Senin,23 Oktober 2017 | Al-Itsnain 2 Safar 1439


Beranda » Kabar » Berpuncak di Malam Botak

Pekan Teater Mahasiswa Nasional Pertama

Berpuncak di Malam Botak

Laporan KUNNI MASROHANTI, Pekanbaru | Minggu, 17 September 2017 14:26 WIB

Geliat seni pertunjukan, khususnya teater di tingkat mahasiswa, terus bergelora. UKM Batra Universitas Riau (Unri)  menghelat pertunjukan tersebut selama sepekan lamanya. Bermula dari Revolusi Musim dan berakhir dengan Malam Botak.

GEDUNG pertunjukan UKM Batra Kampus Unri, Rabu (13/9) seperti terbakar. Api meloncat-loncat dari ujung hingga belakang panggung. Orang-orang berteriak. Sementara, darah merah mewarnai seluruh tubuh mereka. Bau kemenyan juga menyebar ke mana-kemana. Kendi bulat, yang menjadi bagian penting di atas panggung tiba-tiba pecah. Berantakan. Hening seketika. Sampai lampu benar-benar padam, dan tinggal nyala api di belakang kain putih yang tersisa.

Inilah satu bagian penting dari sebuah pertunjukan teater berjudul Benih yang dipersembahkan teater benih asal Surabaya yang disutradarai secara bersama dalam Pekan Teater Mahasiswa Nasional (PTMN) pertama yang dilaksanakan UKM Batra Unri. PTMN ini digelar sepekan penuh. Selain dari Surabaya, juga dihadiri teater Oase drai Padang, UKM Seni Nanggala dari Madura, Sanggar Latah Tuah Uin Sisqa, HMJ Teater Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), UKM Syrih Unilak, serta Teater Langkah FIB Unand Padang.

PTMN ini dibuka langsung oleh rector Unri melalui wakil rector tiga, dr Syapsan. Ia berharap agar kesenian di Univiersitas Unri tidak hanya sebatas level universitas, tapi juga bertaraf nasional. ‘’Mulai hari ini, teater Unri melalui UKM Batra harus mulai merambah ke tingkat nasional. Karena poin besar dari akreditasi universitas itu didukung oleh kreatifitas mahasiswa. Inilah kreatifitas mahasiswa kita yang harus kita dukung,’’ ujarnya.

Pada malam pembukaan itu juga dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan Riau, Yoserizal Zein yang juga merupakan Ketua Dewan Kesenian Riau (DKR). Yoserizal mengaku sangat bangga karena bisa bisa hadir menyaksikan geliat teater di tingkat mahasiswa malam itu. ‘’Kami sangat bangga dan senang bisa menyaksikan bagaimana dunia seni khususnya teater di tingkat mahasiwa di Riau ini kian semangat. Ke depan, kegiatan-kegiatan sastra seperti ini juga yang akan banyak dilaksanakan di Dinas Kebudayaan. Jelas kita sangat mendukung kegiatan ini,’’ ungkap Yose.

Sementara itu, Pay Lembang, Pembina UKM Batra, menyebutkan, PTMN ini baru pertama kali dilakukan. Tepatnya setelah dihapuskannya mata kuliah praktek sastra yang selama ini diwujudkan dalam Pekan Teater Mahasiswa (PTM). Bahkan PTM sudah dilaksanakan selama lima kali berturut-turut. ‘’Awalnya pekan teater mahasiswa biasa saja yang dilaksanakan untuk memenuhi mata kuliah praktek sastra. Tapi tiba-tiba mata kuliah ini dihilangkan. Sangat disayangkan. Akhirnya kami mencoba tetap melaksanakan pekan teater itu tapi mengajak teman-teman mahasiswa dari luar. Alhamdulillah banyak yang datang,’’ ungkap Pay.

Alasan lain mengapa pekan teater ini harus tetap ada, menurut Pay, juga ingin menunjukkan kepada mahasiswa di kampus lain bahwa teater Riau, khususnya di tingkat mahasiswa terus bergelora. Paling tidak menjadi bagian dan mewarnai dunia perteateran di Riau secara umum. ‘’Kita juga ingin menunjukkan bahwa geliat teater mahasiswa di Riau masih terus bergelora,’’ sambungnya lagi.

