Rabu,28 Juni 2017 | Al-Arbi'aa 3 Syawal 1438


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Kekinian dan Kedisinian

Kekinian dan Kedisinian

Marhalim Zaini | Senin, 26 September 2016 15:54 WIB

“Carpe diem...carpe diem...” Ingat frasa dalam bahasa latin ini, ingatlah kita pada film bagus, Dead Poets Society. Frasa itu diteriakkan oleh Mr. Keating, sang guru sastra di Akademi Welton, yang diperankan oleh aktor hebat Robin Williams. Guru, yang memberi “pencerahan” kepada siswanya, dengan strategi belajar yang tak biasa, ihwal bagaimana agar tak sekejap pun menyia-nyiakan waktu. Maka, teriakan “carpe diem” itu, adalah cambuk. Adalah provokosi untuk memaknai waktu: dengan memetik hari, merebut masa lalu, menggenggam masa depan, di hari ini, dan di sini. 

Saya kira, tidak terlalu berlebihan ketika frasa itu, seolah merasa mendapatkan “ruang hidup” dalam puisi—pun dalam sastra. Terlebih, dalam konteks, sebagai upaya memberi nyawa pada “waktu” yang berdenyut dalam karya sastra. Maka segeralah kita ingat judul novel Saul Bellow, Seize The Day. Pengarang asal Amerika pemenang Nobel 1975 ini, pun tengah menyoal waktu, menyoal hari. Menyoal bagaimana peristiwa-peristiwa yang sedang dinarasikan dalam karya sastra adalah peristiwa yang (memang) terjadi di sini, dan kini. Sebuah semangat untuk memaknai waktu tak semata sebagai sesuatu yang lewat begitu saja seperti kelebat kendaraan di jalan tol, tetapi—sebagaimana juga Plato—sebagai a unity of time.        

Benar, bahwa apa yang disebut sebagai “kesatuan waktu” itu (oleh Plato), kadang memang seperti kelebat. Ia seolah melintas dalam pikiran kita. Tetapi, kelebat yang tinggal dalam ingatan kita itulah, waktu. Dan bukan (sekedar) lintasan waktu. Ia telah singgah, dan menempati satu ruang dalam memori kita. Dan, kalau dirawat dalam konsepsi Bellow tentang the nowness and the hereness, terus-menerus, maka ia akan menetap, menjadi penghuni. Ketika ia telah menetap, maka ia akan hadir sewaktu-waktu dalam imajinasi puitik kita, begitu kita panggil ia menjadi kata, menjadi diksi-diksi, menjadi peristiwa, menjadi kesaksian-kesaksian. Saat itulah sesungguhnya, past, present, dan future itu, bersebadan. Tak lagi dapat kita urai dalam kotak-kotak, dalam frame yang terpisah.

Saya jadi ingat realisme dalam konvensi panggung teater modern. Peristiwa kekinian dan kedisinian itu dalam bahasa Kernodle, the here and now. Tentu mengandung maksud yang tak terlalu jauh berbeda. Meskipun, dalam konteks panggung teater, di sini dan sekarang itu lebih hendak menunjukkan bahwa peristiwa yang terjadi di atas panggung itu adalah peristiwa yang tengah terjadi sekarang dan di sini. Dan demikianlah realisme hendak meyakinkan kepada para penontonnya. Inti sebetulnya adalah keterlibatan itu. Teater realisme mengajak penontonnya untuk masuk dalam sebuah lingkaran peristiwa yang tengah dijalani bersama, dalam satu waktu, satu ruang bersama, bernama realitas.

Maka, pada tingkat tertentu, proses “keterlibatan” inilah sesungguhnya yang turut melahirkan sebuah karya seni. Keterlibatan antara pengkarya, pesan, dan pengkhayat. Keterlibatan yang hendak menyatukan “waktu” dalam sebuah “ruang” kontekstualisasi. Keterlibatan yang membuat sebuah puisi, misalnya, dapat lebih hadir sebagai representasi dari sebuah pergulatan si penyair dengan lingkungannya. Maka, ruang kosong itu memang tidak ada. Sebab—sebagaimana juga intertekstualitas—teks-teks puisi (sastra) senantiasa berkelindan dalam teks-teks yang telah terjalin sebelumnya, meski dalam ruang dan waktu yang berbeda. 

Dan, jalinan teks-teks itulah yang meramu kekinian (waktu) dan kedisinian (ruang), menjadi a unity of time. Sebuah proses konkretisasi, yang menegaskan bahwa peristiwa apapun yang terjadi dalam kehidupan kita ini, sesungguhnya tak bisa sepenuhnya berdiri sendiri, tak bisa terlepas dari relasi-relasi ruang dan waktu yang membangunnya.***   

comments powered by Disqus