Minggu,17 Desember 2017 | Al-Ahad 28 Rabiul Awal 1439


Beranda » Kabar » "Raja Kecil" Kembali ke Idrus Tintin

"Raja Kecil" Kembali ke Idrus Tintin

| Senin, 27 November 2017 08:06 WIB
LATIHAN: Sesi latihan teater Matan jelang pementasan, belum lama ini. Fedli Azis/Riau Pos

TEATER Matan terus bergerak untuk memasyarakatkan teater bangsawan yang mulai kehilangan pamor di zaman modern ini. Komunitas yang dipimpin Hang Kafrawi ini akan mementaskan karya terbaru mereka berjudul “Raja Kecil” di Anjung Seni Idrus Tintin, awal Desember 2017 mendatang.

Ditarik dari peristiwa waktu yang bergerak, kehidupan kesenian yang menjadi ujung tombak peradaban, paling dirasakan wujud perubahannya. Dari kehendak menghormati alam sampai menghasilkan karya seni untuk eksistensi dan juga ekonomi, dapat ditelusuri. Salah satu cabang kesenian yang mulai meredup adalah Teater Bangsawan.

Keberadaan Teater Bangsawan sempat ‘merajai’ seni pertunjukan di kawasan nusantara ini. Diyakini, seperti terdapat dalam buku Teater Tradisi Riau yang ditulis oleh Ediruslan Pe Amanriza dan Hasan Junus, sebelum bernama Teater Bangsawan, teater ini  bernama Wayang Parsi. Dalam buku tersebut juga dijelaskan bahwa Wayang Parsi yang sudah berubah nama menjadi Bangsawan ini, pada 1870 telah menyebar di nusantara. Pada 1906, Bangsawan ‘singgah’ di Penyengat. Namun di Pulau Emas Kawin ini, Bangsawan tidak berkembang. Setelah dari Penyengat inilah Bangsawan tumbuh subur di pulau-pulau Kerajaan Riau Lingga.

Keberadaan Teater Bangsawan semakin kokoh dan menyebar di sekotah negeri Melayu Riau. Hal ini dikarenakan Teater Bangsawan menjadi media penyampai pesan dari istana (sultan) untuk masyarakat. Segala informasi bahkan peraturan kerajaan ‘dititipkan’ dalam pementasan Bangsawan. Selain sebagai corong informasi kerajaan, Bangsawan juga hadir sebagai hiburan masyarakat.

Setelah masa kejayaan kerajaan Melayu pudar, dan kerajaan Melayu Riau lebur dalam Negera Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bangsawan masih tetap dapat dinikmati pergelarannya. Di daerah-daerah pesisir Riau, seperti Bengkalis, Siak, Dumai, Rokan Hilir, Meranti, Inderagiri Hilir dan Inderagiri Hulu, pergelaran Bangsawan sampai 80-an masih eksis. Bahkan di pulau-pulau terluar NKRI di Riau, pada 70-an kelompok Bangsawan dari Medan selalu mementaskan seni pertunjukan ini. Mereka berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau yang lain. Tidak tanggung-tanggung, para pendukung Teater Bangsawan menetap sampai satu bulan di pulau tersebut. Mereka hidup dengan penjualan tiket.

‘’Untuk membongkar kejayaan Bangsawan pada masa lalu, Teater Matan mencoba merangkai kekuatan mementaskan Teater Bangsawan berjudul “Raja Kecil” pada1-2 Desember 2017 di Anjung Seni Idrus Tintin, Bandar Serai, Pekanbaru, Riau,’’ ulas Kafrawi.

Bukan hendak kembali pada masa lalu. Pementasan Bangsawan yang mereka lakukan ini merupakan jelajah estetika untuk memperkuat identitas karya selanjutnya. Dalam penggalian Bangsawan yang Teater Matan lakukan, ada beberapa hal penting ditemukan untuk generasi melenia hari ini. Pertama dan ini sangat klasik, generasi muda dapat mengenal khazanah masa lalu negeri ini. Kedua, ada pelajaran sejarah, baik itu tokoh atau pun peristiwa yang dapat diperkenalkan melaui seni peran Bangsawan.

Di tengah hiruk-pikuk kesenian asing menerjang bangsa ini, seperti kesenian Korea Selatan dengan K-POP dan film-filmnya, karya seni, khususnya teater Bangsawan dapat dijadikan media pembelajaran mengenal diri dengan kemasan baru. Cerita-cerita kebesaran sejarah negeri dengan tokoh-tokohnya, dihadirkan kembali dengan ‘jelmaan’ sesuai zaman baru pula. Teater Bangsawan, menurut kami, menjadi garda terdepan untuk memperkenalkan sejarah dan tokoh besar di negeri ini, sebab bagaimanapun juga kehadiran Bangsawan sudah ‘ditakdirkan’ mengemban amanat membentangkan cerita kerajaan dan tokoh-tokoh besar pengukir sejarah.

‘’Selain itu, Teater Bangsawan yang kami pentaskan ini adalah upaya ‘mengobati’ kerinduan orang-orang yang lahir pada 1970-an ke bawah. Paling tidak, orang-orang yang lahir pada tahun 70-an ke bawah, pernah menyaksikan ‘keperkasaan’ Bangsawan. Inilah keyakinan yang kami usung, bahwa teater selain sebagai hiburan, ianya mampu sebagai pembongkar rasa kerinduan. Kerinduan pada masa lalu menjadi kekuatan pula untuk berbuat lebih baik lagi untuk hari ini dan hari yang akan datang,’’ ulas Kafrawi mengakhiri.(fed)

comments powered by Disqus