Diskusi Setiap Malam

Pertunjukan teater oleh mahasiswa dari berbagai provinsi dalam PTMN ini juga diwarnai dengan diskusi yang dilaksanakan setiap malam sehabis pertunjukan. Selain dihadiri peserta PTMN dan mahasiswa dari berbagai kampus di Riau, juga dihadiri pekerja-pekerja teater yang ada di Riau. Di antaranya Willy, Fedli Aziz dan beberapa lainnya.

Dalam diskusi tersebut, peserta tidak hanya membicarakan pertunjukan yang baru ditampilkan saja, tapi juga sampai kepada naskah yang ditampilkan. Proses kreatif menjelang pertunjukan dan berbagi tentang pengalaman dalam berteater juga mengalir begitu saja. Fleksibel. Mengalir seperti air. Tema naskah yang dipentaskan juga menjadi perbincangan hangat.

‘’Naskah Benih yang kami pentaskan malam ini menggambarkan tentang penting dan harusnya kita menjaga warisan nenek moyang, yakni bagaimana orangtua dan nenek kita melahirkan secara normal, tidak ada operasi. Kalau sekarang, sedikit-sedikit operasi. Padahal melahirkan normal dengan cara kampung juga selamat dan sehat. Sebuah tradisi menjelang persalinan yang harus terus dijaga. Kami menyebutnya mitoni (tujuh bulan),’’ ujar Munir dari Surabaya.

Willy dan Fedli Aziz yang hadir juga memberikan semangat dan apresiasi yang tinggi terhadap pertunjukan-pertunjukan yang telah dipersembahkan berbagai ukm dari berbagai kampus di Indonesia ini. Apresiasi tinggi diberikan kepada UKM Batra yang berani dan mampu melaksanakan kegiatan yang jarang dilaksanakan kampus lain tersebut. ‘’Kami melaksanakan kegiatan ini di atas panggung sederhana. Malah di luar juga dibuat panggung seadanya. Kami berharap mudah-mudahan wacana pembangunan gedung teater yang sudah dibicarakan sejak dua tahun lalu segera terwujud di kampus kami tercinta ini,’’ harap Pay pula.

Berakhir dengan Malam Botak

Anjung Seni Idrus Tintin (ASIT) menjadi lokasi terakhir pelaksanaan PTMN ini. Di sinilah kegiatan tersebut ditutup secara resmi. Persembahan teater berjudul Malam Botak karya Pay lembang dipertunjukkan di sana sebagai persembahan terakhir. Ratusan orang memedati kursi dalam gedung. Wajah mereka tertumpu ke satu arah; panggung di hadapan yang penuh dengan kotak-kotak bergelantungan serta cahaya malam dari pancaran lampu-lampu di setiap sisi panggung terus menjadi warna yang memancing rasa penasaran.

‘’Malam Botak sebetulnya merupakan pementasan tunggal UKM Batra, tapi kami pentaskan di ASIT pada  malam penutupan agar kawan-kawan luar bisa menyaksikan. Kami juga ingin menunjukkan kepada mahasiswa dari luar Riau bahwa kita memiliki gedung pertunjukan yang luar biasa. Alhamdulillah kawan-kawan merasa senang selama di Pekanbaru,’’ katanya.

Sementara itu, para pekerja teater juga berdatangan malam itu untuk menyaksikan Malam Botak. Termasuk GP Ade Dharmawi, Willy, Fedli Aziz dan masih banyak lainnya. ‘’Kami sangat senang menyaksikan pertunjukan teater selama sepekan yang dilaksanakan UKM Batra. Ini menunjukkan bahwa teater Riau terus bergeliat. Ada tawaran-tawaran baru dalam dunia perteateran yang mereka suguhkan. Ini sangat menarik,’’ ungkap Willy.

Pembina Seni Unri, dr Syafrial mpd yang mewakili rector malam itu, menutup langsung kegiatan tersebut. Apresiasi tak terhingga disampaikan khusus untuk UKM Batra yang mengharumkan nama kampus melalui teater hingga ke provinsi lain. ‘’UKM Batra telah melakukan hal besar untuk kampusnya. Ini bukan kegiatan yang gampang dibuat. Mengumpulkan dan mengurusi banyak orang dari luar itu sulit. Tapi Batra bisa. Bahkan mempersembahkan pergelaran yang bagus juga. Semoga menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan kampus lainnya di Riau, bahkan luar Riau,’’ katanya.(kun)

comments powered by Disqus