Minggu,17 Desember 2017 | Al-Ahad 28 Rabiul Awal 1439


Beranda » Sastra » Cerpen » Dah Pulang Jas dari Rantau

Dah Pulang Jas dari Rantau

| Senin, 27 November 2017 10:22 WIB

AKHIRNYA Jas menyadari keputusan yang diambilnya sebulan lalu soal pergi merantau itu salah besar. Apalagi ke kota megah macam Jakarta. Sungguh, entah perihal apa yang berkecamuk di dalam kepalanya saat itu hingga menyulut emosi untuk mengambil tindakan nekat meninggalkan kampung. Padahal seisi kampung tahu, sehari pun tak pernah ia melepaskan diri dari pelukan tanah kelahirannya. Pergi merantau ke tanah Jao dengan keadaan seperti itu hanya cari mati dan cari malu bila seminggu atau sebulan kemudian ia harus balik langkah ke rumah emaknya.

“Biarlah susah hidup di kampung, Jas. Tapi ada yang akan dimakan setiap hari. Rumah tidak perlu menyewa pula.” Ibu-Ibu tua, tetangganya memberi pertimbangan. Jas hanya tersenyum miring, enak tak enak mendebat kata-kata orang tua.

Nyatanya baru sekarang ia sadar, merantau ke Jakarta bukan takdir yang tepat untuknya; ia keliru membaca garis tangan, salah memilih persimpangan.

Perihal Jakarta, Jas hanya melihat di televisi; keramaian dan gedung-gedung bertingkat seakan mengedipkan mata lentiknya pada Jas. Ia makin terbuai ketika mendengar cerita teman sekampung yang telah merantau ke sana; yang selalu pulang dengan mobil baru mengkilat, cincin-gelang emas bergelung-gelung di tangan, dan bergantang-gantang decak kagum serta pujian. Jas tersulut semangatnya. Ia ingin pula seperti orang-orang. Ia tak ingin hanya menjadi penonton dan tetap menjadi lelaki peladang penghuni kampung. Ia ingin mencoba pula peruntungan di Jakarta itu.

“Kau yakin akan pergi, Jas?” Seminggu sebelum keberangkatan Jas, hati Emak masih berkelindan cemas terhadap nasib anak lelaki semata wayangnya itu. Bermalam-malam Emak menahan hati, membesar-besarkan diri bahwa memang sudah saatnya Jas pergi mencari untung membawa badan; bahwa sudah waktunya Jas merantau, meninggalkan tanah tepian seperti lelaki-lelaki kampung lainnya.

“Iya, Mak. Saya sudah mantap hendak berangkat. Adakah yang membuat Mak ragu?”

“Ke Jakarta?” Emak balik bertanya.

Jas mengangguk sungguh tegap, seolah tak ingin digoyahkan. Emak diam, seraya mengaminkan semua keinginan dan harapan-harapan Jas.

***

Sekarang di sinilah Jas, di kota yang ia benar-benarkan di depan Emak.

Di sebuah sudut Jakarta, Jas tengah menunggu segelas teh es dalam sebuah kedai tepi jalan. Ia begitu kelelahan setelah setengah hari berkeliling ibukota, tentu saja bukan untuk bertamasya. Jas harus mencari induk semang. Tapi, selain menjadi gelandangan dan pengemis, mencari kerja di kota macam Jakarta ternyata tak semudah terkentut. Tak ada lowongan untuk orang baru seperti Jas, yang dari kampung dan tanpa orang dalam pula. Ia sudah keluar masuk kantor dari yang berlantai satu hingga bertingkat menyodorkan ijazah sekolah menengahnya. Ia datangi toko-toko. Ia sempatkan menyilau ke kedai-kedai nasi Padang, sekira-kira ada pekerjaan yang bisa ia diterima di sana. Nihil. Padahal, ia sudah menyertakan semua surat menyurat penting dalam amplop lamarannya. Tetap saja, nol besar untuk Jas.

Jas termenung, tak habis pikir dengan apa yang tengah ia alami. Ia mereka-reka kembali, apa yang salah, apa yang kurang, mengapa ia tidak bisa juga mendapatkan sebuah pekerjaan kecil, yang bergaji cukup untuk makan tiga kali sehari dan bayar sewa rumah saja. Tak muluk.

Jas sedang galau. Sementara teh es belum juga datang.

