Senin,23 Oktober 2017 | Al-Itsnain 2 Safar 1439


Beranda » Kabar » Ketika Puisi Menjadi Jalan Mencipta Sejarah

HARI PUISI 2017

Ketika Puisi Menjadi Jalan Mencipta Sejarah

Laporan HELFIZON ASSYAFEI, Pekanbaru | Sabtu, 05 Agustus 2017 11:55 WIB

Puisi merupakan salah satu jalan menyampaikan pesan antara zaman. Puisi menjadi jalan untuk menciptakan sejarah baru, menghubungkan sejarah lama dan sejarah baru.

SEPERTI provinsi dan daerah lain, Riau juga turut merayakan Hari Puisi tahun ini. Tidak hanya di satu tempat, tapi di berbagai kabupaten dan kota yang dimulai 3-6 Agustus. Tidak hanya oleh satu komunitas, tapi berkolaborasi dengan banyak pihak. Perayaan hari puisi di Riau tahun ini juga terasa meriah dengan kehdiran banyak penyair dari berbagai provinsi bahkan manca negara, seperti Malaysia, Singapura, dan Vietnam.

Komunitas Seni Rumah Sunting (KSRS), adalah komunitas yang selalu menggagas dan melaksanakan kegiatan ini setiap tahunnya, tepatnya sejak HPI dideklarasikan lima tahun silam. Tentu tidak sendiri, tapi didukung banyak komunitas dan pihak-pihak lainnya. Tak heran jika, KSRS memboyong hampir 150 peserta dari Pekanbaru, luar Pekanbaru, luar Riau dan luar negara. Seluruh peserta diboyong den gan menggunakan bus milik pemerinntah mulai Pemkab Siak tempat HPI dilaksanakan, Pemprov Riau dan Pemko Pekanbaru.

Rangkaian acara HPI tahun ini tidak hanya difokuskan pada satu tempat, tapi tiga kabupaten/kota sekaligus yang dimulai di Pekanbaru, Siak dan berakhir di Kampar tadi malam. Rangkaian acara itu juga sangat beragam, seperti Aksi Penyair Asean (APPA), disksi puisi, panggung apresiasi, ziarah puisi dan wisata puisi. Para penyair selain diajak membacakan puisi-puisi yang syarat dengan pesan, juga diajak menulis puisi tentang apa yang dilihat dan dirasa. Inilah yang menjadi tujuan ziarah dan wisata puisi.

Selain penyair mancanagera seperti Singapura, Malaysia dan Vietnam, penyair dari Garut Ratna Ayu Budhiarti, Ihsan Subhan (Cianjur), Fileski (Surayaba), Ariany Isnamurti yang juga kepala PDS HB Jassin (Jakarta), Mustafa Ismail (Jakarta), Willy Ana (Bengkulu), Ramayani Riance (Jambi), Itov Sekha, Arbi Tanjung, Damiri Mahmud dkk (Medan),  Ianti Harun (Kepri) dan beberapa penyair dari daerah lain serta penyair Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, juga turut hadir dalam acara tersebut. Sedangkan penyair Sumatera Barat, merupakan penyair yang paling banyak hadir dalam kegiatan ini. Di antara mereka adalah Iyut Fitra, Syarifuddin Arifin, Asril Koto, Okta Piliang, Endut Ahadiat, Yeyen Kiram dan masih banyak lainnya.

Penyair Riau juga turut mengikuti rangkaian kegiatan ini. Ada yang terus hadir sejak awal hingga akhir, ada juga yang datang dan pergi menyesuaikan dengan kesibukan masing-masing. Di antaranya, Fakhrunnas MA Jabbar, Husnu Abadi, Kazzaini Ks, Mosthamir Thalib, Bambang Kariyawan, Aris Abeba, Zamhir Arifin, Sastra Riau, DM Ningsih, Cahaya Buah Hati, Muhammad De Putra, Grivent, Eko Raghile dan masih banyak lainnya.

‘’Silaturrahmi dan pertemuan dengan banyak penyair dari berbagai daerah, ini sudah merupakan sejarah baru. Belum lagi, ziarah puisi dan mengulang serta menceritakan kembali sejarah kejayaan kerayaan Melayu Siak di zamannya. Inilah puisi, mampu menciptakan sejarah baru, mampu menghubungkan masa lalu, sekarang dan nanti, serta menciptakan sejarah baru dari sejarah lama. Makanya, kami mengusung tema Puisi Jalan Mencipta Sejarah tahun ini. Siak sebagai kota sejarah Melayu, ini jugalah yang membuat kami merayakan HPI di Siak tahun ini,’’ beber Kunni.

