Minggu,17 Desember 2017 | Al-Ahad 28 Rabiul Awal 1439


Beranda » Kabar » Riau, Rumah Besar Zapin

Riau, Rumah Besar Zapin

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru fedliazis@riaupos.co | Minggu, 03 Desember 2017 11:37 WIB

Seluruh peserta konvensi Zapin bersepakat menjadikan Riau sebagai rumah bersama. Sebuah rumah besar bagi pelestarian dan pengembangan Zapin. Apalagi, sejak 2012 silam, di Riau telah dibentuk sebuah wadah yang diberi nama, Zapin Center.

GAGASAN membentuk wadah pelestarian dan pengembangan Zapin sebenarnya sudah dimulai sejak 2000-an. Saat itu, pencetus gagasan itu, SPN Iwan Irawan Permadi memang belum mendapat respon, bahkan dari rekan-rekannya di seni tari. Namun keinginannya tidak pernah mati. Ia terus mencari dukungan, tidak saja di Riau, tapi dibanyak daerah di Indonesia yang memiliki tradisi Zapin. Barulah upayanya mendapat apresiasi 12 tahun kemudian, tepatnya 2012.

Bersama Yoserizal Zen, yang saat itu menjabat sebagai Kabid Nilai Budaya, Bahasa dan Seni, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Riau, Iwan mulai mengumpulkan beberapa tokoh Indonesia ke Pekanbaru untuk mematangkan gagasannya. Tokoh-tokoh utama pendirian wadah itu antara lain; alm. Trisapto, Sonny Sumarsono, Nazwan Iskandar, Duni Sriwani, Yoserizal Zen, serta Iwan Irawan sendiri. Maka muncullah nama Zapin Centre dengan kekuatan legitimasi SK dari Kepala Dinas Budpar Riau yang saat itu dipimpin Said Syarifuddin.

Iwan Cs pun bergerak cepat. Menyusun agenda dan langsung melakukan tugas pertama mereka. Mendata zapin yang ada di Riau, lalu mendatangi beberapa kampung di kabupaten/kota, sekaligus membuat dokumentasi zapin tradisi yang masih terpelihara di Bengkalis, Siak, Indragiri Hilir, Pelalawan, Rokan Hilir, dan Kepulauan Meranti. Selain menghasilkan draf untuk pembuatan buku, juga video dokumentasi berbagai zapin tradisi. Muaranya, tim itu akan membuat notasi laban, zapin tradisi yang ada di Riau. ‘’Sebenarnya, saya sudah menawarkan gagasan ini ke berbagai provinsi, tapi tak ada yang menanggapi dengan serius. Untunglah, pemerintah Riau, dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan  Pariwisata Riau bersedia. Makanya, saya dan kawan-kawan berharap --pada saat itu-- biarlah Riau yang menjadi pusat Zapin di Nusantara,’’ ulas Iwan Irawan di depan seluruh peserta Konvensi Zapin, Senin (29/11) lalu, di gedung olah seni (GOS) Taman Budaya Riau.

Zapin Takkan Hilang, Jika

Saat Konvensi Zapin berlangsung, yang dihadiri tokoh-tokoh zapin dari berbagai daerah di Riau, Indonesia, dan negara itu, mengalir berbagai asumsi, hipotesa, dan pernyataan lengkap tentang spirit zapin. Salah satu tokoh zapin asal Medan, Yoserizal Firdaus mengilustrasikannya dengan cerdas. ‘’Ingatlah zapin itu hidup, lestari, bahkan berkembang ditengah-tengah masyarakat kita. Ada atau tidak pun, bantuan dan support dari pemerintah. Zapin itu kita, dan kita anak zapin yang terus bergerak gemulai seperti karakter tari Zapin Melayu’’.

Pernyataan yang cukup menghentak dan membangkitkan semangat bersama keluar dari seorang tokoh tari Indonesia. Ayah Ladang Tari Nan Jombang, Eri Mefry asal Padang (Sumbar) itu, tidak menyangkal masih hidup dan berdenyut ya zapin di masyarakat sejak dulu hingga hari ini. Namun seiring perjalanan waktu, dan begitu pesatnya laju perkembangan zaman tidak menutup kemungkinan tradisi bisa tergerus. Pengaruh dunia luar tak bisa dihindari dan pendukung tradisi lambat laun bisa kalah dan mengikuti perkembangan zaman tanpa batas. 

