Minggu,20 Agustus 2017 | Al-Ahad 27 Zulkaedah 1438


Beranda » Kabar » Menakar Festival Bermartabat

AJANG TEATER SUMATERA II

Menakar Festival Bermartabat

| Senin, 24 Juli 2017 09:37 WIB

Perhelatan tahunan bertajuk Ajang Teater Sumatera (ATS) II yang berlangsung 17-20 Juli 2017 lalu memang telah usai. Para sutradara, aktor, dan awak panggung lainnya kembali melakukan aktivitas harian ke tempat asal mereka. Panggung Anjung Seni Idrus Tintin juga hening dan gulita seperti biasanya, saat helat-helat seni berlalu. Namun upaya menganjung Riau sebagai pusat seni pertunjukan di Sumatera kian menggelora.

Laporan KUNNI MASROHANTI, Pekanbaru                              

HELAT yang diberi tema “Membangun Gerbang Kekuatan Sumatera” itu menyuguhkan enam karya sutradara seperti Fedli Azis (Lembaga Teater Selembayung), Hang Kafrawi (Teater Matan), Willy Fwi (Riau Beraksi) asal Riau, serta Iswadi Pratama (Teater Satu) asal Lampung, Enrico Alamo (Teater Sakata) asal Padangpanjang-Sumbar, dan Harris Priadi Bah (Kelompok Teater Kami) asal Jakarta. Keenam sutradara membentang karya-karya terbaiknya, baik karya terbaru maupun karya lama yang senantiasa menjalani proses tanpa henti.

Karya panggung yang ditawarkan juga terbilang bervariasi dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kekuatan yang nyaris berimbang satu sama lainnya menjadi penilaian tersendiri, baik bagi para pengamat/narasumber, maupun penikmat seni yang memadati gedung Idrus Tintin, Kota Pekanbaru-Riau setiap malamnya. Suguhan demi suguhan atas kerja kreatif kelompok teater Sumatera, plus Jawa itu seakan melepas dahaga penikmat teater Pekanbaru sekitarnya, yang mulai jarang disuguhkan tontonan.

“Saya kira, kelompok-kelompok teater yang tampil menawarkan isu-isu besar dengan gagasan yang cukup menarik. Setiap sutradara terlihat bekerja keras dan berproses dengan serius sepanjang waktu. Meski tak boleh dipungkiri, bahwa kekuatan yang mereka tawarkan masih terdapat kekurangan disana-sini,” ujar DR Katil, narasumber/pengamat asal ISI Padangpanjang (Sumbar) kepada Riau Pos, Rabu (19/7) usai acara.

Diskusi yang Menyenangkan

Selain menyuguhkan karya panggung, helat yang digagas Lembaga Teater Selembayung dan disponsori secara penuh oleh Dinas Pariwisata Riau itu, juga menggelar diskusi kreatif bersama enam narasumber/pengamat dari berbagai disiplin ilmu. Para pengamat yang hadir antara lain akademisi teater asal ISI Padangpanjang-Sumbar Dr Yusril Katil, arts produser asal Jakarta Rama Thaharani, redaktur Kompas asal Jakarta Putu Fajar Arcana, koreografer senior asal Padang-Sumbar Ery Mefri, komposer Riau Rino Deza Paty Mby, teaterawan/sastrawan Marhalim Zaini.

“Saya bangga pada kawan-kawan dari Riau yang menggagas ATS. Kenapa tidak, mereka mampu menghadirkan pengamat yang terbilang paling lengkap sepanjang pengamatan saya. Ini perlu diancungi jempol, sebab upaya menjadikan Riau sebagai pusat seni pertunjukan di Sumatera saya rasa sangat tepat dan memungkinkan,” tambah Katil.

Sementara itu, Rama Thaharani menyakini, lahirnya festival serupa ATS memang dari kegelisahan bersama. Upaya memposisikan Riau sebagai tempat kebangkitan teater dianggapnya sudah tepat dan diperlukan pula kerja keras yang tak boleh berhenti. Saat ini, para seniman juga bagian dari masyarakat global dunia, namun tidak perlu menentangnya karena mengikuti arus globalisasi dengan tetap menjadi diri sendiri jauh lebih menguntungkan.

Rama yang sudah terbiasa melaksanakan dan menonton festival, baik di dalam negeri maupun manca negara mengilustrasikan, bahwa festival-festival di Eropa, maupun Amerika menjadi acuan dunia. Penyelenggara festival itu terus saja mencari karya-karya terbaik di seluruh penjuru dunia, maka seniman harus pula berinovasi. Disatu sisi, seniman di ‘luar’ sana terus bergerak maju dan tampil di event-event bergengsi dan bermartabat, di sisi lain, masih banyak seniman di Indonesia yang berkutat di dalam negeri sendiri, dan nyaris tak terpantau sama sekali.

