Minggu,22 Oktober 2017 | Al-Ahad 1 Safar 1439


Beranda » Kabar » Jalan Menguak Tradisi

Jalan Menguak Tradisi

Laporan KUNNI MASROHANTI, Pekanbaru | Minggu, 23 April 2017 11:35 WIB

Sungai, dengan tepian dan segala riaknya, di sana jua bermulanya kebudayaan manusia. Tradisi yang diturunkan dari masa ke masa, banyak yang tak tersimpan, banyak yang terancam hilang. Melalui kepiawaian para koreografer, tradisi itu muncul begitu indah dalam gerak sebuah tari.

RIAU, negeri banyak sungai. Empat sungai besar dengan ratusan anak sungai yang mengitari, adalah tempat bermulanya kehidupan manusia dengan segala peradabannya. Bermacan warisan tradisi lahir di sana. Beda sungai, beda pula bentuknya. Beda suku, beda pula caranya. Begitu juga dengan berbagai warisan tradisi Suku Talang Mamal di Kabupaten Indragiri Hulu.

Masyarakat Talang Mamak memiliki susunan penguasa adat yang berbeda. Penguasa adat yang disebut dengan tuha-tuha ini terbagi menjadi sekian pula. Antara lain, Patih, Batin, Mangku/Pemangku, Monti/Dubalang Menteri, Tuha Berempat dan Kumantan. Patih berasal dati kata Fatihah yang berarti jalan lurus. Patih adalah pucuk pimpinan adat tertinggi dari keseluruhan Talang (kampung) Suku Talang Mamak. Setiap penunjukan Patih harus disetujui oleh penduduk Banjar Sungai Timu, karena disanalah mula pertama tempat Suku Talang Mamak bermukim. Patih memiliki tugas mengatur adat, mengatur pusaka, mengatur dan menjajarkan semua Batin/Penghulu Kampung.

Batin secara bahasa bermakna sesuatu yang tidak tampak – gerak kepada Allah – khalifah kepada Nabi. Dalam istilah bahasa Talang Mamak adalah sebagai penguasa masyarakat adat “Pengurus”. Tugasnya memimpin urusan rakyat menyelesaikan masalah sosial kemasyarakatan seperti sengketa. Sedangkan Mangku/Pemangku (Gandingan) yakni Batin Pemangku Adat, khusus mengetuai dan mengurus berbagai hal yang berkenaan dengan adat istiadat.

Monti atau Dubalang Menteri adalah pelaksana harian urusan sosial kemasyarakatan yang mewakili Patih pada tiap-tiap Talang (kampung). Tuha Berempat (Tuha-tuha Yang Berempat) adalah tetua suku berempat yang pertama dalam masyarakat Talang Mamak.

Sedangkan Kumantan  adalah “Dukun Besar Pucuk Pepatah”, yakni orang yang secara khusus bertugas menjaga keamanan dan keselamatan penduduk kampung dari berbagai ancaman mara bahaya, baik berupa hama,  penyakit, serangan binatang buas, maupun serangan makhluk halus melalui upacara “bulian”.

Bulian dalam pengetahuan tradisional masyarakat Suku Talang Mamak adalah semua ancaman dan serangan yang sudah menyimpang dari keadaan normal sehari-hari atau berubah tabiat. Untuk menjaga keamanan dibutuhkan berbagai pengobatan dan orang yang dapat melaksanakan pengobatan. Ada berbagai pengobatan yang bersifat massal pada Suku Talang Mamak yaitu upacara: Bulean, Mahligai, Balai Panjang dan Balai Terbang.

Orang yang bertugas dan bertanggungjawab melaksanakan upacara bulian atau pengobatan adalah Kumantan. Dalam berbagai istilah serta tugas dan fungsinya; seorang Kumantan adalah “Orang Pandai” yang dapat pula disebut sebagai: Dukun Besar, Bomo Besar, Pawang Besar, Kubaru (Bidan) Besar. Upacara Bulean diadakan untuk, mengobati sakit menular yang melanda desa seperti demam dan kolera, binatang buas yang mengamuk/ mengganas, mematikan tanah, mendirikan kampung-kampung menawar tanah dan bertimbang salah atau melanggar adat serta mengangkat Kumantan baru.

