Minggu,17 Desember 2017 | Al-Ahad 28 Rabiul Awal 1439


Beranda » Kabar » Pekan Seni Media Mengenal yang Dekat

Pekan Seni Media Mengenal yang Dekat

Laporan, KUNNI MASROHANTI, Pekanbaru | Minggu, 09 Juli 2017 16:27 WIB


Turut bangga ketika sebuah karya seni terkini yang sebetulnya begitu dekat dengan masyarakat, hadir dan diperkenalkan di Pekanbaru. Itulah karya seni media; seni yang berbasis teknologi, yang sehari-hari berada di sekitar kita.


SEJAK beberapa hari yang lalu, hingga beberapa hari ke depan, Pekanbaru diwarnai dengan karya seni media. Baik pengenalan terhadap karya tersebut, pembelajaran secara langsung hingga pameran-pameran karya para seniman seni media yang sudah melalang buana hingga manca negara. Masyarakat boleh datang dan menyaksikannya di Bandar Serai Raja Ali Haji, tempat kegiatan ini dilaksanakan.

Beruntunglah masyarakat Pekanbaru karena kota ini menjadi kota pilihan tempat pelaksanaan pekan seni media tersebut oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)  yang berkerjasama dengan Forum Lenteng, Jakarta. Sebelum puncak pelaksanaannya yang dimulai hari ini, tim pelaksana yang dikomandoi langsung oleh pendiri Ruang Rupa dan Forum Lenteng sekaligus kurator, Hapiz Rancajale, telah dilakukan sosialisasi beberapa kali tentang apa itu seni media.

Dalam penjelasanya, yang juga ditulis dalam makalah yang disampaikan dalam beberapa kali sosialisasi, Hapiz menyebutkan, seni media merupakan seni yang selalu berkembang mengikuti perkembangan teknologi media di masyarakat. Sejak kemunculan seni video di tahun 60-an, seni media mulai dikenal oleh masyarakat sebagai seni yang dihasilkan oleh penggunaan teknologi media (baik representasi maupun presentasinya). Sederhananya, karya (dan makna) yang dihasilkan merupakan hasil olahan mesin baik yang dilakukan oleh sistem teknologi analog maupun digital. Peranan teknologi media (mesin) memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan seni media.

Seni media merupakan seni berbasis teknologi media atau sering disebut seni media. Kata media dalam istilah ini merujuk pada pengertian umum tentang media sebagai ‘perantara pesan’, di mana diandaikan ada sebuah transfer informasi dan proses komunikasi antara pengirim pesan dan penerima pesan. Dalam konteks pengertian media memang terus berubah sejalan dengan perkembangan cara-cara penyampaian pesan dari masa kemasa, yang dalam hal ini sangat difasilitasi oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Sesuai dengan perkembangan zaman, pengertian seni media akhirnya tidak saja merujuk pada bagaimana perkembangan teknologi media itu dipakai dalam karya seni media, namun ia menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan bagaimana seni konseptual berkembang, merujuk pada kemungkinan-kemungkinan bahasa baru dalam seni, seperti; seni performans, seni kinetic (gerak mesin), seni bebunyian dan lain sebagainya. Peluang yang besar dalam menggunakan dan atau menggabungkan beragam tata bahasa artistik (gambar diam, gambar bergerak, bebunyian, interaktif, dan lain-lain), serta beragam medium dan teknologi, memberikan keleluasaan terciptanya karya-karya lintas disiplin di dalam seni media. Selain itu, seni media juga menjangkau keterlibatan penonton dalam aktifitas seninya, melalui karya-karya interaktif dan seni-seni yang melibatkan masyarakat.

Sejak akhir tahun 90-an, seni media telah berkembang menjadi seni media baru atau new media art. Seni media baru menjadikan dunia digital sebagai basis hahasa dan ide kreatifnya. Seni media baru tidak lagi hanya berhenti pada karya yang bersifat fisik (material), namun juga non fisik (immaterial). Seni ini menjadi logika perhitungan dalam dunia digital sebagai bahasanya.

Bentuk karya seni media sangat banyak. Di antaranya, seni Media Berbasis Waktu (Time Based Arts). Salah satu ciri utama dari karya-karya seni media adalah seni berbasis waktu. Karya seni berbasis waktu ini memerlukan durasi tertentu untuk menikmatinya. Waktu atau durasi menjadi unsur pokok bahasa estetikanya. Setiap karya berbasis waktu mendorong keterlibatan penonton untuk menikmati karya dimaksud dengan durasi tertentu, bahkan tidak terbatas (looping). Karya-karya seni media yang berbasis waktu meliputi antara lain, seni video (video art), seni film eksperimental (seluloid/video), animasi dan pop-motion art, seni bebunyian (sound art), eni performans (performance art), seni multimedia performance,  dan lain-lain.

