Rabu,24 Mei 2017 | Al-Arbi'aa 27 Syaaban 1438


Beranda » Kabar » Sastrawan Bincangkan Perdamaian dengan Jalan Sastra

Sastrawan Bincangkan Perdamaian dengan Jalan Sastra

| Minggu, 07 Mei 2017 09:43 WIB

Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Provinsi Riau bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kamis (4/5) mengumpulkan berbagai komunitas seni dan budaya di Riau, Pekanbaru khususnya untuk membicarakan sastra sebagai jalan damai dan cegah paham radikalisme bersama sastrawan Indonesia di Hotel Aryadutha. Tidak kurang 130 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Selain mendengarkan peran sastra sebagai sebuah jalan dari narasumber, peserta juga turut aktif bertanya dalam sesi dialog yang dibuka oleh moderator.

Hadir sastrawan dan budayawan Riau Al Azhar dan Kunni Masrohanti sebagai pembicara. Sedangkan sastrawan luar daerah yang dihadirkan FKPT yakni Aan Mansyur dan Ahda Imran. Sejak pagi hingga sore, keempat narasumber berbicara asyik tentang kebudayaan dan kesusasteraan atau karya sastra yang turut berperan dalam membentuk sebuah kepercayaan, keyakinan tentang indahnya perdamaian

Karya puisi Aan Mansyur yang ditulis khusus dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2), menyedot perhatian masyarakat Indonesia bahkan mancanegara. Ini membuktikan, karya sastra bisa mempengaruhi  banyak orang dengan bahasa dan kata-kata yang ada di dalamnya. Karya-karya yang berpengaruh seperti itu juga diharapkan bisa muncul dari sastrawan-sastrawan lain di Indonesia sehingga mampu mencegah radikalisme yang menjadi sumber awal lahirnya gerakan terorisme.

‘’Seni dan budaya memang semestinya dilestarikan terus karena di sana ada peradaban manusia yang jauh dari gerakan-gerakan radikalisme. Begitu juga dengan karya sastra. Tentu karya sastra yang positif, yang berpengaruh dan mempengaruhi pada kebaikan. Inilah tugasnya sastrawan, begitu besar dalam turut membangun karakter bangsa melalui tulisan-tulisannya,’’ ungkap Al Azhar.

Ahda Imran, juga menyebutkan betapa besarnya peran dan pengaruh karya sastra dalam mencegah radikal terorisme karena di dalam karya sastra tersebut banyak pesan yang disampaikan.

‘’Tapi bagaimana pesan itu akan sampai jika karya sastra tidak dibaca, jika masyarakat tidak mau membaca. Sementara tingkat baca masyarakat kita memang sangat rendah. Ini tugas kita bersama. Tidak hanya sastrawan, komunitas seni budaya, tapi juga  guru dan semua pihak,’’ katanya.

Karya sastra, khususnya sastra lisan yang sudah ada sejak zaman nenek moyang dan diturunkan kepada anak cucu, tidak ada satupun yang mengarahkan atau mengajarkan kepada perpecahan dan radikal terorisme.

‘’Sastra tidak hanya tulisan, tapi juga tulisan. Sejak kecil, kita sudah dinina-bobokkan dengan nyanyian, dengan batimang yang penuh dengan pesan agar kita menjadi anak yang berguna, berbakti kepada agama nusa dan bangsa. Tidak ada satupun yang menyuruh kita menjadi orang jahat dan tidak sukses. Sastra lisan begitu banyak di Riau, apalagi Indonesia. Ini harus dijaga bersama agar tidak punah. Benar, sastra adalah jalan menuju perdamaian,’’ kata Kunni Masrohanti yang menjadi narasumber di sesi paling akhir.

Disebutkan Kunni, tugas sastrawan selain menulis, juga menyampaikan pesan dalam tulisannya kepada masyarakat. Jika masyarakat tingkat bacanya masih rendah, maka dengan cara dibacakan, dipertontonkan melalui visual nyata. Dengan kata lain, sastrawan harus turun langsung melakukan pendekatan-pendekatan kepada masyarakat untuk menyampaikan pesannya dalam karya sastra tersebut.

Dalam dialog tersebut juga diramaikan dengan pembacaan puisi oleh nara sumber dan peserta serta musikalisasi puisi dari tim Musikalisasi Puisi Gendul, Pekanbaru. Sebagian peserta juga ada yang menyanyikan sastra lisan yang telah diterima dari orangtuanya sejak kecil.

‘’Alhamdulillah, antusias peserta memang sangat tinggi dengan dialog sastra cinta damai ini. Tidak menyangka semakin ke ujung acara semakin ramai. Peserta juga sangat semangat turut membaca puisi dan lainnya. Ada juga menyanyikan lagu Tanah Airku yang dipimpin salah satu nara sumber sehingga suasana semakin khidmat dan semakin terasa kebersamaan cinta tanah air itu,’’ ungkap panitia pelaksana, Dinawati.(rdh)

comments powered by Disqus