Peran Kumantan pada upacara tradisi bulean dalam masyarakat Talang Mamak merupakan tokoh sentral. Oleh karena itu seorang Kumantan adalah orang yang terpilih dari para Dukun, Bomo, Pawang dan Kubaru. Setiap akan dilaksanakan upacara Bulean Mengangkat Kumantan harus didahului dengan musyawarah, kesepakatan, bergotong royong pembiayaan upacara tradisi yang disetujui oleh perangkat Penguasa Adat masyarakat Talang Mamak, yaitu: Patih, Batin, Mangku/Pemangku, Monti atau Dubalang Negeri dan Tuha-tuha Berempat.

Dalam prosesi upacara adat pengangkatan seorang calon Kumantan yang dipilih dan ditunjuk, bukanlah orang biasa, melainkan seseorang yang sudah dikenal oleh masyarakatnya memiliki kemampuan khusus berupa kemampuan “supra-natural” yaitu kekuatan ghaib yang dapat berhubungan secara transenden dengan Yang Maha Kuasa. Orang yang memiliki kemampuan demikian biasanya disebabkan oleh faktor keturunan. Penunjukan dan pengangkatan seorang Kumantan dalam adat tradisi masyarakat Talang Mamak, melalui suatu prosesi yang disebut Nobat Kumantan.

Nobat Kumantan inilah yang diusung anak-anak muda dari Kabupaten Indragiri Hulu dalam gerak tari pada Festival Tari Tradisional dengan tema ‘’Menari di Riak-riak Sungai’’ yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Riau pertengahan minggu kemarin. Dengan disaksikan ratusan penonton, panggung Anjungan Seni Idrus Tintin itu pun bergemuruh dengan gerak, rupa, musik dan mantra. Properti besar persegi empat dengan rimbunan daun kelapa muda menjadi tempat bermulanya Kumantan bertugas setelah menjalani proses Nobat Kumantan. Gadis-gadis berambut daun pandan dan bunga kenanga serta pemuda-pemuda gagah perkasa dengan hiasan janur muda di punggungnya, membuat seluruh penonton terkesima. Nobat Komantan dengan Bulian Besar, menjadi salah satu tarian tradisi yang mengusung dan memperkenalkan tradisi lama ke hadapan generasi terkini.

Sungguh tidak hanya Nobat Kumantan, tarian berjudul Ghatib Zaman (Kepulauan Meranti), Timbuo Sumangek (Rokan Hulu), Menjulang Zapin (Bengkalis), Suluoh Sialang 9 (Dumai) dan Zapin Berzaman (Pelalawan) juga mengusung hal-hal tradisi, dimunculkan sedemikain rupa ke atas panggung sehingga tampil indah dan memukau. Diawali dengan sinopsis garapan tari dari koreografernya, semakin memperjelas pesan apa yang ingin disampaikan dalam tarian tersebut.

Sebuah festival, selalunya berakhir dengan sebuah keputusan; memilih yang terbaik. Dewan juri yang terdiri dari Iwan Irawan Permadi, Epi Martison dan Ismunardi. Iwan menyebutkan, Festival tersebut dilengkapi dengan juklak tentang bagaimana mengangkat peristiwa adat atau tradisi menjadi sebuah pertunjukan di atas panggung.

‘’Dari enam peserta, yang kira-kira masuk salah satunya Rokan Hulu karena mengangkat tradisi upah-upah, yaitu penyembuhan  bagi orang yang lemah semangatnya setelah skait. Kelompok ini  mengemasnya dengan rapi. Semua tampil dengan baik, tapi dalam mengemasnya ada kekurangan dan kelebihan masing-masing. Rokan Hulu ini musik dan ungkapan temanya muncul ke permukaan dengan kuat,’’ jelas Iwan.

Iwan, seniman dan budayawan Riau ini juga menjelaskan, festival ini merupakan yang kedua bagi Dinas Kebudayaan. Diakuinya, untuk jumlah peserta memang berkurang, tapi kualitasnya bagus-bagus.

‘’Keenamnya meningkat. Kami berharap Dinas Kebudayaan tetap konsisten melaksanakan ini karena berbeda dengan yang lain. Festival ini ada dana pembinaannya yang mampu memacu semangat peserta. Soal dana di masing-masing daerah juga susah. Jadi apa yang diberikan Dinas Kebudayaan ini semacam bantuan produksi. Karena teman-teman di Batam dan Kepri selalu seperti itu. Kenapa kita tidak meniru yang baik,’’ sambung Iwan lagi.(fiz)

comments powered by Disqus