Minggu,17 Desember 2017 | Al-Ahad 28 Rabiul Awal 1439


Ari

Hasan Yunus | Minggu, 22 Agustus 2010 11:46 WIB

Seorang yang sudah mapan selalu memandang dan mengatakan tentang para pendatang baru di bidangnya yang biasanya tentu saja lebih muda atau jauh lebih muda usianya dari dirinya dengan ungkapan yang bermuatan pejoratif. Seorang seniman mapan sering mengungkapkan tentang mereka yang baru datang itu sebagai seniman muda yang makna muda-nya bukan ditekankan pada usia saja, tapi lebih-lebih pada karya yang konon belum kokoh. Rampai sekali ini akan melihat peristiwa tersebut dengan sudut-pandang yang paling dekat dengan kebenaran karena karya seni sejati tak ada hubungannya dengan usia kreatornya. Usia hanyalah angka-angka.

PERISTIWA ini terjadi besok atau lusa, di masa depan yang tak terlalu jauh. Di podium sebuah ruangan yang penuh oleh para seniman dari berbagai bidang, seorang lelaki telah selesai berceramah tentang kesenian yang tak diberi sempadan usia para pencipta karya seni. Ia tidak turun dari podium karena siap untuk menjawab respon dari peserta ceramahnya.

Setelah menerima tanya dan memberi jawab beberapa peserta, tiba-tiba seorang anak lelaki kira-kira berusia tujuh tahun yang duduk di samping seorang perempuan mendekati mikrofon, bersikap sempurna dan menabik dengan gaya militer Inggeris yang menempat­kan telapak tangan kanan ke depan dan berkata, ‘’Assalaamuala­ikum! Namaku Ari! Izinkan saya menggambar dan coba Anda terka gambar apa yang saya buat!’’ katanya. Ia lalu mengeluarkan sebuah buku gambar besar dan menggambar sesuatu di halaman pertama yang masih kosong seperti langit. Sebentar saja ia selesai menggambar dan menunjukkan karyanya itu kepada sang penceramah.
“Gambar siluet sebuah topi,” pikir sang penceramah.

Namun sebelum menjawab ia cepat dan keras berpikir, Anak ini sedang mengerjain daku, barangkali disutradarai oleh ibunya. Segera ia sadar bahwa pikiran tentang barangkali disutradarai oleh ibunya ialah semacam kecurigaan a la Natalie Sarraute yang mengatakan bahwa abad kedua puluh yang baru berlalu sebenarnya ialah abad kecurigaan. Hal itu sama dengan menolak eksistensi seorang anak kecil di gelanggang seni.

Sebab? Sebab gambar siluet topi ini pernah ia jumpai dalam sebuah buku. Energi dikerahkannya untuk mendapatkan jawaban pertanyaan di mana ia pernah melihat gambar itu. Bongkaran ingatan dari setimbun buku dan kertas-kertas yang berserakan dari masa lalu dilakukannya lebih cepat dari detik.

Eureka! Gambar seperti itu ada dalam buku Le petit prince karya Antoine de Saint-Exupery yang pernah diterjemahkan oleh Asrul Sani bersama Siti Nuraini tahun 1952 sebagai Pangeran Muda. Kemudian diterjemahkan kembali oleh Wing Kardjo tahun 1979 menjadi Pangeran Cilik.

Telah terjadi ketegangan antara anak kecil dengan orang dewasa dalam menafsir gambar siluet itu. Orang dewasa mengatakan itu gambar sebuah topi, tapi anak kecil berkeras mengatakan itu gambar gajah ditelan ular. Ternyata imajinasi seorang anak kecil jauh lebih luas dan bernyawa dibandingkan dengan imajinasi yang dimiliki oleh orang dewasa. Sejak itu sang pangeran yang menjadi tokoh buku itu tak percaya kepada orang dewasa yang imajinasinya sering miskin dan kering kerontang mungkin karena terlalu percaya pada realita tanpa mau menambahnya dengan imajinasi.

