Kamis,18 Januari 2018 | Al-Khomis 1 Jamadil Awal 1439


Beranda » Kabar » Mitos Tujuh Hantu

Mitos Tujuh Hantu

| Sabtu, 16 Desember 2017 10:39 WIB

RIAUPOS.CO - BONO di Kabupaten Pelalawan juga dikenal dengan tujuh hantu atau seven ghosts. Kenapa hantu, karena masyarakat mempercayainya seperti hantu. Bentuknya tinggi. Suaranya keras. Terdengar hingga berkilo-kilometer. Seram. Menelan banyak kapal. Besar dan kecil. Banyak nyawa hilang di dalam gelombangnya.  Karena jumlahnya tujuh, masyarakat menyebutnya tujuh hantu atau seven ghosts.

Konon, bono ini mulai terjadi tahun 1615 M. Saat itu Sungai Kampar masih bernama Laut Embun dengan tebingnya merupakan Pangkalan Melako, Pangkalan Panduk dan Pangkalan Bunut. Masyarakat mempercayainya inilah bono jantan yang dulunya berjumlah 7 ekor. Saat ini tinggal enam karena satunya mati ditembak Belanda. Di musim pasang mati, bono ini pergi menuju betinanya di Sungai Rokan, kemudian bercengkrama di Selat Melaka.

Apabila pasang mulai membesar, kembalilah mereka ke tempat masing-masing. Semakin besar arus pasang, semakin gembiralah gelombang ini. Lalu mereka berpacu memudiki sungai.

Sebagaimana takut hantu, semua orang takut bono. Tidak ada yang berani mendekat. Sembunyi cepat-cepat. Tapi, lambat laun berubah. Masyarakat mulai berani. Bahkan terbiasa bermain bono. Mereka yang bernyali besar, kedatangan bono disambut dengan suka cita. Kapal motor meluncur ke lidah ombak di punggung bono bagaikan pemain selancar. Mirip pula dengan orang naik kuda. Inilah kemudian yang disebut dengan “bekudo bono”.

Kondisi geografi yang berbeda di sepanjang pinggiran sungai, membuat bono hanya ideal dilihat dari beberapa lokasi pinggiran sungai.


Selain menara pandang yang telah dibangun Pemprov Riau, juga bisa dilihat dari Kampung Jawa dan Desa Pulau Muda. Bahkan bono benar-benar melintas di depan Pulau Muda yang terletak persis di tengah muara sungai. Setelah muncul di Selat Pulau Ketam, bono terbelah dua dan bertemu kembali di ujug Pulau Muda arah ke Teluk Meranti. Pertemuan ini mendorong arus Sungai Kampar dari hulu terus naik ke atas. Jauh, hingga 58 km. Para peselancar memulai aksinya dari Pulau Muda ini hingga Desa Teluk Meranti, melintasi banyak desa, teluk dan tepian.

Beberapa waktu lalu, tim Riau Pos menelusuri jalan atau lintasan bono di muara Sungai Kampar yang besar dan berbelok-belok. Jauh sampai ke Pulau Ketam. Sesekali berhenti mendengarkan pengalaman Khairul, warga yang biasa menjadi tour guide dan mengantar wisatawan mengejar gelombang bono. Kerap kali pula berhenti karena baling-baling perahu tersangkut lumpur di dasar sungai. Dangkal. Dikatakannya, perubahan dasar sungai sering terjadi tiba-tiba. Tak heran jika jalur yang bisa dilewati saat berangkat, sudah dangkal saat menuju jalan pulang. Padahal, perjalanan itu baru sekitar 2,5 jam.

“Perubahan yang tiba-tiba di dasar sungai ini yang membuat kami harus hati-hati. Bukan sedikit kapal tenggelam di sini. Di sini juga tempat terjadinya kecelakaan kapal motor beberapa waktu lalu yang menimbulkan banyak korban jiwa. Ya, kalau kami bilang, selain alam, tempat ini juga bukan tempat biasa. Tidak boleh berkata kotor, tidak boleh sombong di sini. Nanti ada yang tidak suka,’’ ujar Khairul.

