Kamis,19 Juli 2018 | Al-Khomis 6 Zulkaedah 1439


Beranda » Artikel » Cinta Megat seperti Cinta Jebat

OLEH: MUSA ISMAIL Penyair, Pendidik

Cinta Megat seperti Cinta Jebat

| Minggu, 22 April 2018 11:23 WIB
Musa Ismail

CINTA merupakan benda purba. Benda ini sudah melebihi usia dunia. Tempat perasaan ini sudah ada  ketika Nabi Adam masih di surge. Cinta berkaitan dengan hati. Hati merupakan tempat menyimpan perasaan. Perasaan adalah wujud dari taman-taman cinta. Karena itu, cinta ibarat bunga-bunga perasaan manusia. Dari cinta, berbagai hal yang berkaitan dengan perasaan akan muncul.

Rabiah Al-Adawiyah mengatakan bahwa cinta adalah ungkapan kerinduan dan gambaran perasaan yang terdalam. Jalaluddin Rumi berpandangan bahwa cinta adalah sumber segala sesuatu. Dunia dan kehidupan muncul karena kekuatan yang bernama cinta. Cinta adalah inti dari segala bentuk kehidupan di dunia.

Hamka mengungkapkan bahwa cinta laksana setetes embun dari langit, bersih, dan suci. Cuma tanahnya yang berlainan menerimanya. Jika ia jatuh di tanah yang tandus, tumbuhlah kedurjanaan, kedustaan, penipuan, dan perkara tercela lainnya. Namun, jika embun itu jatuh di tanah subur, kesucian hati akan tumbuh, keikhlasan, setia,budi pekerti yang tinggi, dan perkara terpuji lainnya.

Megat merupakan gelar kebang-sawanan kerajaan Melayu. KBBI menjelaskan bahwa ada tiga diksi megat yang berbeda makna.  Diksi megat yang maknanya sesuai dengan historis Melayu, yaitu diksi megat yang bermakna gelar bangsawan Melayu  (Ayahnya orang kebanyakan, Ibunya keturunan raja). Diksi Megat dalam tulisan ini mengacu pada novel berlatar sejarah yang berjudul sama karya Rida K. Liamsi. Ini merupakan novel berlatar sejarah keduanya setelah Bulang Cahaya (BC). Berbeda dengan BC, novel Megat lebih banyak mengisahkan sisi kekinian. Kedua novel ini, pada hakikatnya, mengangkat persoalan cinta dari sisi berbdea. Namun tulisan singkat saya ini tidaklah membandingkan kedua novel tersebut. Justru yang menjadi fokus perhatian saya, yaitu cinta dalam novel Megat dan cinta Megat Sri Rama kepada Dang Anom.


Cinta Megat dalam tulisan ini memiliki dua pengertian. Pertama, percintaan antara Megat Sri Rama dengan isterinya Wan Anom (ada yang menyebut Dang Anom). Kedua, percintaan antara Megat Ismail (keturunan Megat Sri Rama) dengan Tengku Adinda (keturunan Sultan Mahmud Mangkat Dijulang) yang dapat kita temukan dalam novel Megat.  Pertama adalah peristiwa sejarah Melayu, sedangkan kedua adalah fiksi berlatar sejarah Melayu. Hebatnya, Fiksi Megat dibuka oleh Rida dengan peristiwa sejarah Melayu. Pada bagian Satu novel itu, penulis puisi Perjanan Kelekatu itu memainkan plot sorot balik yang menginginkan kita mengingat peristiwa berdarah di Kota Tinggi. Peristiwa berdarah ini pun terdapat dua bagian yang sangat mengerikan, yaitu berkaitan dengan Wan Anom dan Sultan Mahmud Mangkat Dijulang).


