Kamis,02 Oktober 2014 | Al-Khomis 7 Zulhijjah 1435


Beranda » Kabar » Mini Festival Bono di Teluk Meranti

Mini Festival Bono di Teluk Meranti

Redaksi | Senin, 18 Februari 2013 12:05 WIB

SEBUAH iven budaya bertajuk Mini Festival Bono diselenggarakan di desa Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, pada 26-30 Januari yang lalu. Kegiatan yang ditaja oleh Rumah Budaya Siku Keluang dan disponsori oleh Hivos Fondation dan Ubud Writers dan Readers Festival ini, melibatkan beberapa komunitas seperti Teater Lorong (Pekanbaru), Sarueh (Padang Panjang), I.S.E.C (Pekanbaru), Institut Kajian Alam Melayu (Pekanbaru), LIFEPATCH.ORG (Yogyakarta), B-Project (Pekanbaru) dan Sindikat Cuci Otak (Pekanbaru).

Hari pertama sampai ke empat, kegiatan dilakukan secara terpisah dari setiap komunitas. Workshop Diy Playdough yang diutamakan untuk anak-anak usia Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar dilakukan selama dua hari, oleh Ade Greden (Rumah Budaya Siku Keluang). Pada malam harinya dilanjutkan dengan workshop acting, yang diberikan oleh Uchien (Teater Lorong). Workshop acting dilakukan selama tiga malam, dengan materi dasar-dasar acting yang dimulai dari olah tubuh, oleh vocal, dan olah sukma. Pada malam ketiga membuat cerita yang berasal dari cerita rakyat setempat, kemudian pembagian peran yang nantinya akan ditampilkan pada malam puncak.

I.S.E.C memberikan pelatihan pembuatan Biogas. Biogas adalah gas yang dihasilkan dari penguraian bahan organik dalam kondisi anaerob oleh bakteri-bakteri pengurai. Gas yang dihasilkan adalah campuran berbagai gas seperti karbondioksida dan metana yang dapat terbakar sehingga dapat digunakan untuk memasak dan menjalankan mesin. Selain gas, dihasilkan pula pupuk organik sebagai hasil sampingan. Bahan baku biogas dapat ditemukan secara melimpah di mana-mana hampir tanpa mengeluarkan biaya. Kotoran ternak seperti sapi, babi, kambing bahkan kotoran manusia bisa digunakan. Selain itu limbah sayur-sayuran, eceng gondok, dan limbah pabrik tahu serta pabrik minyak kelapa sawit juga bisa digunakan untuk bahan pembuat biogas. Sedangkan komunitas SARUEH merekam aktivitas masyarakat Teluk Meranti dari pagi sampai malam selama empat hari.

Menjelang persiapan kegiatan malam puncak, pada pukul 16.00 WIB, Dedi (Institut Kajian Alam Melayu) memberikan diskusi dengan masyarakat Teluk Meranti dengan tema Pusaka. Tepat pada pukul 20.00 WIB kegiatan performance dari setiap komunitaspun dimulai. Dibuka oleh Heri Budiman (Rumah Budaya Siku Keluang), kemudian dilanjutkan oleh Rini (I.S.E.C) yang mensosialisasikan tentang pentingnya Bio Gas di Desa Teluk Meranti. Setelah itu Budy Utami (Rumah Budaya Siku Keluang) memperkenalkan tentang Rumah Budaya Siku Keluang, beserta program-program yang telah dilaksanakan. Haryadi (SARUEH) menjelaskan tentang pentingnya merekam seluruh kegiatan yang ada ditengah masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video hasil rekaman yang diberi judul Memoar Teluk Meranti. Kegiatan ditutup dengan pementasan drama dari pemuda setempat, dari hasil workshop selama tiga hari.*** (Sin/MZ)

comments powered by Disqus