Minggu,22 Oktober 2017 | Al-Ahad 1 Safar 1439


Beranda » Kabar » Menyelam ke Lain Masa dan Usia

Menyelam ke Lain Masa dan Usia

| Minggu, 30 April 2017 08:31 WIB

Helat Kenduri Puisi kembali menarik perhatian banyak pihak. Meski berada di satu tempat dan masa, tapi kian dicintai berbagai usia dan massa. Seperti Kenduri Puisi VII di Kampung Dosan, Kecamatan Pusako, Kabupaten Siak Sri Indrapura yang melibatkan  anak-anak, pelajar, masyarakat, aktivis lingkungan, camat hingga bupati.

SELALU ada yang beda dalam setiap kali Kenduri Puisi dilaksanakan. Begitu juga dengan Kenduri Puisi VII di Kampung Dosan pertengahan bulan lalu. Helat sastra itu disempurnakan dengan berbagai penampilan kesenian dan kebudayaan masyarakat tempatan. Tidak hanya penulis, penyair atau peserta yang dari Pekanbaru, tokoh masyarakat, anak-anak, camat dan Bupati Siak juga turut membacakan puisi.

Komunitas Seni Rumah Sunting (KSRS) selaku penggagas Kenduri Puisi yang dilaksanakan dari satu kampung ke kampung lain di berbagai kabupaten/kota, tidak lagi sendiri. Di Dosan, Camat berperan banyak dalam menyukseskan acara tersebut. Mulai makan, minum, hingga transportasi dari Pekanbaru ditanggung sepenuhnya oleh Camat Pusako Andi Putra SSTp. Masyarakat setempat ramai-ramai memberishkan lokasi acara dan memasak selama kegiatan. Sedangkan organisasi lingkungan seperti Walhi, Perkumpulan Elang, Jikalahari dan Greenpeace juga membantu penerangan berupa ratusan lampu badai. Peserta dari Pekanbaru, cukup menyediakan tempat tidur berupa tenda dan berbagai keperluan lainnya.

KSRS murni sebagai pelaksana dan pengatur rangkaian acara mulai dari keberangkatan peserta, lomba baca puisi, diskusi puisi, malam puncak hingga wisata puisi. Berbagai komunitas juga turut serta dalam kegiatan ini. Mereka datang membaca puisi dan mepersembahkan pergelaran khusus. Di antaranya, Papala Padang Sawah Kamparkiri, Community Pena Terbang (Competer), Bahtera Kata, Musikalisasi Gendul, jurusan teater Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), Fakultas Imu Budaya (FIB) Unilak, Komunitas Tandjak Siak, deklamasi puisi dari Dumai dan Pelalawan, grup kompang Kampung Dosan, dan masih banyak lainnya, terutama dari Kabupaten Siak.

Ketua Dewan Kesenian Siak, Azwar, juga hadir pada malam puncak Kenduri. Begitu juga dengan Ketua DKR yang juga Ketua Yayasan Sagang Kazzaini Ks. Kazzaini datang bersama penyair Mosthamir Thalib dan rombongan. Tak ketinggalan perupa Riau Emy Kadir, penyair Sastra Riau dan penyair hijau Bambang Kariyawan serta penyair muda Muhammad De Putra. Bambang Kariyawan juga dengan senang hati menjadi pembicara dalam dikusi sastra hijau yang mengusung tema "Menggali Puisi Hijau Danau Naga Sakti" tersebut. Rumah Sunting sengaja memilih Danau Naga Sakti sebagai lokasi Kenduri Puisi karena tempat ini dinilai sangat penting.

Sejak pagi Sabtu, Danau Naga Sakti sudah dipadati masyarakat, anak-anak sekolah, guru dan anak-anak pramuka. Pagi itu juga sudah dilaksanakan lomba baca puisi tingkat SMA sederajat se-Kabupaten Siak. Melihat ini, Bupati  bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kadri Yafiz serta seniman dan penulis di Siak, datang beramai-ramai malam harinya. Mereka turut membacakan puisi dan dan berbagi pengalaman tentang puisi dan alam. Ratusan lampu badai dan puluhan lampu apung di tepian danau, kian mendinginkan malam yang diguyur gerimis tersebut.

 ‘’Saya bilang, Danau Naga Sakti ini berada di dalam kawasan konsesi. Kami, masyarakat dan pemerintah ingin mengeluarkan dari kawasan dan ingin mengelolanya supaya perekonomian masyarakat berputar di sini, supaya hutan yang tersisa bisa lebih terjaga dan danau tetap asri seperti ini. Danau ini potensi wisata yang besar. Kami sudah bertemu langsung dengan menteri di lingkungan. Jadi, saat ini kami sedang berjuang. Beriringan dengan itu, danau ini mesti diramaikan terus. Syukur, sangat senang karena di tepian danau ini berlangsung kegiatan seni sastra yang melibatkan banyak orang. Tak sangka bisa seperti ini,’’ kata Bupati Drs H Syamsuar malam itu.

Bupati juga menyampaikan tentang perkembangan Kabupaten Siak dari masa ke masa, baik di bidang infra struktur, ekonomi, wisata dan juga seni budaya. Bupati juga berniat menjadikan Danau Naga Sakti tersebut sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) bidang wisata yang bisa dijadikan sebagai pusat penelitan hutan dan rawa gambut.

‘’Berbeda. Kenduri Puisi di Siak ini memang beda. Saya pernah ikut di Pelalawan waktu itu, dan suasanya beda lagi. Waktu di Pelalawan, tepatnya di Teluk Meranti, camatnya juga datang. Di Siak, bupati malah datang, bahkan sampai larut malam, turut membaca puisi dan melihat berbagai pertunjukan seni. Ini artinya, puisi semakin dekat dengan siapa saja. Puisi menyelam makin dalam di berbagai massa dan usia. Anak-anak baca puisi, seniman baca puisi, pejabat bahkan pekerja lingkungan yang jauh dari puisi, juga membaca puisi, duduk bersama menikmati malam sambil berpuisi,’’ kata Mosthamir Thalib.

Malam itu, Rumah Sunting juga memfasilitasi sumbangan buku untuk pustaka desa dari Yayasan Sagang kepada Penghulu setempat. Buku tersebut khusus buku sastra. Selain Yayasan Sagang, penyair sastrawan Riau Bambang Kariyawan juga menyerahkan puluhan buku untuk pustaka desa tersebut. ‘’Gerakan sastra melalui puisi seperti ini memang perlu terus digiatkan. Banyak yang bisa tersampaikan dengan kegiatan seperti ini, apalagi sampai ke kampung-kampung. Tidak hanya berbagi melalui diskusi, tapi juga mengajak masyarakat bagaimana puisi, sastra dan seni juga menjadi bagian penting dalam menjaga lingkungan dan kebudayaan kita,’’ beber Kazzaini.(fiz)

 

comments powered by Disqus