Minggu,17 Desember 2017 | Al-Ahad 28 Rabiul Awal 1439


Adonis

Marhalim Zaini | Senin, 10 Oktober 2016 11:10 WIB

Kini telah kukubur
hantu Sabtu
Kukubur hantu Jumat
Kini kuhempaskan selubung rumah itu
Kuganti patung
Tuhan batu
Tuhan abadi
Dengan Tuhan mati



Cuplikan puisi itu karya Adonis, salah satu penyair besar Arab setelah perang dunia kedua. Adonis kerap dicap kontroversi, bahkan murtad, kafir. Oleh seorang profesor, ia sempat dijuluki “berhala kejahatan.” Apa sebab? Ide dan pemikirannya (terkhusus) dalam puisi misalnya, dianggap tak menghormati agama. Puisi-puisinya dianggap kerap menyerang status agama. Padahal, di sisi lain, kajian-kajiannya terhadap bahasa Quran, justru hendak  menunjukkan kekuatan literer dan estetiknya, yang dianggap sebagai pendobrak konvensi puisi Arab tradisional. Adonis menganggap Quran—setelah ia komparasi dengan teks-teks lain—telah memperluas genre puisi Arab yang ada.


Ihwal “puisi” dan “Quran” di sini, yang ditelaah Adonis, bukanlah tema baru sebenarnya. Itu hanya efek lanjutan dari “polemik” sejak lama, yang kemudian berujung pada bagaimana puisi sampai berada pada posisi “sekuler.” Kata “sekuler” dipakai untuk menjelaskan “Quran sebagai kitab suci agama Islam” pada posisi yang lain. Sehingga, perkembangan berikutnya, berujung pula pada “tuduhan sesat” bagi para penyairnya.


Elok kiranya, hemat saya, sesekali melihat tuduhan sesat atau tidak sesat itu dari konteks sejarah kebudayaan Arab. Bahwa ketika konflik kesukuan yang terjadi pada abad ke-7 di jazirah Arab, masa pra-Islam, yang memersatukannya kemudian adalah bahasa (puisi). Kenapa? Karena bahasa puisi Arab kuno yang dibakukan dalam bahasa arabiyya (dengan teknik, kaidah, dan standart yang ketat) itu, telah membentuk semacam identitas bersama, mengatasi ragam dialek yang tak saling dipahami.


Menurut Navid Kermani (dalam ceramahnya di Goethehaus, 2002), perlu waktu berpuluh-puluh tahun di bawah bimbingan seorang penyair kawakan untuk menguasai bahasa arabiyya ini, sebelum ia mendapat gelar sebagai penyair. Nah, ketika Muhammad datang membawa ayat-ayat Quran, rupanya juga dengan berbahasa arabiyya itu. Sehingga, awalnya penduduk Mekah menganggap Muhammad ini seorang penyair (seperti yang tertera dalam Quran 21 ayat 5). Dan tentu, di sinilah bermula “seteru” itu, sebab menganggap seorang Nabi sebagai penyair, adalah sebuah ancaman.


Meskipun dalam perkembangannya, masyarakat Mekah, bahkan para penyair dan ahli sastra, menyadari bahwa bahasa yang disampaikan oleh Muhammad itu sulit ditandingi, mempesona, indah, dan tak sama seperti sajak atau prosa biasa. Seteru semacam inilah kemudian yang membuat “Quran menyerukan Muhammad agar menjauhi para penyair” di masa itu. Puisi dan Quran seolah bersaing untuk sama-sama menguak jalan menuju tangga-tangga ilahiah. Maka muncullah, “Pengikut para penyair adalah orang-orang yang tersesat...”


Jadi, apakah sampai hari ini perseteruan itu masih terjadi? Sehingga, para penyairnya, di zaman kini, “dijauhi” oleh Quran, dan dinyatakan sebagai orang sesat? Saya kira, secara kasatmata, perseteruan itu telah tak tampak ada. Sebab kini, kesesatan seorang penyair, agaknya, tak lagi (semata) berkutat pada ihwal teks puisi, tapi pada prilaku “menyimpang” para penyairnya.***

comments powered by Disqus