Sosok Megat Sri Rama (SR) dalam sejarah Melayu adalah Laksamana yang tangguh. Selain amat mencintai isterinya Wan Anom, Megat SR juga sangat mencintai tugas dan tanggung jawabn-ya. Pada dasarnya, Megat SR adalah Laksamana yang sangat setia dan mencintai tanah airnya. Beliau rela menyabung nyawa demi keselamatan dan keamanan negera atau kerajaan. Nah, dalam suatu pemerintahan, intrik politikus selalu bermain. Intrik seperti ini juga terjadi pada saat itu dan hingga kini serta nanti. Intrik-intrik ini selalu direkayasa oleh “orang dalam” pemerin-tahan. Seperti halnya Megat SR, beliau dibenci dan diculasi Panglima Sri Bija Wangsa (tangan kanan Sultan Mahmud Mangkat Dijulang). Rasa cinta dan setia Megat SR dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai Laksamana selalu menghadirkan intrik di kepala Sri Bija Wangsa (SBW). Intrik ini lahir juga dari rasa iri hati SBW karena Megat SR berhasil memperistrikan Wan Anom. Megat SR sangat mencintai isterinya. Akhirnya, peristiwa berdarah pertama itu pun terjadi: Wan Anom dibunuh (perutnya yang sedang hamil dibelah) hanya karena makan seulas nangka milik Sultan Mahmud. Tentu saja ini karena ulah SBW. Peristiwa berdarah pertama ini merupakan punca terjadinya peristiwa berdarah kedua: Sultan Mahmud wafat setelah ditikam Megat SR di halaman masjid pada hari Jumat. Megat SR pun sempat tertusuk keris sultan dan muntah darah karena sumpah hingga tujuh keturunan. Amuk yang dilakukan Megat SR pada hari Jumat sebagai wujud cinta pada isterinya yang telah diperlakukan secara tidak adil. Ini membuktikan bahwa ketidakadilan akan melahirkan pemberontakan. Begitulah cinta Megat SR dalam peristiwa sejarah Melayu.

Lantas, bagaimana pula dengan cinta Megat Ismail (MI) dalam peristiwa fiksi karya Rida? Cinta Megat Ismail menjadi sangat menarik karena diimajinasikan sebagai kelanjutan dari peristiwa sejarah sebelumnya. Megat Ismail merupakan keturunan imajiner dari Megat SR. Dia adalah wartawan, sastrawan, dan pencinta ilmu kebudayaan Melayu. Referensinya tentang kebudayaan Melayu sangat komprehensif. Ini membuktikan bahwa Megat Ismail merupakan sosok pemuda Melayu masa depan yang berilmu pengetahuan dan berwawasan luas. Dia selalu hadir jika ada seminar-seminar yang bertema tentang ke-Melayu-an. Karena itulah, megat imajiner Rida ini bertemu dengan Tengku Adinda. Tengku Adinda merupakan sosok perempuan cantik dari negeri seberang. Dara ini merupakan keturunan imajiner dari Sultan Mahmud Mangkat Dijulang. Dua manusia yang berbeda jenis kelamin dan berkonflik disatukan dengan cinta oleh Rida. Bahkan, Tengku Adinda tahu bahwa Megat Ismail sudah beristeri dan mempunya anak. Inilah persoalan cinta yang menarik. Dendam dan konflik bisa dipadamkan oleh air cinta. Akan tetapi, kisah cinta Megat Ismail dan Tengku Adinda tidak dapat dibandingkan dengan kisah cinta Megat SR dan Wan Anom yang begitu suci.***

Amuk Megat SR mengingatkan saya pada Amuk Hang Jebat. Kedua tokoh legenda Melayu ini seperti memiliki karakter yang sama. Kononnya, mereka mengamuk karena ketidakadilan. Yang satu mengamuk karena isterinya dihukum bunuh. Yang kedua mengamuk karena kawan karibnya (Hang Tuah) dihukum bunuh. Cogan Raja Adil Raja Disembah, Raja Zalim Raja Disanggah sangat jelas dari karakter tegas kedua panglima Melayu itu. Kononnya pula, amuk kepada sultan itu mereka lakukan pada hari Jumat.

Cinta Megat SR mengingatkan saya pula pada cinta Hang Jebat. Mereka sama-sama sangat mencintai tanah air, mencintai sahabat karib dan keluarga. Mereka rela menyabung nyawa demi keselamatan dan keamanan Negara. Di akhir tulisan ini, saya hendak mengatakan bahwa cinta Megat seperti cinta Jebat.***

comments powered by Disqus