Sang penceramah tersenyum dan memandang tepat-tepat pada wajah Ari. Ia lalu berkata, ‘’Itu gambar kau dalam perut ular.’’

‘’Mengapa bukan kau dalam perut ular?’’ bantah Ari.

‘’Kalau aku dalam perut ular siluet itu harus lebih besar.’’

Terdengar tepukan sayup. Dengan tangannya yang rincus dan lembut ibu Ari bertepuk. Lalu diikuti oleh gemuruh tepuk tangan para hadirin.

Acara ceramah yang peristiwanya terjadi besok atau lusa di masa depan yang tak terlalu jauh itu selesai sudah. Tapi ruangan itu penuh dengan suara-suara. Ari telah membuat suatu peristiwa budaya yang disambut dengan gemuruh.

Biasanya seorang pendatang baru di gelanggang seni apalagi ia seorang anak seusia Ari akan disambut oleh seorang seniman mapan seperti sang penceramah dengan nada merendahkan derajat seperti the greenhorn karena dianggap tanduknya masih hijau atau le blanc-bec sebab paruhnya masih putih atau der Gruenschnabel yang menyatakan moncongnya hijau atau ‘’anak bawang, ubun-ubun masih lembut, bawang kontong, mambu kencur’’ dan lainnnya.

Kalau itu yang terjadi maka jangan diharap kita mengenal persahabatan seperti yang terjadi antara Arthur Rimbaud dengan Paul Verlaine yang melahirkan penyair sangat besar Rimbaud pada usia enambelas. Juga tak akan dikenal persahabatan antara Raymond Radiguet dengan Jean Cocteau yang hasilnya ialah seorang novelis berusia delapan belas dengan karya yang hingar Le diable au corps atau ‘’Rasukan setan’’. Tak akan pernah ada Francoise Sagan yang dalam usia delapan belas menghasilkan Bonjour tristesse atau ‘’Selamat pagi, dukacita!’’.

Tak akan pernah ada seorang gadis penyair ajaib berusia tujuh tahun bernama Minou Drouet yang membangkitkan kagum Francois Mauriac dan Olivier Lancelot yang menggoncang arena sastra Perancis pada usia duabelas dengan karyanya Le Gnomisnakars, Christopher Paolini meluncurkan best-seller-nya berjudul Eragon di Amerika pada usia lima belas.

Kenapa contoh-contoh itu dari negeri luar semua? Di negeri kita pun ada nama-nama mereka yang sudah menghasilkan karya sastra di usia muda. Misalnya Ajip Rosidi yang menghasilkan novel pada usia empat belas, lalu nama-nama masa kini Theresia Citraningtyas, Abdurahman Faiz dan Sri Izzati.

Sang penceramah kita seperti Robin Williams, guru yang memakai puisi untuk membangkitkan spirit para murid dalam film Dead Poets Society atau Katherine Watson dalam Mona Lisa Smile. Memang dunia memerlukan guru pandai dan tak membutuhkan guru bodoh. Si bodoh ialah ia atau mereka yang cuma seperti beo yang cuma pandai menyitir sahaja sambil membuat fotokopi, sedangkan sang pandai atau sang bijak senantiasa menemukan yang baru dan senantiasa membaru, tak habis-habisnya sampai usia renta bergaul dan bertempur dengan tafsir dan terus saja berupaya menemukan semangat karya-karya seni. Jika Anda menjumpai orang seperti sang pencer­amah kita jangan biarkan ia berlalu dari dunia ini tanpa tanda, jadilah seperti Ari yang langsung menjadikan ia ayah rohani. Selalu ada ketegangan antara kreativitas dan kematian; itulah sebabnya orang memerlukan cinta. Di sinilah timbulnya kesadaran bahwa usia hanyalah angka-angka.***

comments powered by Disqus