Rabu,28 Juni 2017 | Al-Arbi'aa 3 Syawal 1438


Beranda » Kabar » SCB dan Sejumlah Penyair Riau Baca Puisi di Taman Mini

SCB dan Sejumlah Penyair Riau Baca Puisi di Taman Mini

| Minggu, 23 April 2017 11:39 WIB

Presiden penyair Indonesia, Soetardji Clazoum Bachri (SCB) dan beberapa penyair Riau, membaca puisi dalam Kenduri Budaya yang dilaksanakan Dinas Kebudayaan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Kamis (20/4), tepatnya di anjungan Riau. Kegiatan ini dilaksanakan sempena ulang tahun ke-42 TMII yang juga dimeriahkan setiap provinsi di Indonesia di anjungan masing-masing.

SCB membaca puisi paling terakhir setela seluruh rangkaian acara berlangsung sejak pagi hari yang diawali dengan pawai budaya. Lebih seratus orang diberangkatkan dari Pekanbaru untuk mengikuti Kenduri Budaya tersebut. Secara bersama, mereke berjalan mengelilingi TMII dengan iringan Randai Kuantan Singingi (Singingi). Di beberapa titik, rombongan pawai berhenti dan menari bersama pengunjung TMII.

Selain SCB, beberapa penyair Riau juga hadir dan membacakan puisi. Antara lain, Hang Kafrawi, Kunni Masrihanti, Fedli Aziz dan beberapa lainnya. Hadir juga seniman budayawan Riau Taufik Ikram Jamil (TIJ) dan Datok Seri Al Azhar yang menyampaikan pidato kebudayaan di hadapan para undangan. Kenduri Budaya yang mengusung tema ‘Menghilir Empat Sungai’ itu juga diwarnai dengan penampilan berbagai kesenian tradisi seperti tari, musik dan lagu serta Kucau Kalamai yang dilaksanakan di halaman anjungan Riau.

‘’Semua anjungan provinsi di TMII merayakan ulang tahun TMII dengan menggelar berbagai kegiatan kesenian. Riau paling beda karena kita juga mengusung sastra dalam kenduri ini. Kita hadirkan Soetardji dan beberapa penyair Riau. Tarian, lagu dan musik tradisi, bahkan Randai Kuansing juga kami usung. Inilah kekayaan tradisi yang kita punya dan perlu kita perkenalkan kepada orang banyak,’’ ungkap Plt Dinas Kebudayaan Yoserizal Zein.

Al Azhar dalam pidato kebudayaannya menyebutkan, Riau kaya dengan sungai dan anak sungai yang di sepanjang hulu hingga ke hilirnya kaya dengan kebudayaan dan tradisi. Mengusung kebudayaan dan tradisi itu sudah menjadi kewajiban semua pihak, karena di sanalah kunci terjaganya lingkungan dengan baik. Menjaga tradisi berarti menjaga lingkungan dan menyelamatkan bumi.

‘’Ketika para penyair muncul dengan macam-macam kekinian, Sutardji tetap bertahan dengan mantra. Puisi-puisi mantranya menunjukkan betapa Sutardji, betapa penyair yang lain, harusnya, juga berkewajiban menjaga tradisi,’’ sebut Al azhar.

Malam itu, Sutardji membacakan banyak puisi. Penonton yang sudah menunggu kehadirannya sejak siang, terus bertahan hingga akhir acara. Malam itu, penyair-penyair Jakarta juga turut hadir menyaksikan acara tersebut. Di antaranya Nuyang Jamie dan Hilda Wimar.(fat)

comments powered by Disqus