“Baru di sini, Mas?” Penjaga kedai datang dengan segelas besar teh es. Ia menaruhnya di sisi kiri Jas. Kemudian, Ia sodorkan pula beberapa makanan ringan yang ada dalam botol kaca.

Jas menoleh sembari memberi seulas senyum pahit.

“Darimana?”

“Sumatera,”

“Kok mau ke Jakarta?”

Jas gagu. Tak tahu mau jawab apa, karena sebenarnya ia juga tak pernah memikirkan, mengapa ia memilih Jakarta. Selain ingin menaikkan harga diri, tak ada alasan yang lain.

Jas hanya mendesah. Jakunnya yang kering serasa sudah mengelupas. Segera Ia meneguk teh dingin yang menggoda matanya. Dengan cepat, air dalam gelas tinggal setengah. “Kata orang, di Jakarta banyak pekerjaan. Banyak orang kampung saya yang berhasil bekerja di Jakarta. Saya ingin pula mencoba peruntungan itu.” Lengkap dengan logat daerah yang khas.

Si Empunya kedai malah tertawa. Jas paham benar arti tawa itu. Sembari terus menghalau hewan-hewan lalat yang beterbangan, juga yang hinggap di atas makanan-makanan yang tak bertudung, pemilik kedai itu berkata;

“Oalah, Mas. Kok masih percaya sama kata-kata orang,” Ia mengusap matanya, lalu, merapikan kain yang melekat di pinggangnya. “Hati-hati dengan kata-kata orang, Mas. Bisa-bisa masuk ke sarang harimau,” Ia menjadi serius. Alis matanya berkedut.

Jas hanya tercenung. Ia tak hendak beradu argumen dengan pemilik kedai atau dengan siapapun saat ini. Ia hanya ingin diberi pekerjaan apa saja, terserah, yang penting Ia tak luntang lantung seperti ini. Sudah hampir tiga hari Ia menumpang di rumah sanak jauhnya. Ia merasa tak enak hati terus bergantung dengan keluarga yang tiris pula periuk nasinya.

Sesaat setelah Jas sampai di rumah sanak yang ia panggil Mak Dang itu, Ia tak menyangka bahwa Jakarta telah menempatkan kehidupan Mak Dang pada taraf terendah orang-orang di kampungnya. Rumah yang disewa Mak Dang itu hanya terdiri dari dua ruangan; satu untuk kamar tidur Mak Dang dan istri dan satu lagi untuk ruang tamu. Di ruang tamu semuanya bertumpuk; kain cucian, meja makan, kompor, rak-rak piring, kuali dan panci, dan gulungan kasur apek untuk tidur dua anak lelakinya yang masih SD di belakang pintu masuk. Di dalamnya bercampur abu yang beterbangan, udara panas yang menyengat dan bau tak sedap dari selokan di depan rumah. Belum lagi, dinding kayunya yang sudah berlumut. Jambannya berkerak, sempit dan kelam. Air yang menguning dan sepat. Pekarangan rumah habis dimamah jalan raya. Buruk dikata, kandang kerbau Jas jauh lebih bagus dibanding rumah Mak Dangnya ini.

Di kampung Jas, semiskin-miskinnya orang, tidak ada yang hidup seperti kehidupan Mak Dangnya di Jakarta. Di kampung Jas, orang miskin masih punya sawah, rumah dari batu, makan masih tiga kali sehari, dan sepeda motor. Air bersih berlimpah. Bahkan, banyak rumah yang kosong yang ditinggalkan penghuninya lantaran merantau ke kota besar. Padahal, kadang di kota besar, mereka harus hidup dengan memilukan seperti Mak Dang dan keluarganya.   

Jas teguk lagi minumannya hingga habis, dan menyelesaikan rengutannya tentang perilaku manusia-manusia yang kadang tak bisa dimengerti itu. Ia bayar dengan lekas, kemudian ia kemas map merah jambu dari meja kedai.

Langkah Jas mengkeret. Panas seketika menguap dari arah manapun. Panas itu membekap tubuh Jas. Satu-satu, peluh sebesar biji kedelai menyembul dari lubang-lubang keringat Jas. Ia mengelap keningnya yang basah.

