Senin,23 Oktober 2017 | Al-Itsnain 2 Safar 1439


Beranda » Sastra » Cerpen » Panah Beracun Setan

Panah Beracun Setan

MUSA ISMAIL | Minggu, 09 Juli 2017 10:59 WIB

Aku rindu Ramadan.

Aku rindu masjid.

Aku takut hanya dapat lapar dan dahaga.

Kemantan sedang duduk santai  di beranda rumahnya. Kebiasaan ini dilakukannya setiap hari. Matanya melompat. Kebiasaannya ini pun dilakukannya setiap waktu. Hari ini dia bersungut panjang menyumpah hujan.

”Sialan! Haram jadah,” mulutnya menyemburkan ludah bertepai-tepai.

***

Ramadan tiba di rumahku bersama hujan. Deru angin mengawali hari sebelum hujan jatuh. Dari celah tingkap, aku menyaksikan rahmat-Nya itu sehari sebelum puasa. Hati semesta menjadi gembira ketika hujan tiba. Aku, dia, mereka, hewan, dan tetumbuhan tertawa ditimpa hujan. Namun, masih banyak juga mereka menyumpah karena hujan tiba. Yang jelas, siapa pun tidak akan tahu kapan hujan tiba di kampung kita, baik sebagai bala maupun sebagai rahmat-Nya.

Setelah kubaca-baca dalam kitabku, hujan tidak serta-merta turun begitu saja. Mulanya,  Allah Taala yang mengirim angin. Lalu, angin itu menggerakkan awan. Selanjutnya, Allah Al-Aziz membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya dan menjadikannya bergumpal-gumpal.  Akhirnya, kita melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. Hujan itu bagai memagari diriku dengan benda-benda di luar sana.

Hujan membuatku gembira.

Subuh  menggigil. Orang-orang masih mendengkur pulas di balik selimut setan. Gema bang di masjid terus saja seperti biasanya. Suara hujan di subuh itu terus menghiasi hari-hari puasa. Antara suara bang dan hujan menghadirkan melodi indah tentang keagungan Allah Taala.  Aku merasa amat nyaman ketika memandangi hujan. Pikiranku menerawang melintasi baris-baris hujan. Baris-baris rintik itu bagai huruf alif yang menghunjam gersangnya hati kita. Panas yang terjadi beberapa pekan terakhir, telah terhapus hujan lebat beberapa hari ini. Hujan itu menghapus debu-debu yang menempel di setiap dinding rumah. Puasa ini ibarat hujan, hujan yang menghapus sekebat noda di batinku.

”Hujan adalah nikmat Allah. Menyumpah hujan bermakna berkhianat kepada-Nya. Kau tentu tahu apa akibatnya jika kita berkhianat, apalagi kepada Khalikul Alam,” Ramadan terus saja melewati jalan becek itu. Aku cuma mengangguk diam.

”Hei, orang asing!” Kau menceramahiku? Ini bukan zamannya menjaga tepi kain orang lain. Tak perlulah kau menyindir-nyindir begitu. Aku ini tidak pekak,” suara berat Kemantan bagai panah melesat ke arah Ramadan, tetapi terbentur keagungan. Ramadan tanpa sengaja berkata seperti itu. Niatnya sekedar untuk menasihatiku. Sebagai teman dekat, aku memang sangat senang mendengarkan nasihat-nasihat darinya. Kata-katanya itu bagai hujan yang menyejukkan hatiku.

”Saya, Pak?”

”Ya, kau orang asing. Kalau bicara jangan sesedap mulut,” Kemantan berdiri sambil menyergah Ramadan. Aku merasa kecut juga melihatnya. Aku tahu betul temperamen dukun itu. Dia sangat ditakuti di kampung ini. Mulutnya kasar. Kebiasaannya menyakitkan hati orang lain, terutama kaum hawa. Jangankan para dara, isteri orang pun kecut. Anak-anak apalagi!

”Jangan salah paham, Pak. Saya sekedar berbicara dengan kawan,” Ramadan menoleh ke arahku. ”Kebetulan saja saya lewat di depan kediaman Bapak. Kalau terganggu, saya mohon maaf,” Ramadan mendekati dukun itu dan menyorongkan tangan untuk bermaafan.

”Mudah sekali minta maaf setelah menyindir orang,” Kemantan menepis tangan Ramadan.

”Saya permisi, Pak,” Ramadan begitu hormat berlalu sambil menggerak-gerakkan tangannya yang tak bersambut itu.