Karenanya, koreografer yang sudah mendunia itu mengajak semua pemilik zapin untuk bergandengan tangan. Bergabung dalam wadah Zapin Centre untuk menguatkan keberadaan masing-masing. Jika kekuatan-kekuatan local genius itu menyatu dan saling menjaga, maka zapin akan terus berada di tempatnya dan berkembang sesuai zaman tanpa meninggalkan spirit tradisinya.  ‘’Saya kira, langkah untuk membangkitkan semangat Zapin Centre sudah tepat dan kita harus bersama-sama membesarkannya. Percayalah, wadah ini akan menjadi filter menangkis pengaruh luar yang tidak terbendung itu,’’ kata koreografer yang telah menyuguhkan karya-karyanya di perhelatan bermartabat di berbagai negara, Amerika, Eropa, Australia, Asia, dan seterusnya.

Dukungan Penuh

Baik kabupaten/kota se-Riau, Bengkalis, Siak, Pelalawan, Rokan Hilir, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Dumai, Pekanbaru, Kepulauan Meranti, dan lainnya. Provinsi-provinsi seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Jakarta, dan Nusa Tenggara Barat. Juga Malaysia dan Singapura. Semua pihak dan pelaku zapin tradisional sepakat dan mendukung penuh Riau menjadi rumah besar dan sebagai pusat Zapin Centre. 

Salah satu tokoh zapin Singapura Osman Abd Hamid menegaskan, sudah pantas Riau menjadi rumah bersama. Apalagi kawasan Melayu ini memiliki zapin yang beragam di setiap daerahnya. Sementara di kawasan lain, hanya satu zapin yang dibesarkan secara bersama-sama, baik provinsi maupun negara. ‘’Mari mengubur ego dan tidak lagi menyatakan ‘zapin kami yang hebat dan semacamnya’. Kita sama dan punya kekuatan serta keunikan masing-masing. Jika bersatu kita akan lebih kuat,’’ ujarnya meyakinkan.

Sementara itu, tokoh tari asal Johor Abd Hamid mengulas secara umum tentang perjalanan zapin di Malaysia yang diprakarsai Johor. Menurutnya, zapin awalnya hanya dimainkan beberapa orang saja. Sering perjalanan waktu, atas upaya pendukung zapin, maka kesenian itu pun marak dengan pembinaan serta perhelatan hingga hari ini. “Kami bersetuju, Riau sebagai titik sentral pelestarian dan pengembangan zapin di kawasan Melayu,” katanya.

Semua Bernasib Sama
Dalam konvensi itu, masing-masing pelaku zapin diberi ruang untuk memaparkan kondisi yang terjadi di wilayahnya. Jakarta misalnya. Hizbullah yang mewakili Lembaga kebudayaan Betawi menyatakan, berbangga hati hadir dalam perhelatan Festival Budaya Melayu ini. Ia menjelaskan, kondisi seniman tradisi Betawi terbilang ‘perit’. Karena memang tanpa kehadiran negara pun, kesenian itu, termasuk zapin hidup ditengah-tengah masyarakat. Seni tradisi takkan mati karena politik dan ekonomi. ‘’Bagi saya Zapin Centre itu bukan tempat pelestarian tapi juga tempat berdiskusi menemukan solusi atas semua persoalan yang terjadi,’’ ujar Hizbullah.

Begitu pula Surya asal Nusa Tenggara Barat (NTB), tepat di Sumbawa. Zapin hadir di sana justru kebalikan dari wilayah yang lainnya. Jika di kawasan pesisir lainnya zapin masuk dari Arab dan menjadi Zapin Melayu. Di NTB justru Zapin Melayu lebih awal masuk dibawa oleh Bugis, kemudian berkembang Zapin Arab. ’’Saya sendiri kesulitan mencari sejarah zapin di NTB. Makanya saya senang bisa hadir ke sini dan berkenalan dengan banyak tokoh zapin. Saya yakinkan, tahun depan mari kita ke NTB untuk berzapin. Kami akan helat Festival Zapin,’’ ucapnya.(nto)

comments powered by Disqus