Senin,23 Oktober 2017 | Al-Itsnain 2 Safar 1439


Beranda » Melayu Serantau » Tanjungpinang Ini Tiba-tiba Lenyap BAGIAN 1

Tanjungpinang Ini Tiba-tiba Lenyap BAGIAN 1

Oleh : Musliha | Minggu, 03 Mei 2015 10:59 WIB

Peradaban Baru

Di taman kota ketika aku beristirahat untuk sejenak, setelah 45 menit perjalanan naik bus pulang dari kampus. Tidak jauh dari situ, sekitar sepuluh langkah tampak seorang pemuda berpakaian rapi dan sepertinya mapan. Ia sedang berdiri di tengah keramaian anak jalanan.

Anak-anak yang terpinggirkan dari megahnya peradaban itu duduk manis di atas lantai yang beralaskan tanah. Sedangkan Si Pemuda tadi seperti sedang orasi, terdengar jelas setiap ucapannya oleh telingaku.

Yang mereka lakukan menarik perhatian beberapa orang di taman ini. Sebenarnya tempat ini bukan hanya taman. Di sini juga menjadi terminal bis khusus mahasiswa tempatku berkuliah. Jadi wajar saja jika banyak mahasiswa yang sedang beristirahat atau sedang menunggu bis untuk ke kampus.

”Ayo, Dik, dimakanlah,” suaranya bersahabat. Seperti tahu benar mengurus anak kecil. Yang ditanya malah diam. Jikapun menjawab, jawabannya hanya dengan mengganggukkan kepala.

”Adik-adik,” Lantas ia ikut duduk di lantai tanah itu. Sekarang semuanya sama, yang berbeda hanya antara pakaian yang rapi bersih dengan yang kotor berdaki.

”Sambil makan, boleh Abang bercerita? lembut pandangannya menyapu satu-per satu wajah yang di depannya. Entah anak-anak itu memperhatikan atau tidak. Lihat saja sendiri, bukan main lahapnya mereka menyantap nasi kotak yang ada stempel dari restauran elite di kota ini.

Malah mereka lebih tampak seperti serigala yang mencabik-cabik daging buruannya, bengis dan rakus. Si pemuda menyeringai, tersenyum. Sepertinya ia memakluminya.

”Ya, Baiklah. Begini Adinda. Pernah dengar nama Atlantis?

”Pernah, Bang. Istana yang paling megahkan? anak yang paling kecil, juga paling botak kepalanya menjawab ringan. Ia-lah kini yang paling serius memperhatikan dari belasan anak lainnya. Itupun gara-gara makanannya telah lesap. Tiga menit, nasi kotak terbaik dari restauran terbaik di kota ini telah lesap sudah.

”Yap! Benar, Adinda. Dahulu, dahulu sekali, jauh jarak waktunya. Pada masa kejayaan Atlantis, negeri itu memang memiliki istana yang paling megah. Namun bukan hanya itu, masih banyak lagi yang megah lainnya. Rumah-rumah penduduknya saja lebih besar dari kantor Pak Gubernur. Taman-tamannya sangat luas. Taman di sana luasnya bahkan 20 kali dari taman yang kita duduki saat ini. Itu merupakan kota yang paling canggih pada zamannya. Di tempat lain belum ada yang seperti itu. Malah di tempat lain rumah penduduknya masih berbentuk gubuk-gubuk kecil.

”Dan semua itu, Adinda, itu adalah negeri kita. Namun sayang, istana beserta semuanya itu lenyap begitu saja. Hilang. Bayangkan begini Dik, ini andai-andai saja. Tanjungpinang ini tiba-tiba saja terjadi sebuah peristiwa, entah itu tanahnya berputar, terbalik seperti kapal karam. Entah tanahnya retak, membuat lubang raksasa lantas masuk ke dalam lubang itu. Atau tiba-tiba terjadi gempa bumi yang begitu dahsyat, mengakibatkan belasan gunung berapi meletus bersamaan, lalu tsunami, ombak tertinggi dalam sejarah kehidupan umat manusia menyapu Atlantis. Lantas tenggelamlah peradaban itu ke dasar samudera. Yang jelas, Tanjungpinang ini tiba-tiba saja lenyap. Taman ini hilang. Jalan beraspal itu hilang. Rumah-rumah runtuh dan lenyap. Habis, hancur semuanya termasuk istana. Menyisakan lima ratusan orang yang terapung di tengah lautan. Hanya mereka lah yang tersisa, hanya mereka yang selamat dari tragedi yang paling sulit untuk menjelaskannya. Bahkan oleh seorang profesor sekalipun.” Pemuda menghentikan ceritanya, memberi jeda beberapa detik.

”Uups, sebentar!” Ia membuka tasnya, mengeluarkan sekotak coklat. ”Ini, bagikan pada kawan-kawan semua!” Si pemuda menyerahkan pada si bocah berkepala botak yang langsung disambar, yang mungkin mengalahkan kecepatan cahaya. ”Abang lanjut cerita, ya,”.

