Senin,19 November 2018 | Al-Itsnain 10 Rabiul Awal 1440


Beranda » Sastra » Cerpen » Panggilan Jiwa

Panggilan Jiwa

Oleh: Delvi Yandra | Senin, 23 Juni 2014 11:36 WIB

Akhirnya, Mustar ikut ke medan perang. Ia pergi untuk membunuh musuh-musuh. Sebagai seorang prajurit, ia tentu saja bangga. Sebuah pistol laras pendek dengan enam buah pelor, ia berangkat naik jip. Ia pergi bersama dua kompi prajurit yang penuh dengan semangat membara untuk membasmi musuh-musuh. Sepanjang perjalanan, ia berpikir bahwa perang akan memangkas usianya lebih cepat daripada seorang penulis novel peperangan.

Apabila ia mati di medan laga, tentu tidak akan membuat ia menjadi cemas. Tidak ada seorang pun yang kelak menangisinya. Mustar tidak akan meminta siapapun untuk menguburnya dengan cara baik-baik. Kalau ia harus berakhir sebagai debu, ia akan lebih bersyukur karenanya.

Setelah merobek pertahanan musuh, ia maju ke barisan paling muka dan berkata kepada salah seorang prajurit. “Sekarang aku ingin membunuh seseorang bernama Salijo!”

Prajurit itu pun menceritakan bagaimana ia dikirim pada tiap arena pertempuran. Bagaimana ia menyaksikan orang-orang mati dengan sangat mengenaskan. Tetapi Mustar tak bergeming.

“Setiap musuh,” katanya. “Adalah musuhku. Begitu juga Salijo.” Para prajurit menduga bahwa agaknya Mustar akan membunuh musuh-musuh tertentu saja.

“Jadi?” kata Mustar. “Kalian pikir aku seorang yang pandir? Laki-laki ini justru perlu diperhitungkan. Ketika kalian pergi membunuh semua musuh. Kupikir, aku perlu juga berperang. Aku ingin membunuh Salijo. Itulah mengapa aku ada di sini. Aku tahu, ia seorang penipu. Seorang pengkhianat. Beberapa kali ia membuat aku terlihat bodoh di depan perempuan yang kucintai. Itu kisah lama. Kalau kalian tidak percaya, aku bersedia menceritakan sedikit kisah itu.”

‘Tidak perlu,” jawab salah satu dari mereka.

“Baiklah,” tukas Mustar. “Katakan padaku di mana Salijo, dan aku akan pergi bertarung dengannya.”

Mereka sama sekali tidak tahu.

“Oh, tidak apa-apa,” katanya. “Aku akan tanya kepada yang lainnya saja. Cepat atau lambat, aku akan menghajarnya.”

Mereka berusaha mencegah Mustar karena hal itu mustahil dilakukan. Mereka telah ditugaskan untuk membunuh semua musuh. Mereka bahkan tidak tahu siapa Salijo ini.

“Kalian lihat,” Mustar mulai ngotot. “Sepertinya aku sungguh harus menceritakan kisah itu kepada kalian karena laki-laki itu sangat mengerikan. Kalian juga harus membunuhnya. Ikutlah bersamaku.”

Tetapi mereka tetap acuh. Sementara itu, Mustar berusaha memberikan suatu gambaran. “Maaf, mungkin bagi kalian tidak ada artinya apabila aku membunuh salah satu saja dari musuh-musuh ini. Tetapi aku tidak akan membiarkan siapapun yang mengabaikan Salijo.”
Mereka mulai kehilangan kesabaran. Salah satu dari mereka berusaha memberikan nasehat dan menjelaskan apa itu peperangan sehingga Mustar mengerti bahwa dirinya tidak boleh hanya membunuh musuh tertentu.

Mustar mengangkat bahunya. “Apabila demikian,” katanya. “Kalian tidak boleh menghalangiku sekarang.”

“Kau prajurit dan kau harus tetap bersama kami.”

Mereka pun meneriakkan yel-yel. Barisan maju ke depan. Tak terkecuali Mustar. “Satu-dua, satu-dua…”

Mustar tampak tidak senang. Ia membunuh banyak sekali musuh hanya untuk sekedar mendapatkan Salijo, atau salah satu dari keluarganya. Ia terus merangsek ke depan—membabi-buta. Sangkurnya melesat merobek dada musuh-musuhnya. Saat terdesak, popor senjatanya tak urung menghantam wajah mereka.

“Apabila aku tidak membunuh Salijo,” katanya, “Aku hanya membunuh musuh-musuh yang tidak berguna sama sekali.” Ia pun terperangkap dalam kesialan. Mereka memberikan pujian kepada Mustar atas musuh-musuh yang telah dibunuhnya. Tetapi tetap saja ia tampak tidak bahagia.

Sementara itu, mereka terus memberikan pujian yang hebat. Tak lupa pula mereka kalungkan medali terbaik kepada Mustar atas prestasinya. Pada satu kesempatan, mereka mengajaknya minum-minum.

“Kau pantas mendapatkannya.”

“Biar aku yang traktir.”

“Ayo minum lebih banyak lagi.”

Mustar hanya menanggapi dengan datar. “Berapa banyak pun aku membunuh hari ini, besok atau beberapa pertempuran lagi, tetap saja laki-laki brengsek itu tidak kutemukan.”

Di dalam kepalanya, hanya ada peperangan. Hatinya memanggil-manggil ingin mengoyak tubuh Salijo.

