Sabtu,21 April 2018 | As-Sabt 5 Syaaban 1439


Beranda » Kabar » Suku Teater Riau Pentaskan Dilanggar Todak

Suku Teater Riau Pentaskan Dilanggar Todak

| Minggu, 21 Januari 2018 11:18 WIB

SUKU Teater Riau memulai kiprahnya di dunia seni pertunjukan dengan mementaskan karya berjudul Dilanggar Todak. Karya yang ditulis dan disutradarai Marhalim Zaini SSn MA ini akan disuguhkan ke hadapan publik pada 22-24 Februari mendatang di Anjung Seni Idrus Tintin, komplek Bandar Serai, Pekanbaru.

Pertunjukan teater-puisi Dilanggar Todak adalah sebuah tafsir bebas dari mitos (cerita rakyat) bertajuk Singapura Dilanggar Todak yang terdapat dalam kitab Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu). Sebuah kisah tentang bencana yang menyerang Singapura, berupa ribuan ikan todak yang terbang dari laut, menikam bagai anak panah, dan membunuh banyak orang.

Bencana disebabkan oleh kecemburuan Paduka Sri Maharaja terhadap ulama dari Aceh bernama Tun Jana Khatib, yang telah dituduh “bermain mata” dengan permaisurinya. Paduka murka, dan kemudian memerintahkan untuk membunuh Tun Jana Khatib. Tak lama berselang, todak pun menyerang.

Paduka memerintahkan rakyatnya memasang pagar betis di sepanjang pinggir pantai sebagai benteng. Namun, korban justru semakin banyak berjatuhan. Sampai kemudian tiba-tiba seorang anak kecil bernama Hang Nadim muncul (yang dalam versi cerita BM Syamsuddin, anak ini bernama Kabil). Anak ini pun berkata (sebagaimana versi BM. Syam).

“Hamba bernama Kabil, datang dari hulu Bintan Penaungan. Hamba hidup di pinggir laut, Hamba tahu betul sifat ikan todak. Yang dapat melumpuhkan serangannya bukan betis manusia, tetapi batang pohon pisang. Oleh karena itu, hamba mohon agar Singapura ini dipagar dengan batang pohon pisang, Tuanku...”

Saran itu, dilaksanakan Paduka Sri Maharaja. Dan ikan todak pun tertancap di batang pohon pisang. Ribuan ikan todak mati. Berpesta poralah orang se-negeri Singapura. Namun, setelah semuanya aman, Raja justru menerima hasutan dari orang-orang dekatnya, yang mengatakan bahwa anak yang pintar itu kelak akan berbahaya bagi kerajaan.

Dalam Sulalatus Salatin disebutkan, “Tuanku, budak ini jikalau sudah besar niscaya besarlah akalnya. Baiklah ia kita bunuh....”     Maka Raja pun termakan hasutan.

Satu versi menceritakan, anak ini memang dibunuh. Versi yang lain menceritakan bahwa anak ini tidak langsung dibunuh, akan tetapi dimasukkan terlebih dahulu ke dalam sebuah kerangkeng besi dan diikat dengan rantai besi, lalu dibuang ke perairan Selat Sumbu, yang terletak antara Singapura dan Pulau Batam.

  Menurut Marhalim, dalam pertunjukan teater Dilanggar Todak, kisah tersebut tidak secara utuh diceritakan kembali di atas panggung. “Todak” adalah sumber konflik, sumber bencana, sumber masalah, yang ada di mana-mana. Todak, dalam Dilanggar Todak telah menjelma sesuatu yang misterius, yang tak kasat mata, yang dilihat tiada, tapi dirasa terus merajalela. Namanya terus disebut orang-orang, lalu siapakah atau apakah “Todak” itu sesungguhnya?

  “Sebagaimana sebuah tafsir bebas, cara kerja penciptaan teks dan panggung Dilanggar Todak adalah proses ke luar-masuk, dari sejarah ke mitos ke realitas kekinian. Proses tersebut, bisa jadi, berkelindan dalam keliaran yang jauh, tapi tetap kembali ke muara: oto-kritik atas diri,” ulasnya.

  Lebih jauh dipaparkannya, maka simbol-simbol bermain sangat dominan dalam peristiwa pertunjukan teater ini. Kata-kata (teks verbal) kadang hanya lalu-lalang untuk sekadar menyambung narasi, memperkokoh persitiwa, atau bahkan ia menjadi simbol itu sendiri. Oto-kritik itu bisa jadi berbunyi; “Jangan membunuh masa depan hanya karena hendak kembali ke masa silam. ” Atau boleh jadi juga berbunyi, “Jangan cari todak di luar dirimu, karena todak ada di dalam dirimu...”

  Maka, sebutan “teater-puisi” secara konsepsional dapat merujuk ke sana. Selain bahwa pertunjukan ini juga bersumber dari puisi “Dilanggar Todak, Mitos-mitos Kota Pendurhaka” karya Marhalim Zaini (dimuat di Kompas). Boleh jadi, “teater-puisi” adalah juga sebuah ruang pencarian bentuk-bentuk estetika baru dalam wilayah yang lebih luas, yang mencoba mempadu-padankan antara puisi dan teater.

‘’Boleh jadi juga, “teater-puisi” adalah sebuah istilah untuk kemudian saling meniadakan, dan melebur menjadi satu entitas baru, yang mungkin belum bernama,’’ katanya berfilosofi.

Produksi perdana Suku Teater Riau ini nantinya akan didukung lebih dari 50 pelaku seni dari berbagai disiplin seni, dari berbagai latar belakang profesi.(fed)


Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

 

 

comments powered by Disqus