Selasa,19 Juni 2018 | Ats-tsulatsa' 5 Syawal 1439


Beranda » Kabar » Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji

Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru | Minggu, 11 Februari 2018 12:44 WIB


Pemutaran film sejarah Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji (RAH) di gedung teater tertutup Anjung Seni Idrus Tintin, beberapa hari lalu menjadi diskusi menarik bagi para sineas. Kritik dan saran atas karya yang diproduksi 2009 itu, pun menunjukkan dunia perfilman Riau tak jalan ditempat.

(RP) - FILM berdurasi kurang lebih 60 menit itu dinikmati seratusan apresiator seni. Setiap apresiator memang penasaran dan sudah menunggu lama untuk bisa menonton film besutan sutradara Gunawan Panggarangan tersebut. Aktor dan aktris populer Indonesia, serta lokal beradu akting dalam karya itu.

Aktor lokal, tersebut pula nama Al azhar, almarhum Mazumi Daud, dan lainnya. Film itu memang didedikasikan untuk Allayarham Raja Ali Haji, si pengarang Gurindam 12 yang disegani, jauh sebelum Indonesia terbentuk sebagai sebuah negara berdaulat. Sikap dan pandangannya yang kaya dan super luas terhadap agama Islam, budaya, serta politik, menjadi sumber inspirasi utama. Tidaklah salah jika beliau didaulat sebagai pahlawan nasional pada 2009 lalu.

Produksi film itu diprakarsai para seniman bersama pemerintah provinsi Kepulauan Riau sebagai upaya mengenalkan RAH ke publik yang lebih luas. Paling tidak, melalui film, sosok RAH bisa dikenali secara umum, terutama bagi generasi muda, Kepri khususnya, Indonesia secara umum.

“Melalui film Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji, orang kenal sosoknya yang brilian, alim, dan bersahaja,” ulas Al azhar, dalam sesi diskusi usai pemutaran film tersebut.

Menonton film tersebut, penonton tidak hanya mendapatkan gambaran tentang sosok Raja Ali Haji, juga sejarah Kerajaan Riau-Lingga secara umum. Satu kerajaan besar dunia Melayu Islam yang pernah mencapai puncak kejayaannya pada abad 19 masehi silam. Selain itu, film ini juga diupayakan untuk meyakinkan banyak pihak atas perjuangan sampai akhir hayat RAH yang telah memberikan sumbangan besar tentang bahasa Indonesia yang menjadi bahasa persatuan bangsa ini.

“Saya memang terobsesi pada sosok RAH, terutama karyanya Gurindam 12 yang syarat nilai, makna, dan mendalam tentang hidup dan kehidupan sebagai anak manusia,” ungkap Gunawan Panggarangan, selaku sutradara film tersebut.

Gunawan menambahkan, awalnya ia tak berpikir, apakah film ini nantinya akan ditonton banyak orang. Selain skenarionya memang terbilang rumit, terutama banyaknya persoalan yang diangkat, juga karena bahasanya yang sangat rapi dan arkhaik.

“Hampir tak ada bahasa yang digunakan mubazir. Ejaaan dan pengucapan Melayu abad 19 benar-benar indah dan syarat makna,” akunya menambahkan.


Menyibak Polemik


Saat film Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji diproduksi, suara-suara yang tidak menyetujui RAH difilmkan sudah terasa. Banyak pihak yang menganggap pembuatan film itu cendrung dipaksakan dengan berbagai alasan. Hal ini sempat diungkapkan salah seorang penonton yang ikut dalam sesi diskusi, Hang Kafrawi. Dijelaskannya, mengapa film ini yang diputar dan didiskusikan di sini dan saat ini. Lagi pula, film anak-anak Riau banyak yang belum dibedah bersama-sama.

“Saat saya mengetahui di medsos akan ada pemutaran film RAH ini, saya sempat bertanya pada pelaksana acara. Mengapa film ini yang diputar. Saya mendengar, saat film ini diputar 2009 silam, gelombang protes dari masyarakat Kepri yang tidak setuju telah menghebohkan dunia perfilman kita,” papar Kafrawi panjang lebar.

