Minggu,17 Desember 2017 | Al-Ahad 28 Rabiul Awal 1439


Beranda » Kolom Riau Pos » Chaidir » Kemenangan yang Tertunda

Kemenangan yang Tertunda

Chaidir | Senin, 02 Mei 2016 11:43 WIB


HASIL seri 1-1 pertandingan menegangkan antara Manchester United v Leicester City malam tadi menjadi kemenangan yang tertunda bagi Leicester. ”Si Rubah” kelihatannya ditakdirkan berpesta di kandang sendiri, ketika pada (7/5/2016) pekan depan menjamu Everton di King Power Stadium. Dengan catatan, Tottenham Hotspur yang bertandang ke Stamford Brigde, markas Chelsea, dua hari lagi berhasil mengalahkan Chelsea. Bila Hotspur kalah, maka Leicester akan langsung pesta kemenangan sebagai Juara Liga Primer Inggris 2015/2016, karena pointnya tidak akan terkejar oleh Hotspur.

Malam tadi sejarah belum jadi ditorehkan oleh ”Si Rubah” di Old Trafford, Manchester. Leicester sang anak singkong gagal mengalahkan klub raksasa Manchester United, di Theater of Dream, kandang MU yang selama ini memang sarat tradisi dan menakutkan tim tamu. Apa yang dikhawatirkan oleh Louis Van Gaal pelatih MU, para pemain dan pendukung MU, Leicester akan berpesta di Old Trafford, tidak terjadi. MU bertekad, silahkan Leicester menjadi Juara Liga Premier musim ini, tapi jangan akibat kekalahan MU di kandang MU itu sendiri. Ini akan sangat memalukan. ”Si Rubah” malam tadi gagal menggunakan jurus favorit pelatih Leicester, Claudio Ranieri, serangan balik yang selama ini mematikan lawan.

Namun apapun hasil pertandingan MU v Leicester malam tadi, seperti ditulis oleh Hary B Kori’un dalam Catatan Sepakbolanya, “Leicester, Proletar dan Pertarungan Kelas” Riau Pos (29/4/2016), Leicester terlalu fenomenal untuk tidak dibicarakan. “Ini memang bukan perang kelas, tapi keduanya tetap terlihat dan harus dibicarakan.” Begitu Hary menutup catatan panjangnya yang sangat menarik dan komprehensif.

Sesungguhnya, siapapun yang menjadi juara kompetisi Liga Premier Inggris yang dikenal sebagai kompetisi terbaik dan terketat saat ini, pasti tercatat menorehkan sejarah, tak terkecuali bila itu direbut misalnya oleh MU, Manchester City, Arsenal, Chelsea, Tottenham Hotspur, atau Liverpool. Namun performa Leicester sebuah klub kecil anak bawang yang musim lalu nyaris terdegradasi, dan kini tinggal selangkah lagi jadi juara, adalah sebuah fenomena dan mengirim banyak pesan kepada masyarakat pecinta olahraga di seluruh dunia khususnya sepakbola.

Pesan pertama, uang ternyata bukan segalanya dalam olahraga. Faktanya, seperti ditulis Hary B Kori’un, total harga semua pemain Leicester hanya 55 juta euro, uang itu hanya cukup untuk membeli separuh Gareth Bale saat pindah dari Tottenham Hotspur ke Real Madrid. Seluruh total harga pemain Leicester juga lebih rendah dari harga seorang Raheem Sterling saat dibeli Manchester City dari Liverpool senilai 68 juta euro, apalagi dari Anthony Martial yang dibeli MU dari AS Monaco senilai 80 juta euro. Seperti kita lihat, klub raksasa kaya raya dengan pemain-pemain bintang tak menununjukkan tajinya.

Pesan kedua adalah motivasi. Bila pemain-pemain klub miskin seperti Leicester dipompa semangatnya dengan sentuhan mengena, yang menyentuh harga dirinya, mereka akan bermain dengan sepenuh hati. Para pemain akan bermain dengan mengeluarkan seluruh potensinya. Sementara pada bagian lain, para pemain bintang hanya mengeluarkan sebagian kecil dari potensinya.

Pesan ketiga, jangan main-main dengan kekuatan super tim. Pemain bintang umumnya memiliki karakter yang kuat, tapi sayangnya sukar menyatu dalam sebuah tim yang solid karena masing-masing memiliki ego yang sudah disatukan oleh sang pelatih. Sebaliknya, pemain-pemain yang rata-rata saja, bila dimotivasi secara tepat akan memiliki great commitment, sebuah komitmen bersama yang dahsyat.     

Pesan keempat, Leicester, sebuah kota kecil di Inggris, berhasil mengubah stereotip rubah dari hewan yang licik menjadi tampil gagah perkasa sebagai pahlawan dan kebanggaan seluruh warga kota Leicester, bahkan seluruh Inggris Raya, dan bahkan agaknya juga menjadi kebanggaan masyarakat pencinta sepakbola di seluruh dunia. Pesan kelima, Liga Premier Inggris masih membuktikan bola itu bundar, sehingga si pungguk boleh merindukan bulan.***

comments powered by Disqus