Kamis,19 Juli 2018 | Al-Khomis 6 Zulkaedah 1439


Beranda » Kabar » Riset dan Proses Kreatif

Riset dan Proses Kreatif

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru fedliazis@riaupos.co | Minggu, 10 Desember 2017 19:55 WIB

Bagi seorang kreator atau pengkarya, tampil di panggung-panggung bermartabat dan bergengsi, hanyalah efek utama dari kerja keras dan proses kreatif yang panjang. Karena karya yang bernas tidak lahir dari sekedar lintasan-lintasan imajinasi belaka.

SEBUT saja Riau Rhythm Chambers Indonesia (RRCI). Komunitas musik asal Riau ini sedang melambung dan melompat ke berbagai perhelatan bergengsi, baik lokal, regional, nasional, bahkan internasional. Mereka (RRCI,red) mendedahkan bunyi-bunyi yang melompat dari ceruk-ceruk keheningan ke ruang nan gegap gempita. Bunyi-bunyi yang mengalir dari hulu hingga ke muara itu bak getaran gelombang yang mengabarkan tentang kejayaan masa lampau.

Karya-karya musik yang mereka labelisasi dengan nama “Jejak Suara Svarnadviva” itu, terasa akrab di telinga siapa saja. Bunyi-bunyi yang mereka perdengarkan seperti tayangan film dokumenter tentang perjalanan sejarah panjang peradaban manusia. Rekam jejak tradisi yang berkembang di tengah-tengah masyarakat tepian sungai, mereka olah kembali dan menjadi ‘sesuatu’ dan terasa kekinian.

Komposer RRCI Rino Dezapaty Mby mengulas, masyarakat Riau, dianugerahi empat sungai besar. Anugerah ini menjadikan Riau sebagai salah satu kawasan Melayu yang unik, kaya, serta berbudaya tinggi. Sungai Kampar (Lauik Ombun/Laut Embun), Sungai Rokan (Batang Keremunting), Sungai Siak (Batang Jantan), dan Batang Kuantan/Sungai Indragiri (Sungai Keruh) menjadi sumber inspirasi yang takkan pernah habis-habisnya. Semakin menggalinya, maka semakin melimpah ‘nutrisi’ yang ditemukan sebagai bahan dasar pengkaryaan para seniman. 

“Riset. Ya, riset menjadi kunci utama proses kreatif kami. Karya-karya musik yang lahir dari hasil riset membuat kami, terutama saya, semakin dahaga. Rasanya, sulit untuk menentukan pilihan atas tak terhingganya sumber inspirasi yang ditemukan di kampung-kampung hening itu,” ujar Rino berfilosofi kepada Riau Pos, Jumat (8/12) lalu.


Sebagai salah satu komposer, Rino senantiasa merasa dipanggil dan ditarik-tarik untuk melakukan perjalanan ke berbagai sumber inspirasi. Salah satunya, sumbu peradaban Sumatera, yakni Kedatuan Mutakui (Muaratakus, red). Ia dan para personel RRCI memang telah berulangkali mengunjungi situs sejarah tua itu. Perjalanan mereka sudah berlangsung sejak 2007 hingga 2015 lalu. Baik mengunjungi tetua adat, orang cerdik pandai, seniman tradisi di XIII Koto Kampar, maupun berbincang dengan masyarakat kebanyakan. Mereka menyusuri Sungai Kampar Kiri, juga Batang Subayang di Kampar Kiri Hulu secara bertahap. Hal itu tentu saja dikarenakan belum ada pihak sponsor yang mau membiayai sebuah riset. Tidak saja di Riau, bahkan di Indonesia pun, sponsor yang bersedia membiayai riset untuk karya kreatif, masih minim adanya.

“Kami mengalir saja. Ada dana dan waktu, kami melakukan perjalanan. Tidak saja turun ke lapangan, kami juga menggali sumber-sumber tertulis (literasi). Juga berdiskusi dengan banyak pihak, termasuk berlainan disiplin ilmu. Kerja ini memang berat namun sangat mengasyikkan,” papar komposer Satelit Zapin ini.

Pengalaman Musikal

Proses musikal “Jejak Suara Suvarnadvipa” yang dilakukan RRCI terbilang panjang, 2007-2015. Mereka melakukan pembacaan ulang tentang sejarah Muaratakus. Proses berliku dan melelahkan itu mengantarkan mereka pada penemuan kekuatan sastra lisan dan folk song yang semuanya menceritakan tentang perjalanan kemegahan puncak puncak peradaban masa lampau.

Calempong Oguang yang hampir hidup di pinggiran empat sungai besar di Riau menjadi saksi utama.  Bahwa lintasan musikal yang beradaptasi dengan alam telah menghasilkan medium-medium bunyi yang variatif dan berkembang.

Hanya saja, awalnya mereka mendapatkan kesulitan. Nyaris tak ditemukan catatan-catatan, terutama tentang musik sebagai penanda selama bertungkuslumus di lapangan. Sebagai komposer, pada bagian ini, berbekal hasil wawancara dan menyaksikan para pelaku musik tradisinya bermain, ditambah penerjemahan musik lewat imajinasi maka, hasilnya jauh lebih hidup dan beragam.

Calempong Oguang atau Calempong Agung atau Calempong Gong, dalam pola permainan rhythm yang cenderung cepat memang sedikit mengganggu ke agungan atas bunyi yang dihasilkan. Namun secara organologi instrument, calempong yang idealnya mempunyai sustainable, gema yang panjang, sekarang tidak dalam kapasitas bahan yang sempurna. Karena dilihat dari hasil penelitian yang ada, calempong yang asli dan sempurna mengandung unsur besi hitam, besi putih, perunggu, kuningan dan emas.