  Ada juga seni media berbasis teknologi (analog dan digital). Teknologi merupakan medium dasar dalam karya seni media. Sejak lahirnya, seni media berbasis teknologi selalu mengikuti perkembangan teknologi yang dipakai dalam berbagai kemungkinan dahasa dalam seni, dari penggunaan teknologi media, teknologi informasi, teknologi digital dan berbagai kemungkinan lainnya. Seni media yang berbasis teknologi ini meliputi, seni kinetic (kinetic art), seni video (video art),  seni film eksperimental, seni fotografi, seni internet (internet art/webart), seni pixel (pixel art), seni digital (digital art), biotech art, seni computer (computer art), seni elektronik (electronic art), seni multimedia, robotic art,  seni interaktif (interactive art), dan lain-lain

   Selanjutnya seni media berbasis media massa cetak, elektronik, dan media sosial. Fenomena perkembangan media massa perupakan cikal bakal yan melahirkan  seni media. Seni media lahir dari kritik kehadiran dan dominasi informasi oleh industry media massa. Dalam perkembangan seni video, dengan kemudahan akses peralatan produksi media elektronik seperti kamera video, Sony Portapak di tahun 60-an, maka lahirlah seni video sebagi respons kritik terhadap boom  televisi di Amerika Serikat dan Eropa. Selain penggunaan teknologi video, karya-karya seni berbasis media massa juga menggunakan media cetak, seperti buku sebagai medium ekspresinya. Sejak ditemukannya mesin cetak, persebaran informasi menjadi lebih cepat. Teknologi mesin cetak menjadi salah satu teknologi penting yang memberikan pengaruh bagi percepatan pembentukan persepsi dan perspektif masyarakat. Pada perkembangan terakhir, para seniman juga menggunakan media sosial sebagai bagian dari ekspresi seni.

    Begitu juga dengan seni media berbasis proyek seni dan desain sosial (Social Design). Dalam sepuluh tahun terakhir, muncul beragam fenomena proyek seni yang melibatkan partisipasi masyarakat dengan menggunakan beragam medium teknologi media dan teknologi tepat guna yang terbuka sebagai alat perubahan sosial (social change). Seni berbasis proyek ini meliputi kerja-kerja multi dan lintas pengetahuan yang membicarakan persoalan sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang terjadi di masyarakat. Karya-karya yang dihasilkan dalam proyek-proyek seni ini dapat berupa video, fotografi, buku, happening art, dan berbagai aktifitas kritis yang terkait dengan persoalan-persoalan sosial serta selalu melibatkan partisipasi masyarakat sebagai bagian dari bahasa seninya.

    Hapiz juga membeberkan, perkembangan seni media di Indonesia dapat dilihat menjadi dua periode; masa analog yang terjadi sebelum Reformasi 1998 dan masa digital yang terjadi setelah Reformasi 1998. Di masa Analog, beberapa seniman di Indonesia telah menggunakan teknologi media sebagai salah satu unsur karyanya. Namun belum menjadikan teknologi media sebagi unsur pokok pada karyanya.

   Dibeberkan Hapiz, di tahun 1979, karya Patung Suara dari Bonyong Munni Ardhi menggunakan siaran pembuka dan penutup RRI sebagai salah satu unsur karyanya. Karya Indonesia Menggugat (1979) dari Hardi menggunakan fotografi dan rekaman suara sidang mahasiswa di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tahun 1978. Dalam perkembangan seni film eksperimental sendiri, sejak pertengahan tahun 70-an, Gatot Prakosa telah membuat beberapa film eksperimental dan animasi yang menggunakan seluloid 16 mm. Salah satu karya animasinya berjudul Non KB yang berdurasi 2 menit yang dibuatnya di tahun 1979. Tahun 90-an, ditandai dengan karya Heri Dono, Hoping to Hear from You Soon (1992) yang memakai medium video sebagai bagian dari seni rupa instalasinya. Kemudian Krisna Murti dengan karya 12 jam dalam Kehidupan Penari Agung Rai (1993) yang juga menjadikan video sebagai bagian dari karya instalasinya. Pada karya ini, Krisna Murti membenamkan beberapa monitor yang memuat video rekaman dokumentasi tentang penari tradisi asal Bali, Agung Rai. Selain dua orang ini, sangat sulit menemukan seniman yang menggunakan medium video, baik sebagai bagiam instalasi maupun karya utuh berupa video art (seni video).