Ia patut-patut lagi map surat lamaran yang digamitnya dari tadi. “Saya tak mengerti, apa inginnya orang Jakarta ini,” katanya jengah. Dari beberapa iklan di surat kabar yang dibaca, rasanya Jas telah melengkapi semua syarat yang diinginkan. Jas juga sudah datang dengan pakaian sopan; baju putih lengan panjang, celana pantalon hitam, sepatu hitam dan rambut yang disisir rapi. Bahkan, setiap pagi, setiap sebelum berangkat, Jas melafalkan beberapa doa yang dititipkan Emak agar mudah mendapatkan kerja di tempat baru. Sialnya, keberuntungan masih jauh di depan Jas. Ia tak dapat mengejar, apalagi meraihnya.

Ia berjalan lagi. Jalan raya tak putus-putus oleh kendaraan. Kendaraan roda dua, roda empat, roda delapan sambung-menyambung. Asap, panas, dan teriakan klakson sungguh pemandangan yang baru oleh Jas.

Jas masih belum putus asa. Ia masih punya rencana lain. Ia masih punya alamat kawan yang bisa dihubungi dalam keadaan terdesak.

“Kalau kau ke Jakarta, jangan lupa main ke rumah saya,” Arip, karib Jas masa kecil berbasa-basi sambil menyodorkan kartu nama. Arip ini yang pulang kampung lebaran lalu dengan mobil mengkilat dan gelang bergelung itu.

Ingat itu, Jas merasa hidupnya belum tamat. Ia masih punya Arip. Kawan yang bisa dimintai tolong, setidaknya untuk menjadi kacung di kedai tiga pintunya itu. Jas rela. Tapi, Jas tak tahu dimana Arip tinggal. Alamatnya cukup jelas. Masalahnya, ditengah rumitnya Jakarta, Jas tak mau hilang tersesat. Akhirnya, Jas memutuskan untuk mencari warung telpon terdekat. Ia berencana meminta tolong Arip untuk menemuinya, kalau tidak bisa dibilang, menjemputnya.

Jakarta menjadi sedikit lebih lapang bagi Jas. Ia pencet nomor tujuan dengan tangan sedikit gemetar karena terlalu bersemangat. Dari seberang, dering telepon terdengar berkali-kali, kemudian suara wanita menyentak telinga Jas, mirip seperti suara-suara operator layanan jaringan telepon.

Jas terdiam. Ia menimbang-nimbang, apakah ia tidak salah tekan nomor. Dengan gagap, cepat ia jawab,

“Apa betul ini nomor Pak Arip?”

“Betul. Maaf, saya bicara dengan Bapak siapa?”

“Saya, Jas. Apa saya bisa bicara dengan Pak Arip?”

Wanita itu meminta Jas menunggu sekejap. Satu menit. Dua menit. Jas menunggu dengan risau. Sinar merah yang berkedip-kedip pada telepon itu yang menunjukkan harga yang harus dibayar Jas terus merangkak naik. Jas mengecek sakunya, apakah ia masih mempunyai cukup uang untuk menunggu.

“Dari siapa?” Lelaki itu sedang santai menonton berita tentang pesawat yang jatuh di Gunung Salak.

“Katanya, namanya Jas”

“Bilang, saya lagi keluar.”

Kemudian, terdengar lagi suara;

    “Pak Arip baru saja keluar. Ada pesan yang ingin disampaikan, Pak?”

    “Ooo. Kalau begitu terimakasih, Mbak.” Cuaca di hati Jas berubah panas. Lalu dingin lagi saat Jas ingat bahwa ia masih bisa menghubungi Arip ke nomor pribadinya.

    Sekali lagi, ia menekan tombol telepon itu. Dering lagi. Agak lama, terdengar suara lelaki.

    “Halo,”

    “Halo, Rip. Ini Jas.”

    “Halo. Halo. Ini siapa?”

    “Arip. Ini Jas. Terdengar?”

    “Halo. Su-...-ra-nya ti-dak ...-las.” Lalu, bip dan disambung nada tulalit. Telepon dari seberang mati. Arip melempar telepon genggamnya ke atas meja. Perhatiannya kembali ke televisi yang masih belum menyelesaikan liputan pesawat naas itu.

    Jas merasa kini matahari dekat sekali dengan mukanya. Sungguh panas. Tubuhnya berpeluh, tapi ia mendingin. Jas coba menelepon sekali lagi, ia masih disambut irama tulalit.

Sudah pupus. Habis harapannya.

“Mak, Jas ingin pulang.” Di dalam kotak telepon itu, Ia hapus sebak di wajahnya.

***

comments powered by Disqus