Selasa,21 Agustus 2018 | Ats-tsulatsa' 9 Zulhijjah 1439


Beranda » Kabar » Pengawal Tradisi Intelektual nan Ranggi

Haul Ke-VI Hasan Junus

Pengawal Tradisi Intelektual nan Ranggi

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru | Minggu, 01 April 2018 09:51 WIB

Bagi seorang Al azhar, Hasan Junus (HJ) adalah pengawal tradisi intelektual nan ranggi. Sosok periang yang brilian itu senantiasa menjulang kewibawaan Pulau Penyengat. Beliau sangat bersebati dengan tanah Inderasakti yang dikenal sebagai Taman Para Penulis.

JUMAT malam, 30 April 2018 beberapa saudara mara, kerabat, sahabat, rekan, dan muda-mudi sepangkat anak, bahkan cucu dalam dunia intelektual almarhum Hasan Junus, berkumpul di auditorium Anjung Seni Idrus Tintin. Mereka mengenang. Memantik ingatan masa lampau dan bernostalgia ke satu masa, di mana gairah berkreativitas seakan tiada batas. Pergaulan yang akrab dibumbui kelakar ala seniman membuat sosoknya sulit dilupakan.

Acara dimulai dengan sebuah tayangan video, adegan kecil dari naskah yang ditulis Hasan Junus, Burung Tiung Seri Gading. Adegan itu diperankan tiga orang aktor dan aktris muda Riau, Monda Gianes, Jefri Al Malay, dan Asma Aini.

Suasana yang dibangun terbilang sederhana dan penuh keakraban. Al azhar, bak ber-dramatic reading di atas panggung. Membaca teks (naskah) dengan penuh penghayatan. Ia ber-monolog-ria hingga hampir 60 menit lebih dengan latar video Pulau Penyengat, serta rekaman wawancara kerabat almarhum, dan sahabatnya Rida K Liamsi.

Teks yang dibacakan Budayawan Riau Al azhar itu mengisahkan sosok HJ dari masa ke masa hingga akhir hayatnya. Ketua MKA LAM Riau itu membuka kata dengan, wafatnya HJ pada 30 Maret 2012 dalam usia 71 tahun lebih 2,5 bulan. Ia pun mengutip Filsuf Walter Benjamin yang menulis dalam esainya berjudul "Der Erzahler" atau "Tukang Cerita". Di esai itu, sang filsuf berkata, "Pada saat kita mengetahui seorang kenalan dijemput maut, maka ingatan dari pengalaman kita bersamanya akan tampil seperti animasi..."

HJ sendiri datang ke Kota Pekanbaru pada Desember 1981 dan bergaul sangat akrab dengan seniman besar saat itu seperti almarhum Idrus Tintin, Ibrahim Sattah, dan BM Syamsuddin. Bahkan ketiga seniman besar itu menyatakan kepada Al azhar dan rekan-rekan seusianya, proses kesenimanan mereka bermula di Kepulauan Riau, terutama Kota Tanjungpinang.

"Di seberang bekas ibukota Riau pertama itu tercacak sebuah pulau kecil bernama Penyengat Inderasakti, tempat pujangga Raja Ali Haji lahir, besar, dan berkarya, dengan sejarahnya yang secara fragmentaris kami pelajari dari dosen kami, UU Hamidy," papar Al azhar.

Dilanjutkannya, perkenalan pertama, Al sudah mengetahui bahwa HJ sebagai anak jati Penyengat yang bertalian darah dengan sang pujangga besar Raja Ali Haji. Pada 1982, Al azhar dan 40 orang rekannya pergi ke Penyengat melakukan Kemah Sastra yang ditaja KNPI Riau. HJ memang tidak ikut, tetapi di Pekanbaru sempat membaca makalah yang dibentangkan oleh pembicara helat itu. HJ menyusun sebuah tanggapan tertulis yang panjang terhadap makalah tentang sejarah Kerajaan Riau-Lingga. HJ pun berpesan, meminta Rida K Liamsi (RDK) membacakannya. Saat RDK membacakannya di rumah Sotoh Masjid Raya Sultan Pulau Penyengat, Sang sejarawan berkeringat.

Dalam tanggapannya HJ mempertanyakan akurasi sejarah dalam makalah sejarawan itu, dan beliau membetulkannya begitu rinci. "Saya menjadi lebih yakin bahwa HJ adalah pengawal yang ranggi untuk tradisi intelektual. HJ amat menyadari bahwa sejarah adalah jaringan dinamis kejadian-kejadian yang bersumbu pada pikiran dan tindakan manusia di ruang ekologisnya. Kejayaan Penyengat abad ke-19 Masehi misalnya, bukanlah suatu yang berdiri sendiri, melainkan tersambung denganb tindakan-tindakan kesejarahan sebelumnya, dalam bentang luas alam Melayu.

HJ mempelajari itu dari masa yang kurang menguntungkan, setelah Kerajaan Riau-Lingga dibubarkan Hindia-Belanda pada 1911, dan masa suram keekonomian pasca-konfrontasi dengan



Malaysia. HJ menjadi fasih, bukan hanya tentang sejarah kampung halamannya, tapi juga jejaring yang mengantarkan Penyengat ke kegemilangan dan kemalapan sejarahnya. Dunia Melayu yang bersumbu di Selat Melaka.

Bahkan pada 1983, pada helat majelis pertemuan pakar sejarah dan budaya serumpun di Pekanbaru, HJ membentang makalah berjudul, "Revitalisasi di Sumbu Melayu". Dalam makalah itu, HJ membawa khalayaknya ke pangkal sejarah peradaban Melayu di Bukit Siguntang, melalui prasasti Kedukan Bukit. Prasasti yang terbuat di bilik kusam museum itu ditariknya keluar, ke mZa kini, dan memberinya makna atau ruh untuk memperbaiki masa kini dan nanti.

Nostalgia Kreativitas

Selain tayangan video Pulau Penyengat Inderasakti, juga ditayang tentang HJ dalam kenangan kerabat dan sahabat yang tak sempat hadir di haul keenamnya kemarin malam. Testimoni-testimoni yang direkam dan langsung semakin meyakinkan, bahwa sosok HJ memang takkan tergantikan. Testimoni lewat tayangan video itu disampaikan Raja Suzana Fitri, Raja Abdurrahman Jantan, dan sahabatnya Rida K Liamsi, serta Husnizar Hood.

Berselang-seling testimoni yang disampaikan langsung oleh keponakan HJ, anak abangnya Raja Hamzah Yunus, Raja Malik Hafrizal, dilanjutkan Taufik Ikram Jamil, Dantje  S Moeis, Budy Utami (Uut), dan ditutup Zuarman Ahmad. Masing-masing orang menuturkan keterkaitannya sebagai saksi sejarah sosok Hasan Junus yang memiliki pergaulan luas.

Beberapa sahabat dan rekan lain HJ yang hadir pada haul keenamnya antara lain Kadis Kebudayaan Riau Yoserizal Zen. Tampak pula, Herlela Ningsih yang sebelumnya tak pernah absen menggelar Haul HJ dari satu hingga lima. Lalu Beni Riaw, Hang Kafrawi, dan lainnya. Mereka juga memiliki kenangan manis bersama almarhum yang terkenal ramah dan suka berbagi pengalaman.***


comments powered by Disqus