasilitas seperti taman dan tempat pendidikan. 15 tahun, pernikahan-pernikahan telah menghasilkan banyak penerus. 17 tahun berlalu, ‘Kapten, mari ke sini! Lihat rusa itu!’, berbisik seorang pemuda pada temannya. ‘Siap, Komandan!’, juga dijawab berbisik oleh yang diperintah tadi. Walau seorang wanita, tapi dalam urusan berburu ia tidak kalah hebatnya.”
“Adinda sekalian, ayo, coba tebak siapa mereka? Siapa Kapten? Siapa Komandan?”
“Bambang Pamungkasya Bang?”
“Ish, meranyah! Kan tadi dibilang seorang wanita.”
“Tahu, akh!”
“Komandan untuk perang ya Bang?”
“Kalau yang Kapten, masa’ Kapten sepakbola cewe, Bang?”
“Masa’ iya di lapangan sepakbola ada rusa?”
Rusuh sekali mereka menjawab. Masing-masing mempertahankan argumentasinya. Masing-masing punya jawaban tersendiri. Masing-masing tidak mau kalah. Pemuda itu tersenyum senang melihat antusias anak-anak. Sedangkan aku belum beranjak mau pulang. Masih mau istirahat, duduk di taman ini. Mengeluarkan sebatang kretek dari bungkus, lantas membakar-nya sambil tetap memperhatikan dan mendengarkan cerita Atlantis ini. Aku tahu bahwa ini bohong, omong-kosong! Tapi tak salah bila aku menyimaknya, bukan?

“Iya, ya. Jawaban Adinda sekalian benar. Hanya saja belum tepat. Itu adalah dua bayi tadi yang kini telah beranjak dewasa. Ya, Kapten itu memang seorang wanita. Dan Komandan itu, iya itu tadi, lelaki. Nama itu sebenarnya hanya julukan saja, karena Kapten kita yang cantik itu seringkali bermain di pantai. Bercita-cita ingin menjadi Kapten kapal induk pencari hasil laut untuk seluruh rakyat.

Sedangkan Komandan kita, ia lebih suka di hutan, perbukitan, pegunungan, berburu, juga untuk konsumsi seluruh rakyat. Beda usia mereka hanya 5 menit. Yang lelaki itulah yang lahir duluan. Mereka berdua sangat dekat, seperti teman, seperti sahabat, seperti kakak-beradik. Pada sore hari, seringkali mereka berdua duduk di atas bukit memandang laut. Bercerita hasil tangkapan. Bercerita hasil buruan. Malah terkadang mereka sering berburu bersama di hutan. Tapi belum pernah berlayar bersama di lautan. Si Komandan itu kurang suka berada di laut. Memang kurang lazim, ketika yang berlayar itu seorang wanita.”

Kretek melesat habis meninggalkan asap-asap polusinya yang seakan bersahabat baik dengan manusia padahal membunuh perlahan-lahan dengan hormatnya. Aku menarik tas mungil disebelahku dan menyandang-nya di tubuhku yang kekar. Aku melirik pada pemuda dan anak-anak manis itu, kutebarkan senyuman dan berlalu meninggalkan taman kota itu yang rasanya masih ingin aku duduk seraya mendengarkan Atlantis dari suaranya. Langkahku tenggelam di senja keabadian memanggil datangnya bulan.

Begitu miris di setiap langkah kakiku yang selalu menyaksikan begitu banyak anak jalanan yang harus membanting tulang membantu orangtuanya. Betapa sendu melihat penjual koran di marak-nya matahari. Begitu merdunya suara pengamen memecah kesunyian. Dan masih banyak lagi hal-hal di peradaban baru ini. Dan yang lebih parahnya seakan semua mata tertutup rapi. Dan aku disini hanya bertugas mengemban ilmu dan merasa egoisku tertantang di peradaban baru ini. ***

comments powered by Disqus