Kamis,23 November 2017 | Al-Khomis 4 Rabiul Awal 1439


Beranda » Kabar » Tari Kwayang Tobang di Hutan Kota

Tari Kwayang Tobang di Hutan Kota

| Senin, 16 Oktober 2017 10:47 WIB

PEKANBARU, (RP)-Pada Sabtu malam (14/10), sejumlah seniman memainkan pertunjukan tari Kwayang Tobang. Pertunjukan tersebut dirangkai dengan pembuatan film dokumenter dan prosesnya di Hutan Kota Pekanbaru.

Kebolehan para seniman Riau tersebut dimainkan mulai pukul 20.00WIB. Sutradara Willy Fwi kepada Riau Pos, Jumat (13/10) menuturkan bahwa tari ini diciptakan berdasarkan ritual pengobatan Bedewo pada komunitas orang asli Bonai di Rokan Hulu, Riau.

Badewo adalah ritual memanggil de’o, dewa pelindung dalam kosmologi purba orang Bonai. Kwayang, atau Buwong Kwayang (burung kayangan) adalah salah satu dewa pelindung orang Bonai yang dipanggil dalam ritual magis oleh seorang Pemantan (dukun) bila ada orang Bonai mengalami sakit, atau komunitas Bonai ditimpa bencana. Burung ini dibayangkan serupa elang berbulu putih kekuningan.

Prosesi ritual ini melibatkan gerak, bebunyian, serta sejumlah properti seperti Balai Mukun dan anyaman-anyaman janur yang menyerupai burung dan benda-benda di dunia nyata. Tari Kwayang Tobang merupakan versi pengembangan dari Hilang Kwayang, merupakan  penjelajahan kreativitas yang berangkat dari ritual Bedewo dalam ruang kehidupan komunitas Bonai masa kini yang sudah sangat berubah.

Tari ini menggambarkan seorang pasien (baca: orang Bonai) yang menderita sakit, kemudian pemantan,sang bomoh, melakukan ritual Badewo untuk memasuki alam gaib dengan bantuan para pembantunya. Ia mencari de’o Buwong Kwayang untuk memulihkan semangat si pasien dan kepercayaan diri komunitas. Setelah melewati berbagai rintangan, Buwong Kwayang ditemukan. Namun, setiap kali didekati ia terbang. Terbang, meski belum lagi menghilang, sebagaimana semangat Bonai yang terancam terbang menghilang dengan binasanya hutan-hutan ruang hidupnya.

Teamwork Eksekutif Produser yakni Sita Rohana, Produser Pelaksana Ahlul Fadli, Sutradara Willy Fwi, DOP dan Editor  Raju Turangga, Artistik Aamesa Aryana, Koreografer Dasrikal, Penata Musik Riko, Unit Menejer Syahbani Komuilang, Set dan Property Julisman, Penata Rias dan Kostum Era Irawan, Elektrikal Agus Oje, Facilities Lastri Boy – Toni, Penari Achoel,  Alen, Dio, Anan. “Produksi ini dilakukan bekerjasama dengan BPNB Kepri, Asosiasi Tradisi Lisan Riau, Langitbatasnya, Alwidanda dan RiauArtCinema,’’ucapnya.

Kenapa di hutan kota?, Willy Hutan menyebutkan bahwa di tengah kota layaknya upaya penguasa memapankan suku asli dari kebiasaan berpindah-pindah  menjadi menetap di satu tempat. Karena saat ini, kerakusan adalah pemilik hutan sesungguhnya.(why)

comments powered by Disqus