Senin,23 Oktober 2017 | Al-Itsnain 2 Safar 1439


Beranda » Kolom Riau Pos » Chaidir » Sarang Burung di Kepala Serigala

Sarang Burung di Kepala Serigala

Chaidir | Jum´at, 20 November 2015 16:01 WIB

KISAH ini bukan terjadi di Indonesia atau di Riau, Negeri Laut Sakti Rantau Bertuah ini. Tidak. Jadi tidak perlu ada yang merasa tersindir. Kisah Ikkyu adalah sebuah kisah nun di sana di seberang samudra, di Negeri Sakura, diceritakan oleh Widjajono Partowidagdo sebagai ilustrasi dalam bukunya, ”Memahami Analisis Kebijakan” (1999).

Buku ini ditulis oleh Prof Widjajono Partowidagdo pada awal reformasi, jauh sebelum ia diangkat sebagai Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (19/10/2011), sebuah jabatan yang tak lama diembannya karena beliau tewas dalam sebuah pendakian di Gunung Tambora, NTB pada 21 April 2012. Sebuah kepergian yang disesali karena sang profesor adalah seorang panutan, low profile, tak peduli tentang pencitraan diri, fokus pada hal-hal yang bermanfaat, berintegritas tinggi  dan tetap menjaga intelektualitas diri.  

Suatu hari jembatan di desa rusak oleh badai sehingga aktivitas masyarakat terganggu. Sudah beberapa kali dilaporkan kepada pamongpraja ternyata tidak digubris karena hanya menyangkut nasib orang desa. Ikkyu kemudian mengarang cerita dan diberitahukan kepada sahabatnya, seorang jenderal, bahwa di hutan di seberang jembatan, ada burung yang bersarang di atas kepala serigala. Karena tertarik sang Jenderal berniat melihatnya sendiri. Begitu mengetahui Jenderal akan datang, dengan tergesa-gesa pamongpraja memerintahkan jembatan diperbaiki. Walaupun kemudian tidak melihat burung bersarang di atas kepala serigala, Jenderal puas karena dipuji Ikkyu bahwa dia sudah berbuat baik kepada masyarakat. Bangsa Jepang memang bangsa yang menghormati kecerdasan.

Ribuan kilometer di selatan, di sebuah negeri nusantara, sebuah negeri yang menganut budaya paternalistik, pemimpin merupakan panutan. Keteladanan dalam pola pikir dan perilaku pemimpin ditiru oleh rakyat, baik atau buruk. Dalam petuah adat masyarakatnya diingatkan, elok pemimpin eloklah negeri rusak pemimpin binasalah negeri. Namun selalu ada kesadaran, pemimpin adalah manusia yang tak pernah luput dari kesalahan, seperti  kata pepatah, tak ada gading yang tak retak.

Di sinilah sebenarnya kekuatan filosofi pemimpin dalam ungkapan budaya Melayu negeri di nusantara itu, bahwa seorang pemimpin hanya ditinggikan seranting dan didulukan selangkah. Artinya,  pemimpin tak boleh berjarak terlalu jauh dari rakyatnya. Jarak antara kekuasaan dan rakyat (power distance) harus sedemikian dekat sehingga tak terjadi jurang aspirasi yang lebar antara rakyat dan kekuasaan. Bila jarak itu terlalu jauh, maka keputusan yang dibuat oleh kekuasaan boleh jadi tak sesuai dengan harapan rakyat.

Dengan jarak tak berjarak itu, penyempurnaan perencanaan program pun bisa mendapatkan umpan balik secara cepat dan tepat melalui masukan atau kritik yang disampaikan oleh rakyat.Bila itu sebuah kritik, maka para pemimpin tidak boleh tidak,  mutlak harus rela menerimanya. Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew (alm) memberi kiat bagaimana harusnya seorang pemimpin bersikap terhadap kritik rakyatnya. “Kapanpun, setiap saat, Anda dapat menghujat Perdana Menteri, dan selama itu bukan dusta atau dusta kriminal, Anda tidak akan apa-apa.  Anda dapat mengatakan apapun. Anda dapat menulis buku mengenainya, menghujatnya. Selama itu bukan fitnah, silahkan.”

Sebenarnya nasihat itu biasa saja, sebuah keniscayaan bagi seorang negarawan. Bila komunikasi terjalin baik antara kekuasaan dengan rakyatnya, maka pesan dari kedua arah bisa sampai utuh, kecil kemungkinan terjadi distorsi sehingga menimbulkan miskomunikasi atau misinterpretasi. Kuncinya, mungkin kita harus belajar cerdas berkomunikasi seperti Ikkyu.

***

 

comments powered by Disqus