Kairul membawa tim Riau Pos dengan speedboat kecil bermuatan empat orang hingga ke pangkal Pulau Ketam. Dari sini, laut lepas warna biru terlihat jelas, meski jauh. Air Sungai Kampar tempat speedboat berhenti berwarna keruh. Arusnya juga tidak seirama. Beriak dan dangkal.

“Banyak ikannya,” kata Khairul.
Dari pangkal Pulau Ketam inilah gelombang bono masuk ke Selat Pulau Ketam di ujung Pulau Muda, terbelah dua dan bertemu kembali di pangkal Pulau Muda atau yang dikenal dengan segitiga Pulau Muda. Di sini, bono semakin besar, terus naik, mendorong arus sungai kembali ke atas, menuju hulu.

“Dari ujung Pulau Untut di sana itu, gelombang bono seperti buih putih panjang yang menderu mulai muncul. Itu tiba-tiba datangnya. Semakin besar dan terus naik hingga ke Selat Pulau Ketam,’’ jelas Khairul. Saat diajak hingga ke perbatasan muara sungai dengan laut biru itu, Khairul menolak dengan alasan tidak boleh sembarang lewat di kawasan itu.

Sebab Air Sungai Lebih Encer
Perubahan dasar sungai yang kadang dalam dan tiba-tiba menjadi dangkal, atau timbulnya gelombang bono secara tiba-tiba itu ada sebabnya. Pakar geologi Riau Gantok Subiyantoro menjelaskan, dalam lingkungan estuarin, arus sungai bercampur dengan arus laut. Bila pasang, maka arus laut yang dominan. Sebaliknya bila surut, arus sungai yang dominan. Dengan kata lain energi arus sungai di muara estuarin sangat dipengaruhi pasang surut air laut. Bila air laut surut, meskipun arus sungai mendominasi, namun kecepatan arus sungai sudah sangat berkurang. Pada kondisi ini terjadi proses sedimentasi atau pengendapan.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (AGI) Pengda Riau itu mengatakan, cara sungai membawa sedimen​ ini ada tiga. Pertama, dengan diseret bagai partikel yang berat, dengan saltasi (salto) bagi partikel yang agak ringan, dan mengambang bagi partikel-partikel yang ringan, namun arus bawahnya terjadi arus balik. Peristiwa ini bersifat konstruktif, yaitu membentuk  gelembur gelombang yang asimetris, landai yang menghadap hulu dan curam menghadap muara. Tingginya gelembur gelombang tergantung banyaknya erosi.

Kedua, bila air laut pasang saat densitas air laut lebih tinggi dari air sungai, yang arusnya menuju ke daratan, akan mengerosi gelembur gelombang yang sudah terbentuk. Arus laut yang atas dan bawah sama-sama mengalir ke daratan. Ketiga, bila gelembur gelombang ini tinggi dan tidal-nya tinggi (saat setelah bulan purnama), maka arus laut seolah-olah “jumping” menuju daratan, dan akan terjadi bono. Karena proses tidal berulang-ulang, ada yang bersifat harian, mingguan, bulanan bahkan tahunan, maka gelembur gelombang akan berpindah-pindah.

“Ketinggian permukaan air laut menjadi lebih tinggi dari biasanya akibat pengaruh gravitasi bulan. Bila bulan bergeser mengorbit, pengaruh gravitasinya juga berkurang. Sesuai dengan hukum bejana berhubungan, maka permukaan air laut yang tinggi kembali ke permukaan air laut semula. Volume ketinggian air laut saat bulan purnama dikurangi terhadap ketinggian air laut awal itulah yang dihempaskan balik ke sungai. Bila di darat terdapat hujan, maka akan terjadi pengenceran sungai dan menambah volume air sungai. Karena air sungai lebih encer, maka dengan mudah terdorong oleh air laut masuk ke hulu sungai. Masuknya bisa berpuluh-puluh kilometer,’’ beber Gantok.(kun)


comments powered by Disqus