Rabu,24 Mei 2017 | Al-Arbi'aa 27 Syaaban 1438


Beranda » Kolom Riau Pos » Hasan Junus » URAT WAKTU

URAT WAKTU

Yusmar Yusuf | Minggu, 01 Januari 2017 09:19 WIB

Bungkuslah hari-hari mu dengan cinta. Jinjitlah minggu-minggu dengan kasih. Lalu, jalanilah bulan-bulan itu dengan sayang. Jangan menggadai benci ke pasar loak nan lusuh. Di situ waktu berlalu dalam kadar serba vulgar. Waktu yang berlari di luar instansi diri. Manusia adalah makhluk yang “mewaktu”, makluk yang memberi makna tentang perjalanan matahari dari fajar hingga senja berikutnya. Begitulah kalender dibentuk, lalu dijahit menjadi susunan tahun, abad dan alaf. Kita berjalan dan melaksanakan segala kisah dalam bungkus waktu, yang bergerak ke depan. Waktu, mewaktu dan kemewaktuan adalah sesuatu yang tertanam di dalam diri. Inilah yang disebut sebagai waktu substansi. Waktu yang berada di dalam diri. Seseorang yang sedang mengalami musibah; “ibu terpeleset dan  jatuh di kamar mandi, lalu tak sadar diri, dilarikan ke rumah sakit, dan sang anak mendampingi  ibu sepanjang perjalanan ambulans menuju  rumah sakit, dalam cemas dan gemetar. Dia menjalani waktu yang begitu lama, lamat dan serba degup”. Segala doa dipanjatkan untuk kesembuhan ibu, segala ayat dibaca, dan waktu begitu lekas bergerak. Tak imbang dengan waktu arloji, atau waktu yang berada di dalam kronometer (penunjuk waktu) di dalam smartphone, tak jua selari dengan waktu yang bergerak dalam pendaran perjalanan matahari sejak pagi hingga senja dan malam, malam, dan malam-malam berikutnya.

Kalender itu diperbuat oleh manusia sebagai hasil dari interaksi dengan alam dan peristiwa-peristiwa yang membingkainya. Peristiwa alam itu menjadi penanda sekaligus “penjelas” tentang sesuatu dan hal-ihwal; musim menyemai, musim menanam, musim menggubah, musim menyiang dan musim panen. Waktu dalam kalender , sejatinya adalah gayutan sejumlah harapan bernama panen (sesuatu yang berada di masa datang). Sesuatu yang berada di masa depan, adalah hasil dari tindakan kekinian, atau serba kini. Maka, “waktu sejati” adalah apa-apa yang berada di depan mata dan di depan hidung, sesuatu yang menggejala dalam kaidah kekinian. Oleh sebab itu, Syaidina Ali (dan sering saya ulang-ulang) memberi takrif yang sarat muatan anagogis tentang waktu; bahwa “waktu adalah satu entitas yang dihimpit oleh dua ketiadaan”. Dua ketiadaan itu adalah masa lalu dan masa datang. Sesungguhnya waktu itu adalah sesuatu yang terhidang dan terhampar pada detik ini, sesuatu yang berada di antara dua ketiadaan (masa lalu yang tiada dan masa depan yang juga tiada). Untuk itulah, dalam memaknai waktu dikenal adagium pendek bahwa “kesempatan datang hanya satu kali”. Maka, ragut dan renggutlah kesempatan itu.

Kesempatan (chance) tak terhimpun di dalam kalender.  Pun tak tertera dalam arloji dan jam dinding. Kesempatan yang hendak diragut dan direnggut itu adalah hasil atas kesadaran waktu, menjalani ke-mewaktu-an , sekaligus kemampuan kita meringkus rasa takut dan rasa cemas, demi memuliakan waktu yang tengah terhidang di depan mata. Waktu, selalu dijelaskan secara analogis; “time is money”, “waktu laksana pedang”, dan Syaidina Ali (sekali lagi) sekaligus mendorong kita untuk menjadi anak zaman (Ibn al waqt); menjadi anak dari waktu yang berdetak dalam cinta, dalam kasih dan sayang. Maka, cat lah hari-hari mu dengan sayang. Jahit dan lukislah bulan dan tahun-tahun mu dengan cinta. Tak menggadai benci, tak menggoreng geram dan kesumat dari pagi ke pagi. Bahwa secara spiritual kita anjurkan menjalani malam dalam tidur yang damai. Tidur yang diawali dengan dzikir dan menyebut nama-nama indah Yang Maha Kuasa. Dan ketika bangun subuh dan pagi hari, hati dan lidah tidak diawali dengan umpatan dan dendam kepada seseorang. Buanglah nanah dan kesumat yang selalu membingkai pagi dan hari-hari, yang selalu kita anggap yang lazim dan awam.

