Minggu,20 Agustus 2017 | Al-Ahad 27 Zulkaedah 1438


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Puisi sebagai Subjek

Puisi sebagai Subjek

Marhalim Zaini | Senin, 05 September 2016 09:11 WIB

CHAIRIL Anwar pernah bilang “sebuah puisi adalah sebuah dunia.” Maka sebagaimana layaknya “sebuah dunia” ia tidak kosong, bukan ruang hampa. Ia, dunia puisi itu,  ditempat-tinggali oleh sesuatu, sebut saja realitas. Tersebab ada realitas di sana, maka kemudian kita kerap terobsesi untuk menengok dan menelisik berbagai realitas yang ada “di dalam” puisi itu. Kita (pembaca biasa atau juga pengkaji sastra) seolah dituntut untuk berharap bahwa di dalam sana, ada pesan, ada amanat yang mulia, yang bisa memberi semacam pencerahan. Dan di posisi semacam itu, puisi pun menjadi objek.

Sebagai objek, ia kerap “diperlakukan” sebagai sebuah “dunia aneh” dan atau “dunia asing.” Berbagai pendekatan, melalui apa yang kerap disebut pembacaan kritis, dengan berbagai teori canggih dicoba oleh para pakar sastra, untuk memperoleh “realitas” dalam puisi itu dengan definisi-definisi tertentu. Definisi yang kelak, diharapkan dapat memberi pemahaman kepada “publik luas” bahwa puisi ini bicara tentang ini. Puisi itu, bicara tentang realitas itu. Definisi-definisi yang berupaya untuk “mengkonkretkan” yang abstrak, mendekatkan pada yang empirik.

Maka, hemat saya, inilah proses ulang-alik yang aneh, pun absurd. Dunia puisi yang berisi “realitas simbolik” itu, yang ditengarai diperoleh (penyairnya) dari realitas empirik, harus kemudian dikonkretkan kembali (oleh pembaca) menjadi sebuah realitas empirik. Teori komunikasi (pun semiotik) semacam ini--penyair-pesan-pembaca—memanglah sebuah proses saling memproduksi makna. Namun, jika begitu, dunia puisi adalah sebuah “mesin” yang memproduksi realitas empirik menjadi “realitas simbolik,” dan kemudian kerap “dipaksa” untuk kembali bicara yang empirik. Andai begini “perlakuan” kita terhadap puisi, maka “dunia puisi” hanya jadi tempat transit saja. Dunia puisi, tidak memiliki “kepercayaan diri” untuk berdiri sebagai dirinya sendiri, yang memang ditakdirkan untuk menjadi “simbolik.”  

Padahal, begitu “realitas empirik” masuk ke dalam mesin “realitas simbolik,” segalanya berbaur dalam ketidak-utuhan realitas. Yang empirik terburai serat-seratnya dalam elemen-elemen ruang yang halus, elemen-elemen waktu yang tercabik-cabik. Yang terburai dan tercabik itu saling bertemu, meramu realitas dengan makna-maknanya yang lain. Jika misalnya kemudian menemukan masa lalu di situ, itu adalah sebuah kelebat, yang boleh jadi melekat, juga bisa jadi hanya perekat. Perekat obsesi-obsesi penyairnya terhadap realitas. Apalagi masa depan. Dalam “dunia puisi” masa depan tak ada. Sebab, dunia puisi adalah dunia masa kini. Masa lalu dan masa depan, adalah masa kini. Maka, dengan begitu, sesungguhnya saya tengah menempatkan puisi sebagai subjek.

Saya lalu jadi teringat, pertemuan saya dengan seorang penulis novel, perempuan, yang juga memilih jadi spiritualis, beberapa waktu lalu di kaki Borobudur. Ia bilang, manusia adalah subjek yang dikelilingi oleh objek-objek. Sebagai subjek, tidak sepenuhnya “berkuasa” untuk dapat mengendalikan objek-objek itu, karena ia berada di luar kendali diri subjek. Saya menangkap, ia hendak juga mengatakan bahwa, semua yang di luar diri kita punya “sejarah” dan “takdir”-nya masing-masing. Dan dengan begitu, manusia, sebagai si subjek, menjadi tak terlalu kuatir pada kehilangan, pada segala yang akan tiba, segala yang datang dan pergi dengan tiba-tiba.

Jika kita menempatkan puisi sebagai subjek, maka kita pun tak perlu terlalu kuatir bahwa puisi akan “ditinggalkan” orang. Sebagai subjek, puisi berhak untuk mengendalikan dirinya sendiri. Andai puisi adalah subjek yang kuat, ia akan selalu bertahan di segala zaman, dan begitu pun sebaliknya. Maka, bisa jadi kita, para manusia dan alam, adalah objek-objek puisi. Sebagai objek-objek puisi, maka pendekatan kita terhadap dunia puisi tidak “kejam” dengan memaksakan analisa-analisa yang pejal. Tapi lebih kolaboratif; baik sebagai objek, maupun sebagai sesama subjek. Sehingga, posisi pembaca tak cukup merasa nyaman sebagai outsider saja, tapi sedapat-dapatnya masuk sebagai insider. Maka puisi, tak akan pernah duduk lagi di kursi terdakwa, diadili sebagai pesakitan, yang menunggu nasibnya ditentukan oleh para “pembaca otoriter” yang seolah menjadi pemegang “kuasa atas tafsir.”***

comments powered by Disqus