Kemantan melototi Ramadan. Ramadan tertunduk bukan karena takut. Pemuda yang bertamu setiap tahun ke rumahku itu paling menghormati orang lain. Tutur katanya lembut meskipun dengan anak kecil. Karena itu, ia tidak punya musuh. Orang lain yang sempat mengenalinya, isya Allah, mereka akan menyenangi kawan karibku itu. Entah mengapa Kemantan begitu tersinggung dengan kata-kata Ramadan. Padahal, aku tahu betul bahwa Ramadan hanya berbual ringan denganku. Tiba-tiba saja, mata Kemantan melompat ke sisi lain. Beberapa dara sedang lewat di depan rumahnya. Para dara lawa itu kelihatan mempercepat langkahnya.

Mereka tahu betul perangai Kemantan. Mata pemuda setengah baya itu akan terus melompat-lompat mengikuti perempuan lawa, apalagi agak bahenol. Dengan sekejap, matanya akan menempel di sisi para kaum hawa. Tidak heran kalau setiap hari Kemantan duduk santai di beranda rumahnya. Kebetulan pula rumahnya sangat pas berada di depan jalan yang ramai dilalui. Tetapi konon kabar, Kemantan sengaja membeli tanah di tepi jalan agar bisa membangun rumah itu. Entahlah.

”Jangan kaupedulikan Kemantan. Perangainya memang begitu. Dia merupakan lelaki yang tidak disenangi di kampung kami. Dara dan perempuan bersuami sangat terpaksa melewati jalan ini,” aku bercakap agak pelan.

”Mengapa?”

”Mereka muak dengan lelaki itu.”

”Mengapa mereka muak?”

”Entahlah. Yang jelas menurut kabar, kelakuan Kemantan membuat mereka tidak nyaman. Ah, biarlah. Tak perlu kita risaukan masalah ini,” aku mengajak Ramadan mengitari pasar pagi. Ramai sekali. Para pedagang sibuk dengan jualannya. Mereka melayani para pembeli yang memilih barang.

”Kau tahu? Di pasar, selalu ada Zalitun laknatullah. Mereka menghasut para pedagang agar curang, dusta, dan menebarkan tipuan. Zalitun itu satu di antara sembilan nama yang disebut Umar bin Khattab. Beliau mengajak pedagang berhati-hati dalam berjualan,” Ramadan terus saja menjelaskan delapan nama sahat Zalitun. Aku menyimak dengan sangat serius. ”Kau lihat pula para perempuan dan beberapa lelaki di sini. Sepertinya mereka  dengan sengaja mengumbar aurat yang tak pantas. Kau tahu? Di situlah juga, panah beracun setan akan melesat.”

”Panah  beracun setan?” aku belum paham.

”Eh, itu ’kan lelaki yang memarahiku tadi? Mengapa tiba-tiba dia berada di sini?” telunjuk Ramadan menggiring mataku ke suatu lokasi. ”Mengapa dia begitu gembira. Lelaki itu tersenyum sepanjang langkahnya. Kepalanya tak berhenti bergerak ke kiri-ke kanan, ke depan-ke belakang laksana mencari sesuatu atau seseorang. Apa mungkin dia mencariku?”

”Wah, gawat kalau Kemantan mencari Ramadan,” pikirku dan perasaanku sedikit kecut.  Aku tahu betul siapa Kemantan itu. Aku takut dia meninju kawanku. ”Semoga saja tidak terjadi.”

Aku terus waspada. Setiap gerak Kemantan kuawasi. Aku terus berupaya agar langkah kami menghindari langkah Kemantan. Namun, kami terjebak oleh mata lelaki yang ditakuti kaum hawa di kampung kami itu. Lama juga dia bertatapan dengan Ramadan. Untung saja dia tidak menghiraukan. Aku kian lega. Ternyata Kemantan tidak peduli dengan kami. Aku terus saja memperhatikan langkahnya. Kemantan duduk di kursi kosong milik pedagang. Kelihatannya dia tidak berbelanja. Wajahnya tersenyum habis. Kau tahu? Hatinya sangat gembira ketika berada di keramaian. Kalau hujan tiba-tiba, aku yakin dia akan menyumpah habis-habisan.

”Apalah yang ’nak diherankan? Bukankah senyum itu sedekah?”

”Aku pikir lelaki itu mencariku karena merasa tidak puas dengan permintaan maafku.”
”Ramadan, kelihatannya dia rajin bersedekah. Lihat saja, senyumannya berbunga-bunga.”
Ramadan diam panjang. Dia diam dalam.

***

Kemantan terus tersenyum sepanjang mata memandang. Matanya lepas. Lalu, dia membiarkan matanya melompat-lompat. Lelaki paruh baya itu membiarkan matanya meneror demi kesenangan dan kepuasannya. Matanya menyelinap ke wajah, lekuk tubuh, dan kaki perempuan. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, tak bisa lepas dari bidikannya. Kemantan sangat lihai membidik sasarannya. Matanya bagaikan penembak jitu yang sudah sangat terlatih membidik mangsa. Mangsanya adalah para perempuan (dara atau isteri) yang cantik secara fisik. Matanya sangat tahu mengesan sesuai kriteria tuannya. Matanya bak alat pemindai canggih dan khusus untuk memindai perempuan. Di mana pun posisinya, Kemantan pasti melepaskan matanya, membiarkannya melompat-lompat, dan menyelinap di sebalik kesenangan dan kepuasan nafsu.

