Kamis,23 November 2017 | Al-Khomis 4 Rabiul Awal 1439


Beranda » Kabar » Membingkai Kata dalam Rahim Bangsa

Peringatan Sumpah Pemuda dan Kenduri Puisi

Membingkai Kata dalam Rahim Bangsa

Laporan HELFIZON ASSYAFEI, Rohul | Minggu, 05 November 2017 11:40 WIB


Kalau tak karena puisi, takkan ada bangsa ini. Begitu Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, mengumandangkan. Dan puisi itu adalah kata yang dibingkai dalam teks Sumpah Pemuda sebagai rahim sebelum bangsa ini lahir.

DEKLAMASI: Deklamator kecil, Muhammad Daffa Alfajri membaca puisi di depan peserta dan pembicara Bincang Puisi. (dari kanan) Bambang Kariyawan, DM Ningsih, Kunni Masrohanti, Nuratika, Putri Marsya Aulia dan moderator Kasmono.

SUMPAH Pemuda yang di deklarasikan 28 Oktober 1928, diperingati setiap tahun oleh segenap anak bangsa ini. Dengan berbagai gaya dan cara tentunya. Peringatan itu lebih ditujukan kepada pentingnya mengambil semangat pemuda ketika itu dalam melahirkan bangsa ini. Sebab, Sumpah Pemuda diyakini sebagai  tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Perayaan Sumpah Pemuda juga dilaksanakan dengan meriah di Kabupaten Rokan Hulu. Kali ini disempenakan dengan kegiatan Kenduri Puisi yang digagas dan dilaksanakan Komunitas Seni Rumah Sunting (KSRS).  Kegiatan rutin yang dilaksanakan dua bulan sekali tersebut,  digelar Sabtu dan Ahad (28-29/10) di Pasir Pengaraian. Kali ini KSRS berkolaborasi dengan Komunitas Penulis Lenggok Media Rokan Hulu, sebuah komunitas yang sedang aktif berliterasi di kabupaten tersebut.

‘’Sumpah Pemuda itu puisi. Makanya tema Kenduri Puisi VIII yang kita usung kali ini, Sumpah Itu Adalah Puisi. Artinya, bangsa ini dilahirkan oleh sebuah puisi. Takkan ada bangsa ini kalau tak karena puisi. Ini juga yang sering digaungkan presiden penyair kita, Sutardji Calzoum Bachri. Saat dideklarasikan, waktu itu Indonesia belum ada. Belum merdeka. Belum ada satu bahasa. Tapi para pemuda ketika itu sudah bersumpah satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa. Inilah puisi itu,’’ kata Kunni.

Kenduri Puisi memang merupakan kegiatan rutin Komunitas Seni Rumah Sunting dua bulan sekali, bahkan sudah memasuki Kenduri Puisi VIII setelah sebelumnya dilaksanakan di beberapa kabupaten lain, termasuk puncak perayaan Hari Puisi di Riau. Kunni mengaku bangga dengan semangat  Komunitas Penulis Lenggok Media Kabupaten Rohul yang bersedia berkerjasama, bersusah payah menyukseskan kegiatan tersebut. Apalagi mereka yang sibuk, mulai dari mencari dana,  menyebarkan undangan untuk peserta bincang puisi dan rangkaian acara lainnya. Mereka juga yang aktif menjalin komunikasi dengan pihak pemerintah dan berbagai pihak lainnya agar kegiatan tersebut berjalan dengan baik.

Sebelum Kenduri Puisi VIII diputuskan dilaksanakan di Rohul, antara Rumah Sunting dan Lenggok Media sudah melakukan pertemuan beberapa kali. Seperti Kenduri Puisi sebelumnya, rangkaian kegiatan yang dilaksanakan meliputi bincang puisi, panggung apresiasi, parade baca puisi dan jelajah puisi.

‘’Kami dari Lenggok Media khususnya dan masyarakat Rohul juga merasa senang dan bangga karena Kenduri Puisi dilaksanakan di tempat kami. Dengan datangnya para penyair Riau dan serangkaian acara yang dilaksanakan, mudah-mudahan turut membangkitkan semangat literasi di Rohul,’’ ungkap Nur Atika.

Nur Atika bersama komunitas Lenggok Media yang dipimpinnya memang sedang berusaha membangkitkan semangat literasi di Rohul, khususnya untuk anak-anak skeolah. Bahkan, saat menyampaikan materi dalam Bincang Puisi, di hadapan siswa dan para guru, ia mengatakan kalau timnya akan turun ke sekolah-sekolah tanpa dibayar alias gratis. Materi yang akan disampaikan di sekolah juga disesuaikan dengan kebutuhan pihak sekolah. Sesuai dengan permintaan sekolah tersebut.

‘’Melihat anak-anak dan bapak ibu guru bersemangat, kami lebih bersemangat. Semangat mau berliterasi itu yang penting. Kami akan datang ke sekolah-sekolah tanpa dibayar,’’ katanya ketika itu.

Bincang Puisi dan Panggung Apresiasi

Tidak kurang dari 200 siswa dan guru dari berbagai SMA dan SMP sederajat se-Kabupaten Kuansing mengikuti Bincang Puisi yang berujung dengan Panggung Apresiasi. Hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut antara lain, penyair dan  pegiat Gerakan Literasi Sekolah (GSL) Bambang Kariyawan, penyair dan pimpinan KSRS Kunni Masrohanti, penyair DM Ningsih, Pimpinan Lenggok Media Rohul Nur Atika dan Putri Marsya Aulia  juara nasional FLS2N tingkat SMP. Berbagai issu terkini terkait sastra, khususnya puisi dibahas dalam bincang puisi tersebut. Termasuk bagaimana bangsa ini dilahirkan dari sebuah puisi bernama Sumpah Pemuda itu.

