Rabu,24 Mei 2017 | Al-Arbi'aa 27 Syaaban 1438


Beranda » Jejak » Sataruddin Ramli

Tokoh Teater Mendu Itu pun Berpulang

Sataruddin Ramli

| Minggu, 29 November 2015 11:49 WIB
Sataruddin Ramli

SELASA, 6 Oktorber 2015 silam, dunia seni, salah satunya seni teater berduka atas kepulangan tokoh teater Mendu asal Kalimantan Barat menghadap Sang Khaliq. Tokoh yang tunak mempertahankan dan memelihara teater tradisi Melayu Satarudin Ramli itu menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang melawan sakit yang tak kunjung sembuh.

Ketua Dewan Kesenian Kalimantan Barat yang akrap disapa Pak Sata itu yang senantiasa berpenapilan necis dan nyeni itu bijak dan bertutur dengan gaya sistematis dan tertata. Ia memang matan menyelami, khususnya seni sastra mendu. Mendu sejenis teater di atas panggung yang menghibur penonton dan hidup di kampung-kampung Melayu, tak terkecuali di Kalbar. Pak Sata konsisten merawat mendu sehingga kerap muncul di media massa. Beliau punya proyek pentas mendu yang disuguhkan kepada publik di penghujung 2015. Namun begitulah ajal. Ajal tak pandang kapan dan di mana serta kepada siapa.

Sataruddin Ramli meninggalkan istrinya, Kartini Chairudin (55) dan tujuh anaknya, yakni Sarah Januarti (34), Rahim Budiman (33), Suri Hartanti (32), Sari Maulita (31), Iman Prasetia (28), Firman Nurhaq (25) dan yang bungsu, Hikmah Nurzaman (22).

Sebagai pengiat seni Mendu, Satarudin pernah menuturkan perihal sejarah dan perkembangan Mendi ke beberapa media. Dijelaskannya, Dituturkannya, kesenian Mendu di ambil dari nama sebuah kesenian yang berjudul Dewa Mendu. “Kesenian ini berasal dari Mempawah,” ungkap Satarudin Ramli, sang sutradara teater ini menegaskan.

Satarudin Ramli, mengatakan, menurut sejarah, kesenian Mendu telah ada sekitar  1871 lalu. Kesenian tersebut diawali dengan tiga orang putra Mempawah dari kampung Malekian Kampung Semudun yang bernama Ahmad Antu, Ahmad, dan Kapot, mengabdikan diri guna memajukan masyarakat di lingkungannya dengan masing-masing keahlian atau keterampilan yang mereka kuasai. Ahmad Antu mengajar silat mengajar pencak silat. Ahmad memberantas buta huruf mengajarkan tulis baca abjad dan Kapot mengajar mengaji.

Satarudin menambahkan, pada waktu luang, selesai mereka mengabdi, mereka bersama murid-muridnya sering berlatih kesenian. Sampailah pada suatu ketika saat mereka menampilkan hasil berlatih, meraka kebingungan memberi nama kesenian yang akan mereka tunjukan saat itu. secara tidak kebetulan judul cerita yang diangkat saat itu adalah Dewa Mendu dan akhrinya mereka sepakat bahwa kesenian ini di beri nama kesenian mendu.

Selanjutnya kesenian Mendu terus berkembang serta hidup subur di kalangan masyarakat setempat hingga terdengar oleh pihak kerajaan Mempawah dan raja pun ingin menyaksikan Kesenian Mendu. Ternyata raja sangat tertarik dan menyukai sekaligus menyatakan bahwa kesenaian mendu merupakan kesenian milik rakyat di kawasan Mempawah. “Itulah sepintas kilas asal kesejarahan kesenian mendu,” katanya.

Meski telah tiada, Satarudin Ramli tetap hidup dalam ingatan insan seni dan masyarakat Kalimantan Barat, dan Indonesia serta Asia Tenggara yang berlatar budaya Melayu.(fed/int)

 

comments powered by Disqus