Peluncuran Buku dan Pemasangan Tanjak

Hal yang membuat perayaan HPI di Riau tahun ini lebih spektakuler karena Rumah Sunting mampu mengajak banyak penyair terlibat langsung dalam antologi dua buku puisi Menderas Sampai Siak dan Mufakat Air. Peluncuran buku ini ditandai dengan penandatangan cover buku oleh Bupati Siak Drs H Syamsuar dan Walhi Riau sebagai pendukung atas terbitnya buku tersebut.

‘’Siapapun yang mendukung terlaksananya kegiatan ini, atas terbitnya dua buah buku puisi, tidak penting. Hal paling penting adalah, hati mereka sudah terbuka karena menganggap penting sastra dalam hal ini puisi sebagai jalan penyampai pesan. Kalau buku puisi Menderas Sampai Siak berbicara tentang Siak dan pesan-pesan tentang pentingnya menjaga warisan budaya dan sejarah Melayu, maka buku Mufakat Air mengisahkan tentang lingkungan, menyuarakan dan menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga alam dan lingkungan bagi keselamatan bumi. Puisi harus merasuk dan masuk dan bisa diterima  semua pihak,’’ sambung Kunni.

Rangkaian kegiatan HPI berikutnya adalah Diskusi Puisi yang dilaksanakan Jumat pagi (4/8) di gedung Mahratu. Salah tema diskusi tersebut adalah Muda Menginspirasi. Dalam sesi pertama ini, Rumah Suntintg menghadirkan Muhammad De Putra penyair muda asal Riau dan Muhammad Subhan asal Sumatera Barat. Baik De Putra maupun Muhammad Subhan sama-sama penyair dengan sekalung prestasi dan penghargaan. Tak heran jika sejak awal diskusi, keduanya lebih banyak berbicara tentang proses kreatif dan bagaimana bisa bertahan untuk tetap menulis dan menulis.

Pada sesi kedua, Rumah Sunting menghadirkan Sutardji Calzoum Bachri dan Fakhrunnas MA Jabbar. Keduanya berbicara tentang bagaimana puisi benar-benar bisa menjadi jalan dalam mencipta sejarah. Diskusi tersebut tidak hanya diikuti seluruh peserta yang datang dari luar Siak, tapi juga siswa dan guru-guru tingkat SMA di Kabupaten Siak. Pernyataan dan pertanyaan terus bermunculan saat diskusi.

Rangkaian acara yang panjang memang sengaja dibuat agar semua penyair yang datang bisa membacakan puisinya, tentu selain sebagai bentuk penghargaan yang diberikan kepada penyair yang telah datang. ‘’Teman-teman penyair datang jauh-jauh dari daerah masing-masing dengan biaya sendiri, ditambah lagi mereka telah menyumbangkan karyanya untuk antologi bersama. Maka, kewajiban kami sebagai pelaksana dan tuan rumah, tentu ingin memberikan yang terbaik untuk mereka,’’ sambung Kunni.

Selain para penyair, panggung apresiassi juga dimeriahkan dengan persembahan puisi dari berbagai komunitas. Ada musikalisasi puisi seperti oleh Gendul, Visualisasi Puisi oleh Komunitas Bulan Biru asal Rohil, Competer (Pekanbaru), tari puisi, nyanyi puisi dan masih banyak lainnya. Panggung Apresiasi yang dilaksanakan di tepian Bandar Sungai Jantan itu semakin meriah dan akrab ketika diawali dengan makan malam bersama dan pembagian buku antologi puisi yang diluncurkan untuk para penulisnya.

Yang tak kalah menarik dan menyenangkan dari seluruh rangkaian perayaan HPI tersebut adalah wisata puisi. Rumah Sunting memboyong semua peserta menuju Desa Wisata Buluhcina di Kabupaten Kampar. Lagi-lagi, di tempat ini pun mereka  berpuisi. Membacakan puisi di tepian Sungai Kampar yang disaksikan masyarakat dan para tamu undangan.Peserta juga diajak menyusuri sungai Kampar hingga ke ujung Danau Pinang Luar. Sungguh, sebuah perjalanan wisata yang diharapkan mampu memancing inspirasi baru dalam  menulis puisi.

Perjalanan wisata di Des Buluhcina semakin seru ketika kedatangan semua peserta disambut dengan kalungan bunga oleh sepasang gajah bernama Robin dan Ngatini kepada Sutardji Calzoum Bachri dan Rohani Din sastrawan negara Singapura sebagai perwakilan para penyair. Lagi-lagi, ada pengalaman dan pelajaran baru, kali ini dari Kabid Wilayah I KSDA Riau tentang konservasi yang juga menarik untuk ditulis dalam sebuah puisi. Peserta juga dimanjakan dengan pesona wisata Buluhcina baik alam maupun budayanya.

‘’Alam juga puisi. Inilah alam kami, Desa Buluhcina yang kaya dengan kekayaan alam, budaya dan tradisi,’’ ujar tokoh masyarakat Buluhcina, Makmur Hendrik yang membacakan syair saat penutupan perayaan HPI tahun ini.***

comments powered by Disqus