***

Cahaya di langit berpendar. Memudar. Suara mortir terdengar di kejauhan. Pelor-pelor dimuntahkan. Namun, musuh-musuh telah menyerah sebelum Mustar menemukan Salijo. Ia menyesal telah membunuh banyak orang yang tidak berguna. Terutama sejak ia hidup dalam damai dan kemenangan.

Mustar meletakkan medali-medalinya ke dalam sebuah ransel. Ia pun pergi menelusuri kota sendirian. Ia juga mendatangi kota-kota yang pernah ditaklukkannya.

Di setiap tempat yang dilewati, ia selalu bertanya tentang Salijo. Meskipun musuh-musuh telah menyerah, tetapi apabila ia belum bertemu Salijo hidup maupun mati, ia tidak akan puas.

Di sebuah kota, ia mendengar kabar bahwa istri dan anak-anak Salijo masih hidup. Mereka tinggal di kota itu. Mustar berusaha menahan diri dan bertanya dengan perasaan gembira.

“Ya, kami melihatnya di arena kuda pacuan beberapa hari yang lalu. Ia datang bersama seorang perempuan. Istrinya barangkali.”

“Oh, jadi saudagar ia sekarang?”

“Mungkin. Perempuan itu sangat cantik, bahkan mereka tidak sungkan-sungkan mengumbar kemesraan di sana.”

“Ya, seandainya istriku secantik itu. Mungkin aku akan dengan senang hati membersihkan ranjang seumur hidupku.”

“Ha-ha-ha…”

Alangkah geram Mustar. Giginya gemeretap. Amarahnya mendidih hingga ke ubun-ubun. Maka, ia pun bergegas menemukan mereka. Tak lama, di dalam sebuah lumbung, Mustar membunuh istri dan anak-anak Salijo. Singkat saja kejadiannya, bahkan tidak membutuhkan waktu lama bagi Mustar untuk menghabisi mereka.

Tetapi, tetap saja ia membunuh demi kesia-siaan belaka. “Bagus. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” katanya.

Orang-orang di kota menyayangkan apa yang telah dilakukan Mustar. Mereka mengutuk pembunuhan itu. “Kita sudah jaya. Hentikan perbuatan-perbuatan bodoh!”

Mustar tidak mau peduli. Ia terus membawa ransel seraya mendatangi kota-kota, rumah-rumah, lumbung-lumbung, lubang tikus dan gorong-gorong. Ia tetap mengikuti kata hatinya. Setiap orang yang memiliki kaitan dengan Salijo akan bernasib sial.
Ia terus berkeliling dan berkata, “aku akan membunuhnya.”

Lalu, pada suatu hari baik, akhirnya ia menemukan Salijo. Hamparan padang rumput maha luas. Desir angin menyapu daun-daun kering. Di bawah pohon ek, ia menangkap tatapan Salijo yang begitu ketakutan.

“Aku sudah melepaskannya. Maafkan aku!”

“Tetapi aku harus membunuhmu, sebelum hari ini berakhir.”

“Mengapa harus istriku? Anak-anakku?”

Dengan wajah yang dingin, Mustar memberi pukulan telak sehingga kalimat demi kalimat yang hendak dilontarkan Salijo seperti tertahan di tenggorokannya. Ia pun jatuh tersungkur di bawah pohon ek itu. Penglihatannya pudur. Nafasnya semakin cepat tersengal-sengal.

“Kau tak bisa mengukur lautan cintaku yang maha luas!” Mustar pun kembali melesatkan tinjunya. “Hatiku memanggil-manggil dalam mimpi. Jiwa-jiwa di dalamnya memintaku untuk bertahan. Pada akhirnya kita harus saling melukai.”

Mustar pun menangis di bawah pohon ek seraya melayangkan tinjunya ke perut Salijo. Hari itu pun berakhir dengan cepat. Ia ingat perempuan yang dicintainya. Ia ingat kenangan yang nyaris ingin dilupakan. Perang telah membawanya menjadi seorang pembunuh.

Beberapa hari kemudian, berita kematian Salijo tersebar ke kota-kota lain, baik melalui selebaran maupun dari mulut ke mulut. Berita itu beredar sangat cepat sehingga siapa saja yang mendengar cerita itu akan langsung memiliki kesimpulan bahwa Mustar adalah seorang pembunuh tengik!

Penduduk kota menjadi resah. Mereka menangkapnya, dengan alasan bahwa ia telah membunuh orang-orang yang tidak berdosa. Mereka berpikir bahwa Mustar tidak memiliki alasan yang cukup untuk menghabisi Salijo. Mereka ingin menggantungnya dan menjeratnya dengan guilotin. Di dalam sidang pengadilan, ia meminta hakim agar mengutamakan rasa keadilan dan hati nurani, tetapi tak seorang pun mendengarkannya.

“Tak seorang pun?”

Ya, kecuali prajurit-prajurit yang pernah berperang bersamanya.***

Rumah Teduh, 2014



Delvi Yandra
lahir 10 Desember 1986 di Palangki, Sumatera Barat. Sejumlah tulisannya dipublikasikan di berbagai portal dan surat kabar tanah air, di samping terhimpun dalam antologi Kembang Gean (2007), Jurnal Kreativa: Sisi Gelap Warisan Budaya (2009), Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Berjalan ke Utara (2010), Narasi Tembuni (2012), dan Akar Anak Tebu (2012). Bergiat di Teater Rumah Teduh.

comments powered by Disqus