Meski sudah dimulai tahun 70-an, perkembangan seni media baru mengalami pertumbuhan yang signifikan pada lima belas tahun terakhir. Perkembangan teknologi dan keterbukaan informasi -yang merupakan buah dari perjuangan mahasiswa pada 1998 – yaitu Reformasi, memberikan peluang besar bagi seniman-seniman muda untuk mulai berkarya dengan medium ini karena kemudahan dan murahnya teknologi media, terutama komputer. Periode ini menjadi periode baru dan memasuki masa berkembangnya teknologi media digital. Pada periode ini, teknologi media mulai disadari memiliki peluang dan kemampuan sebagai unsur pokok pada karya seni, yaitu seni media.

Dalam lima belas tahun terakhir, perkembangan seni media di Indonesia mencapai tahap yang sangat signifikan, terutama di kota-kota besar di Indonesia. Kota utama perkembangan seni media adalah Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Di empat kota ini muncul seniman-seniman seni media baik secara berkelompok maupun individu. Berbagai medium digunakan, dari medium video, bebunyian, instalasi, komik, hingga prkatik biotech art digunakan dalam karya-karyanya. Indikator perkembangan seni media dapat dilihat dari data yang dikeluarkan oleh OK. Video Festival; sejak dimulainya festival seni video ini pada tahun 2003, aplikasi keikutsertaan seniman-seniman muda yang pada perhelatan pertama hanya 80 karya yang masuk. Pada tahun 2015, karya yang masuk ke panitia festival lebih dari 500 karya dari Indonesia. Ini membuktikan bagaimana antusias seniman-seniman Indonesia dalam karya seni media saat ini. Selain itu, karya-karya seni media Indonesia telah diapresiasi di berbagai perhelatan senirupa nasional dan internasional. Perhelatan biennale dan festival seni, tidak lengkap tanpa menghadirkan karya-karya seni media dari seniman-seniman Indonesia.

Berbeda dengan seni-seni sebelumnya, seni media Indonesia memiliki peluang yang tidak jauh berbeda dengan perkembangannya di Negara-negara lain. Hal ini disebabkan karena perkembangan teknologi digital yang hamper bersamaan di seluruh dunia. Sejak maraknya karya-karya seni video pasca Reformasi 1998, karya-karya seni media Indonesia telah dipresentasikan di berbagai perhelatan seni rupa internasional. Loosing Face (Series II, Havana City, Krisna Murti, 7th Havana Biennal, Kuba, 2000; We  don’t Have Any Message Today, ruangrupa, Gwangju Biennale, Korea, 2002: Terra Incognita, et cetera, Tintin Wulia, Sharjah Biennale 11, 2013; Jabal Hadroh, Jabal Al Jannah, Otty Widasari, SeMA Biennale Mediasity Seoul 2014. Bahkan di tahun 2011, instalasi Intelligent Bacteria – Saccharomyces cerevisiae karya The House of Natural Fibre (HONF) mendapatkan penghargaan utama dalam perhelatan Transmediale 11, sebuah perhelatan seni media bergengsi di Eropa. Selain berpartisipasi dalam berbagai perhelatan internasional, karya-karya seni media Indonesia juga telah dikoleksi oleh banyak museum modern dan kontemporer inernasional, antara lain, Fukuoka Asian Art Museum, Jepang; The Van Abbemuseum, Belanda; Singapore Art Museum, Singapura, Queensland Art Gallery, Australia; The Guggenheim Museums, New York, dan lainnya.

‘’Kami ingin mengenalkan seni media kepada masyarakat. Ingin juga membangun kesadaran teknologis kepada masyarakat secara kritis. Selanjutnya, memberikan gambaran tentang perkembangan seni kontemporer di Indonesia  dan dunia.  Mudah-mudahn bisa mentrigger para pelaku seni dalam melakukan praktek seni berbasis teknologi di Pekanbaru.  Apa yang kami kenalkan sebetulnya sudah sangat dekat dengan masyarakat, tapi mungkin mereka belum mengenalinya. Maksudnya, medium itu dekat tapi sangat jarang digunakan sebagai medium seni,’’ kata Hapiz.

Kegiatan yang akan dihadirkan selama sepekan ke depan itu antara lain, pembukaan yang dilaksanakan mala mini di Anjung Seni Idrus Tintin (ASIT,) symposium (Senin di Taman Budaya), lokakarya (Rabu-Jumat di SMK Labor),  pertunjukan multimedia (Jumat malam di ASIT) dan tur edukasi pekan seni media  (Rabu-Jumat di DKR). ‘’Kami mengajak semua masyarakay Riau, khususnya Pekanbaru untuk hadir bersama,’’ sambung Hapiz. (fiz)


comments powered by Disqus