Kisah perjalanan yang paling berat adalah memulai pagi dan menutup malam. Jika pagi diawali dengan benci dan dendam, maka pasangannya akan menjelma menjadi malam yang kesumat. Menjadi anak zaman (ibn al waqt) itu adalah sebuah kemampuan mengeja dan menyusun lalu menjahit segala hal-ihwal yang bergerak progresif. Bahwa kehidupan itu bergerak ke depan, bukan menelikung ke belakang. Anak-anak yang kita lahirkan membentuk dunianya sendiri, mitosnya sendiri, heronya sendiri, cita-citanya sendiri, sejalan dengan perkakas-perkakas capaian peradaban yang tersedia dan mengepung diri mereka. Kita begitu bangga melihat ana-anak yang lahir dalam kaidah dan semangat “kiwari” (kekinian); menjadi segerombolan yang amat mandiri, independen, terencana dalam serangkaian agenda yang serba terukur dan presisi. Kenapa ini terjadi? Karena mereka dilahirkan oleh “mesin waktu” yang dibingkai segala jenis perkakas kebudayaan dan teknologi yang mengepung dalam kaidah serba digital, serba telus, online, mudah diakses dan didaras dalam ukuran detik.

Kita yang tak kuasa berbelanja dengan menggerakkan tubuh menuju pasar, mesti mengeluarkan mobil dari garase, lalu menekan pedal gas, bercumbu dengan segala kemacetan jalan raya, bisa dihentikan oleh ujung jari yang menekan tuts komputer atau pun smartphone; belanja online pun terjadi. Inilah “waktu” yang terhidang di depan mata. Semua itu berkat capaian serba gelisah oleh sehimpunan orang yang senantiasa mencari dan mencari sesuatu yang baru, kreatif, sehingga bumi yang hanya satu ini, dipenuhi oleh serat-serat maya yang bertujuan memudahkan kehidupan manusia muka bumi. Lalu, dalam “ke-me-waktu-an” itu, manusia harus bercumbu sekaligus cemburu dengan segala bentuk keragaman. Manusia yang hanya satu jenis di muka bumi ini, menempati ruang-ruang yang berbeda, sehingga mengalami klimatisasi (climatization); baik oleh suhu, kelembaban udara, makanan, alam yang keras, hulu sungai dan bentangan samudera, pegunungan, lembah raya, padang pasir. Nama-nama geografis itu bukan sekedar bunyi dan pesona, tapi sekaligus membentuk dan pembentuk ragam kolektivitas manusia yang bersangkar di dalamnya. Lalu, manusia yang hominin (yang satu) itu tampil dalam ragam bentuk (tinggi, besar, kecil, rendah, mancung dan pesek). Lalu, ragami warna kulit, termasuk keragaman impian kolektif, cita-cita kebudayaan dan alas nilai sebagai fondasi hidup yang tak pernah sama. Keragaman ini menjadi kekayaan yang tak berhingga yang ditaburkan kepada manusia, sehingga manusia yang satu bisa belajar dengan manusia yang lain, sehingga dia berpembawaan saling menggenapkan. Waktu yang berdetak dalam diri manusia, dimaksudkan untuk menelusuri urat dan otot kebudayaan nan ragam muka bumi. “Ke-me-waktu-an” yang diimpikan untuk menyelenggarakan dunia (bawaan) serba ragam itu, tiada lain yang harus ditempuh; besar jiwa, pikiran yang terbuka, membungkus hari-hari dengan cinta, menjinjit dan menjahit tahun dengan kasih sayang.  Pinggirkanlah kebencian barang sejenak. Keagungan akan terhidang berjenak-jenak.***

comments powered by Disqus