“Sebenarnya, sudah banyak kelompok dari Indonesia yang sudah sampai pada posisi itu seperti Nan Jombang, Hitam Putih, Riau Rhythm Chambers Indonesia, dan lainnya,” ungkap Rama.

Rama menawarkan, untuk menjadikan ATS sebagai festival yang bergengsi, maka pengelolanya harus membuka jejaring ke seluruh festival-festival yang ada di dunia. Saling bertukar informasi dan menjadikan helat ATS sebagai wadah pertemuan antar seniman, pelaku seni saling bertukar gagasan/ide. Ia meyakini, kiblat seni pertunjukan dunia seperti Amrika Serikat, Berlin, dan Tokyo akan runtuh dan mulai lahir pusat-pusat seni pertunjukan baru seperti Korea dan lainnya.

“Jadikan ATS sebagai titik kecil diantara festival raksasa namun keberadaannya begitu penting dengan membuka jaringan keberbagai belahan dunia,” katanya meyakini.

Putu Fajar Arcana menambahkan, jadikan ATS sebagai investasi masa depan. Hasilnya, tentu belum akan wujud dalam beberapa tahun ke depan, sebab investasi kebudayaan akan terasa 10 hingga 20 tahun ke depan. Untuk mengembangkan ATS diperlukan upaya yang maksimal dari pengelolanya. Kualitas festival tidak hanya soal penyelenggaraan, juga karya-karya yang ditampilkan. Sehingga diperlukan kuratorial sehingga festival menjadi lebih bermutu dan tidak monoton.

“Perlu dilakukan kurasi dan member kesempatan kepada kelompok-kelompok kecil dengan karya bagus namun jauh dari pantauan. Dewan kurasi tidak saja dari Riau, tapi juga dari berbagai provinsi di Sumatera, sehingga akan terjaring karya-karya khas Sumatera,” ulasnya.
Koreografer Ery Mefri menegaskan, wacana menjadi Riau sebagai pusat seni pertunjukan di Sumatera sudah dimulai sejak lama, dan selalu lenyap ditelan waktu. Keinginan itu dibangkitkan kembali pada 2016 lalu, saat perhelatan Pasar Tari Kontemporer (Pastakom) VIII silam. Hanya saja, tak berkembang secara intens dan senyap-senyap saja. Di perhelatan ATS II, 2017 ini, kembali diwacanakan dan ia berharap, cita-cita itu tidak mati suri.

“Kami dari Sumatera Barat, siap dan selalu mendukung penuh keinginan Riau untuk menjadi pusat seni pertunjukan di Sumatera. Selain memiliki sarana prasarana memadai, geliat seniman seni pertunjukan di Riau juga terus menggelora. Ditambah pula, pihak pemerintah daerah yang cukup memahami keinginan tersebut dan bersama seniman melahirkan berbagai event-event trbaik sepanjang tahun,” jelas Ery Mefri.

Menutup diskusi kreatif selama dua hari, Selasa (18/7) dan Rabu (19/7) di lobby Anjung Seni Idrus Tintin, Kabid Ekonomi Kreatif (Ekraf) Dandun Wibawa memberikan ilustrasi, pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata Riau menyadari bahwa pihaknya bertugas sebagai pasilitator dan seniman-lah yang sang eksekutor-nya. Karenanya, ia selalu membuka diri untuk berdialog dan berdiskusi bersama siapa saja, terutama seniman kreatif untuk melahirkan gagasan-gagasan ter-up date untuk kemajuan seni pertunjukan di Riau.

“Kami membuka pintu seluas-luasnya untuk seniman kreatif untuk melahirkan isu dan gagasan terkini demi kemajuan bersama. Upaya untuk menjadikan Riau sebagai pusat seni pertunjukan pun, siap kami dukung. Bersama seniman, kami ingin Riau bisa bersaing dengan daerah lainnya di Indonesia,” ujarnya.

Direktur Festival Ajang Teater Sumatera, Fedli Azis, tidak ketinggalan menjelaskan, bahwa melalui ATS, ia berharap keinginan untuk menjadikan Riau sebagai pusat seni pertunjukan bisa wujud menjadi kenyataan. Bersama rekan-rekannya, baik Lembaga Teater Selembayung, maupun seniman multi disiplin seperti Rino Deza Paty, Benie Riaw, Bens, Hang Kafrawi, Willy Fwi, serta lainnya, ia terus mencari jalan agar diskusi kreatif antar seniman dan pemerintah daerah terus bergulir.

“Kami banyak belajar dari rekan-rekan seniman dan para narasumber/pengamat yang berbagi ilmu serta pengalaman di ATS II ini. Tentu saja, masukan-masukan menjadi bahan penting untuk meningkatkan mutu ATS secara penyelenggaraan dan mutu secara karya yang disuguhkan untuk ATS III, bahkan selanjutnya,” katanya mengakhiri.(fiz)

comments powered by Disqus