Lebih jauh disebutkannya, jika produksi film ini untuk mengenalkan dan membesarkan RAH, yang terlihat serta dirasa, RAH menjadi kecil. Barangkali, dikarenakan terlalu banyak persoalan yang diangkat sehingga bertumpuk-tumpuk. Akhirnya, sosok RAH yang besar justru terasa tidak mengemuka. Sosok lain justru lebih dominan seperti Engku Putri Hamidah, pemilik Pulau Penyengat.

Sementara itu, salah seorang penonton lain bernama Yudi menyampaikan beberapa hal, salah satunya tentang polemik yang terjadi di Kepri 2009 silam. Baginya, apakah film sejarah seperti itu tidak akan menimbulkan konflik, karena tidak semua keinginan bisa masuk dalam sebuah karya. Lantas, melihat permasalahan ini, apa sikap Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, dan sebagainya.

Begitu pula kritikan beberapa penonton atas film itu seperti Jefri Al Malay, Bambang, Aristofani, dan lainnya. Hampir keseluruhan apresiator yang terlibat aktif dalam diskusi itu menyatakan, film itu lebih banyak kekurangan, ketimbang hal yang perlu diapresiasi atas pilihan artistik, teks, cerita, dan sebagainya.

Atas semua itu, Al azhar yang juga sebagai ketua umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAM Riau menjelaskan, bahwa pembuatan film RAH memang tak lepas dari polemik. Hanya saja, polemik yang berkembang lebih banyak tentang hal-hal teknis sahaja. Sedangkan soal-soal nilai justru tidak ada pembahasan berarti, meski akhirnya film itu gagal masuk bioskop-bioskop tanah air.

Menurutnya, kritikan yang dilontarkan sebenarnya lebih banyak disampaikan orang-orang yang justru tidak mengenal dan memahami RAH secara mendalam. Untuk mengenal RAH seharusnya lebih dulu membaca karya-karya besarnya. Dari situ, barulah bisa orang itu mengatakan, “Saya mengenal RAH dengan baik melalui karyanya. Tak bisa mengenal orang lewat cerita orang lain.”

Diakhir diskusi, Al azhar menyampaikan apresiasinya atas kritik dan saran para apresiator yang hadir. Dikatakannya, rata-rata semuanya mengenal dunia perfilman secara umum. Namun, pengenal secara umum saja belumlah cukup sebab masih banyak teori dan pemikiran kekinian tentang dunia perfilman.

“Mudah-mudahan dunia film Riau akan terus bergeliat, berkembang, dan melahirkan sineas-sineas yang bermutu,” ujarnya menutup pembahasan.

Geliat Sineas Riau

Hingga saat ini, sineas-sineas Riau, baik di Kota Pekanbaru, maupun kabupaten/kita terus bergeliat. Melahirkan karya-karya film terbaru yang bernuansa lokal, Melayu Riau. Penggagas Aliansi Komunitas Film Riau Willy Fwi yang juga menggagas nonton bareng film Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji mengatakan, setidaknya sudah 20-an komunitas yang tergabung. Komunitas itu berasal dari kalangan seniman, pelajar, dan mahasiswa.

Setiap komunitas telah menghasilkan karya-karya film indie (pendek), dan juga film dokumenter. Selain itu, mereka juga kerap melakukan kegiatan bersama dengan nonton bareng sekaligus membedah karya yang ditonton.

“Antusiasme kawan-kawan sineas muda di Pekanbaru cukup tinggi. Mereka telah pula menghasilkan film-film yang bernuansa lokal Melayu Riau,” ujar sutradara film Sang Aktor ini.

Hang Kafrawi, pimpinan komunitas Teater Matan, yang juga kerap memproduksi film mengatakan, anak-anak muda Riau tidak asing lagi dengan dunia perfilman. Banyak karya sudah lahir dan dipertontonkan ke publik. Lebih menariknya, saat ini film-film mereka sudah bisa disaksikan di media sosial, dan You Tube tentunya.

“Tak heran, jika sekarang film-film sineas Riau dari kabupaten/kota bisa kita saksikan langsung di medsos, maupun You Tube,” ujarnya singkat.***


comments powered by Disqus