Minggu,20 Agustus 2017 | Al-Ahad 27 Zulkaedah 1438


Beranda » Kolom Riau Pos » Chaidir » Menjinakkan Serigala

Menjinakkan Serigala

Chaidir | Senin, 18 Januari 2016 10:18 WIB

LETNAN Satu John J Dunbar dalam kesendiriannya di sebuah pos terpencil di Dakota Selatan atau Fort Sedwick, suatu wilayah pedalaman barat Amerika yang dikuasai oleh Suku Indian, berteman unik dengan seekor serigala liar. Dunbar, seorang serdadu kulit putih, dengan darah petualangnya, mempertaruhkan nyawa tinggal sendiri di pos terpencil tersebut.

Ada dua makhluk yang dapat mengancam jiwa Sang Letnan di tempat sunyi seperti itu. Pertama, serigala liar ganas bertaring tajam yang bisa merobek-robek tubuhnya bila-bila masa; kedua, Suku Indian, yang sebagian di antaranya, tak akan segan-segan menghabisi nyawa Dunbar. Tapi kedua “predator” tersebut bisa dibujuk, diajak bersahabat oleh Dunbar.

Kisah tersebut difilmkan dengan judul Dance With Wolf – Berdansa Dengan Serigala, yang diangkat dari novel karya Michael Blake dengan setting cerita pada abad ke-19. Film yang dibuat 25 tahun lalu itu sukses meraih tujuh penghargaan piala Oscar. Dances with Wolf adalah film yang tenang dengan cerita yang bijaksana berlatar kepahlawanan. Kisah Dunbar yang berhasil melunakkan hati pimpinan Suku Indian Sioux, dan berteman dengan mereka, dan sekaligus menggambarkan bahwa suku Indian juga memiliki hati mulia dan penyayang, adalah satu bagian yang menyentuh dari film tersebut.

Bagian lain yang tak kalah menyentuhnya adalah pertemanan Dunbar dengar seekor serigala liar yang sebenarnya mendekat ke pos Dunbar untuk merampas makanan yang bisa dirampas, tak terkecuali Dunbar sendiri bila sang letnan bersikap lengah. Tapi hari demi hari, persahabatan tulus yang ditunjukkan oleh Dunbar, dibalas oleh sang serigala dengan menunjukkan juga instink persahabatan. Semula saling intai, menjaga jarak, akhirnya mereka berteman.

Serigala berwujud nyata berupa hewan pemakan daging (carnivora) adalah hewan yang berbahaya bagi manusia. Namun serigala liar ini, dengan mudah bisa diatasi. Bila tidak bisa dijinakkan, bisa dibunuh apabila membahayakan keselamatan jiwa manusia. Dan serigala ini tentu saja akan mati dan kalau mati jelas ada bangkainya. Namun serigala berwujud simbol kebuasan yang terdapat dalam diri manusia, tidak bisa dibunuh, dia hanya tidur atau bermalas-malasan.

Serigala yang berkeliaran di gurun dan melolong menakutkan di malam kelam jelas wujudnya. Tapi serigala sebagai simbol jahat yang bersembunyi dalam diri seseorang tak jelas wujudnya, tak berbentuk, tak dikenali,  dan tak ada mati-matinya. Atau setidak-tidaknya tak pernah ada riwayat kematiannya mulai dari zaman Yunani Kuno sampai era IT sekarang.

Serigala yang tak bisa mati-mati inilah yang sangat berbahaya. Namun sebenarnya kita beruntung, serigala yang bermukim dalam diri manusia itu lebih banyak “tidur” daripada bangun kemudian melolong. Manusia dengan mudah bisa menina bobokkan serigala jenis ini untuk menyuruh mereka tidur panjang. Sesekali serigala ini akan tersentak dari tidurnya. Dan bila dibiarkan maka serigala ini muncul ke permukaan dan manifestasinya akan tergambar dari perbuatan buruk sang manusia.

Serigala inilah yang berkeliaran dan mempertontonkan kebuasannya beberapa hari lalu di Jalan MH Thamrin Jakarta. Dia menguasai tuannya untuk memberangus semua sudut logika akal sehat. Serigala jenis ini sesungguhnya bisa kita kenali dan dijinakkan dengan melakukan komunikasi intrapersonal, berdialog dengan hati sanubari. Serigala itu tak berwujud seperti serigala yang berteman dengan Letnan Dunbar di Dakota Selatan itu.***

comments powered by Disqus