    Saat ini hanya kuningan dan besi saja sebagai bahan dasar calempong yang lebih menghasilkan sustain, gema yang pendek. Selamat cenderung menghasilkan pola permainan yang cepat.

“Frekwensi calempong bahkan membawa imajinasi pendengar kepada alam yang berbeda dan jauh ke masa lampau. Sebagian pendengar merasakan kampung halaman. Itulah bukti bahwa kejayaan terletak di kampung halaman,” kata Rino, memaparkan hasil penelitian Producer Kreatif RRCI Reizki Habibilah meyakinkan.

Sastra lisan dengan kekayaan bahasa yang universal, pembawa pesan masa lalu dengan melodi-melodi beta dan cendrung absurd bisa menghantarkan imajinasi musikal pendengar kepada hal yang bisa dimengerti mesti tidak tahu arti sesungguhnya dari bahasa Kampar.

Sementara itu, karya-karya yang lahir dari kawasan pesisir, Rino lebih mengutamakan kekuatan Gambus Selodang. Dalam karya-karya Suvarnadvipa, mengungkapkan sisi lain perubahan peradaban Hindu-Budha ke dalam Islam yang damai tanpa kekerasan. Frekwensi Gambus Selodang dulunya mampu menghasilkan getaran hingga merambat melalui arus sungai sebagai penghantar pesan-pesan keagamaan. Di sinilah, RRCI menerjemahkan dalam pola keseharian masyarakat pesisir yang senang duduk di kedai kopi dalam senda gurau, lintas etnis. “Masih banyak alat musik tradisi dan bunyi yang kami eksplorasi menjadi karya. Selain sastra lisan, bahkan kalimat yang terpajang pada batu prasasti Sriwijaya,” ujarnya menegaskan.

Menuai Hasil


Atas kerja keras dari proses kreatif dan latihan yang tiada henti membuat anak-anak muda yang tergabung dalam RRCI, sejak beberapa tahun disibukkan dengan jadwal tampil ke berbagai event. Dipenghujung tahun ini saja, Rino Dezapaty (composer - gambus), Giring Fitra (vokal - calempong), Cendra Putra Yanis dan Ade Syahputra (cello), Aristofani (flute), Viogy (biola), Sukri Cahyadi (drum perkusi), serta Violano (gambus), harus memenuhi jadwal yang cukup padat.

Akhir 2017, RRCI tampil di lima kota di Indonesia dengan enam panggung seperti Kota Pekanbaru, Bandung, Payakumbuh, Jakarta, dan Padang. Jadwal ini merupakan program akhir tahun yang dirancang tim managemen RRCI bersama beberapa venue festival yang ikuti.

Diawali pada 29 November di  penutupan Festival Budaya Melayu Riau yang mengusung salah satu repertoire Sound of Suvarnadvipa. Mereka berkolaborasi dengan musik tradisi calempong oguang dari delapan kabupaten, mengangkat tema Muaratakus, kembali ke puncak.

Pada 30 November, tampil dengan konsep performing arts bersama penari tunggal Wan Harun Ismail di event BIATTEC EXPO Bandung. Pada 2 Desember lalu, Suvarnadvipa menuju event Botuong Arts Festival di Payakumbuh. Mini konser yang disuguhkan menjadi lebih menarik karena pertunjukan di atas bukit, daerah ampangan dengan konsep bambu, hingga seluruh penampil merespon instrument dari bambu.

“Di event Botuang itu, eksplorasi bambu menarik pada karya-karya Riau Rhythm. Karya menjadi kaya warna bunyi dan lebih terasa voice of rural musik asli Sumatera-nya,” jelas Rino.

Usai, tampil di Botuang Arts Festival, RRCI langsung menuju Jakarta untuk mempersiapkan konser full dengan tema “Jejak Suara Suvarnadvipa”. Pada 3 Desember pukul 15.00 WIB di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia Mall Program Djarum Foundation, penonton yang segmented dan sangat serius menyaksikan detail pertunjukan musik yang mengangkat seluruh komposisi dari hasil riset ini, menambah keberagaman kekayaan seni budaya Indonesia.

“Riau Rhythm berbicara Sumatera lewat bunyi dan diapresiasi sangat baik oleh seluruh audiens dengan memberikan standing ovation di akhir pertunjukan 90 menit,” katanya lagi.

Di Indonesia Kaya, “Jejak Suara Suvarnadvipa” mengurai sejarah peradaban Sumatera lewat bunyi yang diwakilkan sastra lisan, calempong oguang, gambang kayu merupakan nyanyian dan instrumen tua peninggalan kejayaan Muaratakus.

Setelah itu, kembali ke Pekanbaru tampil pada showcase di penutupan Seminar Budaya Melayu Asia Pasifik pada 7 Desember. Penampilan mereka ditutup pada road tour di 9 Desember, dalam konsep Sound of Suvarnadvipa. RRCI tampil di event PIOMfest “Padang Indian Ocean Music Festival” bersama beberapa kelompok dari Indobesia, Jepang, India dan Belanda. “Pertunjukan ini merupakan panggung world music yang di taja oleh Bung Edi Utama, budayawan Sumatera Barat untuk merekam ulang jejak-jejak akar tradisi dari Hindia, Riau Rhythm Chambers Indonesia,” kata Rino.

Di event ini, RRCI ingin menyampaikan kekuatan sumber kekuatan lokal yang belum banyak tergarap dalam seni, dan mendengungkan Riau sebagai poros seni pertunjukan, minimal di Sumatera.(nto)





comments powered by Disqus