Kini tampaknya semua anak-anak itu memperhatikan dengan takhzim si pemuda berbicara. Aku rasa penyebabnya juga sama dengan yang sebelumnya, makanan terbaik telah lesap tanpa sisa. Kini tinggal sebatang coklat di tangan mereka yang juga terbaik. Iklan dari coklat tersebut hampir ada pada setiap stasiun televisi.

”Profesor terhebat pun belum ada yang mampu menjelaskannya. Malah ada yang mengatakan itu hanya sebuah dongeng. Cerita yang hanya dikarang-karang. Tapi sebenarnya, ini adalah kisah yang paling nyata, Dik. Sama nyatanya seperti kehidupan saat ini. Dari 500-an itulah lahir peradaban baru. Mereka bangkit dari tragedi yang paling mengerikan. Yang pada akhirnya, yang juga menjadi bukti dari peradaban yang selamat itu, adalah kita. Kita yang saat ini sedang duduk bersama di sini.”

”Bang, istana itupun hilang ya? Walau masih kecil, mata anak itu tajam memandang. Mungkin hasil dari kehidupan jalanan yang membuatnya demikian.

”Ya, Dik. Hilang. Semuanya habis. Yang tersisa hanya 500-an orang tadi. Mereka bergerombol di tengah lautan, tanpa komando mereka menuju ke daratan terdekat. Dari sinilah kisah yang sebenarnya dimulai.”

”Oh, ya Adinda, masih mau mendengarkan kelanjutan kisahnya?

Kepala-kepala tegak, wajah yang penuh semangat, juga penasaran. Jarang-jarang mereka dikasih makan yang enak. Lalu mendengar cerita tentang kemegahan peradaban sambil nyemil coklat. Dan gratis. Sesaat, mereka merasa seperti anak-anak yang orangtuanya sangat kaya. Seluruh fasilitas di bumi ini terasa sengaja hanya untuk mereka, walau sesaat.

Dibandingkan dengan anak-anak yang lebih beruntung. Nonton tivi dengan kartun tercanggih. Cemilan yang termahal. Itu kalah. Sejatinya, anak jalanan inilah yang lebih beruntung saat ini. Dengan mendengar cerita secara lisan, anak akan lebih sempurna dalam mengembangkan imajinasi. Itulah kelemahan teknologi, yang hanya menciptakan manusia-manusia instan.

”Bang, kenapa Atlantis itu lenyap? Kalau memang bagus, kan harus dipertahankan!” Seorang putri kecil bertanya luguh. Matanya mengerjap-ngerjap.

”Uuu… Uuu… Itulah! Tak memperhatikan dari awal.” Entah siapa yang menyindir. Yang jelas juga dari putri lusuh yang juga duduk di situ.

Pemuda hanya tersenyum, sedikit tertawa. ”Adinda yang manis, boleh jadi itu peringatan Tuhan kepada umatnya. Jangan lupa ibadah. Jangan lupa menolong sesama. Boleh jadi itu kecerobohan rakyat Atlantis pada masa itu. Mungkin mereka tidak menjaga alam, lantas alam meradang. Itu bisa jadi, Dik.”

“Padahal, Dik. Di Atlantis itu semua telah ada. Indah. Tertata rapi. Pohon-pohon yang lebat menghijau. Air yang jernih. Bangunan-bangunan kotanya yang didesain sedemikian rupa. Bukan seperti di sini, coba Adik-adik lihat! Itu sampah berserakan. Taman yang ada sampahnya tidak ada di sana, Dik. Sebab di sana tidak dikenal apa itu namanya sampah. Semua sisa dapat diolah kembali menjadi benda-benda yang bermanfaat. Dan untuk istananya, pintu gerbangnya saja seluas taman ini. Sungguh besaaar dan megaaah, Dik.”

”Sayang ya, Bang? Hilang begitu saja.” wajahnya anak kecil itu cemberut. Melipat bibirnya.

”Ya, begitulah. Tapi, adanya tapinya Dik. Karena peristiwa itu. 500-an yang selamat itu membuat peradaban baru. Mereka bergotong royong, saling membantu untuk kembali sehebat dulu. Mereka dari nol Dik, dari tangan kosong. Yang hanya ada diri mereka hanya pakaian di badan. Harta benda telah tenggelam jauh di dasar samudera.”

“Eh, Bang. 500 orang itu membuat peradaban baru dimana? Kan katanya rumah, taman, istananya tenggelam ke laut, masa’ iya mereka berenang terus?”“Oh ya, Adinda. Abang lupa. Mereka mengapung bersama sisa kayu, papan, dan peralatan-peralatan rumah lainnya yang dapat timbul. Dengan itulah mereka mampu sampai ke tepi, ke daratan terdekat. Dengan kejadian itu, semula mereka hampir menyerah. Pasrah pada kematian. Mereka trauma, sedih atas banyaknya anggota keluarga yang hilang. Anak yang kehilangan orangtuanya. Istri yang kehilangan suami. Dan sebaliknya. Dan seterusnya. Tapi dasar keajaiban, pada hari kedua mereka terdampar.
(bersambung)

comments powered by Disqus