Kamis,23 November 2017 | Al-Khomis 4 Rabiul Awal 1439


Beranda » Kabar » Sastra Lisan Membawa Pesan

Sastra Lisan Membawa Pesan

| Senin, 30 Oktober 2017 11:22 WIB
sastra lisan: Maestro Koba Taslim dan tim tampil di helat Sastra Lisan yang ditaja Dinas Kebudayaan Riau di Taman Budaya Riau, Kamis lalu.

PEKANBARU (RP)-Dinas Kebudayaan Riau terus melakukan upaya positif untuk mengangkat kekayaan tradisi Melayu. Salah satunya, sastra lisan yang pada masanya pernah menjadi mercusuar.


Kali ini, dinas tersebut mengangkatnya kepermukaan dengan menaja acara Pagelaran Sastra Lisan se-Riau yang diberi tema "Sastra Lisan Membawa Pesan" pada 25-26 Oktober 2017 lalu. Kepala Dinas Kebudayaan Riau, Yoserizal Zen mengatakan, kegiatan ini untuk mengingatkan bahwa sastra lisan di Riau adalah suatu bentuk seni budaya yang sudah lama dan banyak ragamnya.

Tradisi lisan ini perlu diangkat kembali. Apalagi dari 21 warisan budaya tak benda (WBTB) Riau, sebahagiannya merupakan tradisi lisan seperti koba, nyanyi panjang, maratok dan banyak lagi. "Perhelatan kali ini, kami menampilkan sastra lisan yang belum pernah diangkat dan ditampilkan di sini. Masih ada beberapa kabupaten/kota yang masih kuat tradisi lisannya," ungkap Kadis Kebudayaan Riau Yoserizal Zen.

Dijelaskannya, Kabupaten Kampar merupakan daerah yang terbanyak sastra lisannya. Selain itu ada juga kabupaten lain yang sastra lisan masih kuat, seperti Kabupaten Rokan Hulu, Kuansing, Bengkalis dan Indragiri Hilir serta lainnya. Sejuah ini,  Disbud Riau melalui bidang Rekayasa dan bidang Penilaian Budaya Pelestarian Adat bekerja sama dengan ATL sudah melakukan pendokumentasian tentang bentuk-bentuk sastra lisan yang ada dibeberapa daerah.

Selain itu, sastra lisan ini nantinya akan menjadi konten muatan lokal budaya Melayu Riau, sebab tradisi lisan merupakan bentuk kearifan lokal yang perlu dipelihara. Selain itu, nantinya akan dibuat pelatihan atau workshop serta diskusi bersama ATL dengan penyaji sastra lisan. Ditambahkannya, Riau ditunjuk menjadi tuan rumah dalam rangka 25 tahun berdirinya Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Indonesia, karena dinilai sudah cukup kuat di mata pemerintah pusat. Apalagi Riau kaya akan kesenian tradisinya.

Musrial, seniman asal Bengkalis dan bersama penutur sastra lisan lainnya menampilkan, Dodoi Pelali, dengan judul "Panglima Nayan" dan "Sage Degendang" yang biasanya dibawa pada acara sunatan, khatam Alquran dan acara lainnye. Mereka juga membawakan pantun muda-mudi, "Cerito Young Dollah", "Dikir Sakai" yakni ritual Suku Sakai tentang memagar rumah agar terlindung dari perbuatan jahat.

Salman salah seorang penutur sastra lisan Kampar membawa sastra lisan Bagadumbo, Nolam, Pantun Ugam, Gandu dan Maratok.      Bagadumbo adalah sastra lisan yang menceritakan tentang dongeng yang dikhususkan kepada anak-anak untuk menidurkan anak. Bahkan ada juga cerita yang menuturkan pesan kepada anak-anak agar anak yang mendengar menjadi patuh. Sedangkan Nolam menceritakan tentang riwayat nabi, nabi bercukur.(fed)

comments powered by Disqus