Masing-masing nara sumber memancing semangat bincang puisi dengan membeberkan berbagai persoalan sesuai dengan tema dikusi yang diberikan kepada mereka. Bambang Kariyawan berbicara tentang literasi di sekolah, DM Ningsih tentang literasi di luar sekolah, Kunni berbicara tentang puisi dan Sumpah Pemuda, Nur Atika berbicara tentang semangat berliterasi di Rohul dan Putri Marsya Aulia berbagi pengalamannya di FLS2N.


‘’Kami dari Lenggok Media khususnya dan masyarakat Rohul juga merasa senang dan bangga karena Kenduri Puisi dilaksanakan di tempat kami. Dengan datangnya para penyair Riau dan serangkaian acara yang dilaksanakan, mudah-mudahan turut membangkitkan semangat literasi di Rohul,’’ ungkap Nur Atika.

Nur Atika bersama komunitas Lenggok Media yang dipimpinnya memang sedang berusaha membangkitkan semangat literasi di Rohul, khususnya untuk anak-anak skeolah. Bahkan, saat menyampaikan materi dalam Bincang Puisi, di hadapan siswa dan para guru, ia mengatakan kalau timnya akan turun ke sekolah-sekolah tanpa dibayar alias gratis.

Materi yang akan disampaikan di sekolah juga disesuaikan dengan kebutuhan pihak sekolah. Sesuai dengan permintaan sekolah tersebut.

‘’Melihat anak-anak dan bapak ibu guru bersemangat, kami lebih bersemangat. Semangat mau berliterasi itu yang penting. Kami akan datang ke sekolah-sekolah tanpa dibayar,’’ katanya ketika itu.

Kegiatan kemudian dilanjutkan kemudian dengan penyerahan buku puisi dari Bambang Kariyawan dan Kunni Masrohanti untuk perpustakaan Masjid Islamic Centre. Baru kemudian dilanjutkan dengan Tanya jawab antara peserta dengan nara sumber dan pembacaan puisi oleh anak-anak utusan masing-masing sekolah. Bincang Puisi yang dimulai 15.30 itu pun baru berakhir pukul 18.00 WIB. Bincang Puisi ditutup dengan penyerahan hadiah kepada peserta yang mengajukan pertanyaan terbaiknya.

Pembacaan Teks Sumpah Pemuda dan Bakoba

Puncak Kenduri VIII Sabtu malam itu dilaksanakan di dataran tinggi Pematang Baih. Tepatnya di panggung utama. Sayangnya, hujan mengguyur deras sehingga acara dilaksanakan di bawah jembatan laying, persis di belakang panggung utama. Tak heran, lorong panjang di bawah jembatan itu penuh sesak. Di sanalah para penyair dan pencinta puisi membacakan puisi-puisi mereka.

Jika siang harinya peserta yang hadir mengenakan pakaian merah putih, maka, malam itu mereka mengenakan pakaian adat. Sebelum pembacaan puisi dan berbagai persembahan seni lainnya dimulai, para hadirin membacakan teks Sumpah Pemuda bersama-sama yang dipimpin oleh Jek, Ketua Komunitas Motor Jadul Riau yang memang berdomisili di Rohul. Selain dihadiri para penyair di berbagai daerah di Riau, malam itu juga dihadiri oleh berbagai komunitas baik di Rohul mau pun di luar Rohul seperti Kampar, Pekanbaru dan Pelalawan.

Hal yang lebih menarik lagi, puncak Kenduri Puisi VIII malam itu juga dihadiri maestro sastra lisan Bakoba Rohul, Taslim. Bersama anaknya, Taslim datang dengan membawa gendang dan gong. Di awal dan akhir kegiatan, Taslim menyenandungkan Bakoba dengan syahdu. Taslim juga bercerita tentang bagaimana Bakoba itu dimainkan dan cerita apa yang terkandung di dalamnya. Sudah pasti, pembacaan puisi oleh deklamator kecil Muhammad Daffa Alfajri dan aksi pemenang nasional FLS2N Putri Marsya Aulia, sangat ditunggu-tunggu. Dua kakak beradik yang duet bersama ayahnya Icamp Dompas ini berhasil memukau hadirin.

Jelajah Kampung Suluk

Kenduri Puisi VIII diakhir dengan wisata puisi keesokan harinya, Ahad (29/10). Lokasi yang dikunjungi antara lain komplek kampung suluk, air panas Hapanasan dan penangkaran kupu-kupu, makam raja-raja Rambah, serta beberapa lokasi lainnya. Saat berkunjung ke kampung suluk, para penyair juga belajar banyak tentang suluk, berdialog langsung dengan Tuan Guru suluk, bahkan masuk ke rumah suluk yang ada di sana.

Wisata puisi juga dilengkapi dnegan kunjungan ke rumah tokoh Suluk yang juga mantan Bupati Rohul, Ahmad. Selain melihat secara dekat potensi budaya dan alam yang ada, para penyair yang ikut Kenduri Puisi VIII juga diingatkan bahwa mereka harus pulang ke daerah masing-masing dengan membaca puisi tentang Rohul dan apa yang dimilikinya.

‘’Banyak yang bisa dibaca saat mengikuti Kenduri Puisi VIII di Rohul. Baik membaca puisi yang tersurat mau pun yang tersirat. Karena ternyata Rohul kaya dengan adat, budaya dan kekayaan alam yang luar biasa. Bagi para penyair, bagi para penulis, itu semua sumber inspirasi untuk menulis puisi,’’ ungkap Bambang Kariyawan.***




comments powered by Disqus