”Aku tahu sekarang,” tiba-tiba Ramadan menyapaku.

”Tahu apa?” aku heran.

”Lelaki yang memarahiku itu.”

”Kemantan? Tahu masalah apa tentang Kemantan?” aku semakin heran.

Ramadan bergegas menuju lelaki yang memarahinya. Kali ini, Ramadan tak peduli apapun yang akan terjadi. Dia bertekad akan menyampaikan kebenaran. Itulah tujuannya setiap tahun datang ke rumahku atau ke kampung kami ini. Setiap tahun, aku sekeluarga dan warga kampung menunggu-nunggu kedatangan Ramadan dengan penuh harap dan bahagia. Kami tahu bahwa Ramadan bagaikan hujan dari surga. Kedatangannya akan membakar segala kesalahan. Ramadan selalu menyirami kampung kami dengan kesejukan. Nasihat-nasihatnya bernas dan membawa pencerahan. Tahun ini, aku heran mengapa Kemantan menjadi seperti ini. Ramadan pun dianggapnya sebagai orang asing. Padahal sebelumnya, dialah lelaki yang selalu merindukan hujan dari surga.

”Maaf, Pak,” Ramadan menyapa sangat sopan sambil menyorongkan tangan untuk bersalaman.

”Kau lagi? Lelaki asing yang sok suci. Mengapa?” suara Kemantan setengah membentak. Matanya liar.

”Di penghujung puasa, saya akan pulang.”

”Itu lebih bagus.”

”Tapi, saya ingin menyampaikan sesuatu.”

”Kau ingin menceramahiku. Begitu. Alaaah, Ramadan, tak perlulah kau mengajariku. Aku ini sudah banyak makan asam garam.”

”Kalau Bapak marah pun, saya siap.” Ramadan cepat-cepat ke samping kanan Kemantan. Mulutnya membisikkan sesuatu. Tidak lama, hanya tidak lebih dari sepuluh detik. Anehnya, Kemantan tidak memperlihatkan sifat angkuhnya. Dia diam, tertunduk, dan sedih. Tangannya memegang kepalanya. Dengan gerak agak lambat, dia melangkah dan terus melangkah. Kemantan pulang.

Tentu saja aku heran. Semua warga yang menyaksikan tampak bingung. Apa sebenarnya yang telah dilakukan Ramadan. Tanda Tanya terus bergelantungan di pikiran kami ketika itu.

Namun, aku tak terlalu menghiraukan. Yang penting, kejadian ini merupakan pertanda baik. Aku berharap semoga terjadi perubahan positif terhadap perangai Kemantan.
”Mudah-mudahan, inilah titik balik Kemantan,” pikirku.

***

 Di penghujung puasa, Ramadan pulang. Dia memberikan aku secarik kertas.

”Setelah bayanganku tak kelihatan lagi, bacalah ini,” mataku sekeluarga berlinangan. Sedih tak tertahankan. Dia bukan hanya kawan dekatku, tetapi sudah kuanggap sebagai Abang. Bukan hanya aku sekeluarga yang bersedih. Warga kampungk kami pun bersedih. Bahkan, malaikat dan semesta alam pun menangis. Aku tahu itu.

”La tahzan. Tahun depan aku akan bertamu lagi. Kalian adalah keluargaku.”

Ramadan pulang sebelum gema takbir Idul Fitri. Setelah Magrib, aku membuka dan membaca tulisan Ramadan pada kertas itu.

”Pandangan adalah satu di antara panah-panah beracun milik setan yang telah dikutuk Allah Taala. Barang siapa menjaga pandangannya semata-mata karena takut kepada-Nya, niscaya Allah Taala akan memberinya keimanan sebagaimana rasa manis yang diperolehnya di dalam hati” *).

Takbir pun menggema.

***

Sepekan setelah raya. Warga kampung berhamburan. Ada mata yang lepas, melompat-lompat, dan menyelinap di balik wajah, lekuk tubuh, kaki perempuan, dan di balik lubang kamar. Aku teringat Kemantan.***

Catatan
*) Hadis riwayat al Hakim


Musa Ismail adalah ASN di Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis dan Pengajar di STAIN Bengkalis. Setakad ini, dia baru menulis tujuh buku (4 kumpulan cerpen, 2 novel, dan 1 esai sastra-budaya).

comments powered by Disqus