Selasa,19 Juni 2018 | Ats-tsulatsa' 5 Syawal 1439


Beranda » Artikel » Aduh, Tak Berani Aku Memandingkan Puisi Syaukani dengan Puisi Denny JA

Aduh, Tak Berani Aku Memandingkan Puisi Syaukani dengan Puisi Denny JA

Oleh Hang Kafrawi | Minggu, 28 Januari 2018 12:24 WIB

PADA awalnya, saya hendak membandingkan puisi Syaukani Al Karim (penyair Riau) dengan puisi Denny JA. Namun ketika membaca berulang kali puisi Syaukani berjudul  “ANAKKU, MATAHARI YANG TERUS BERLAYAR” (sebuah catatan hari jadi), saya mengurung kehendak ini. Rasanya terlalu jauh perbedaan puisi Syaukani ini dengan puisi Denny JA berjudul “Bunga Kering Perpisahan”. Tak sebanding; puisi Syaukani sarat dengan makna, sementara puisi Denny JA terlalu mudah dipahami. Bukankah kedalaman dan kepadatan makna yang membedakan puisi dengan karya tulis lainnya?


Mengapa ada niat saya hendak memandingkan puisi Syaukani dengan puisi Denny JA? Asumsi saya bahwa kehebohan puisi-puisi yang ditulis Denny JA dengan menjulang puisi esai menjadi hal menarik untuk dibandingkan dengan puisi Syaukani, sebab saya membaca, Syaukani  telah lama ‘mengusung’ puisi seperti ini, namun tidak dikibarkan oleh Syaukani apa gendre puisinya. Syaukani menyadari bahwa hakikat karya seni yang dihasilkan adalah upaya mencerdaskan pembaca tanpa harus mengikat pikiran mereka dengan kehendaknya. Pembaca bebas meletakkan karya yang mereka baca ke ruang-ruang pikiran mereka sendiri, tanpa harus diarahkan oleh si pengarang.

Hal ini tidak berlaku bagi Denny JA. Dengan memberi lebel puisi yang ia tulis ‘puisi esai’, Denny JA seakan menganggap pembaca tidak cerdas dan harus dipaksa dan dituntun mengikuti kehendaknya. Ditambah lagi catatan kaki di setiap puisi-puisinya, menambah anggapan ketidakpercayaan Denny JA akan kebebasan dan kecerdasan pembaca. Padahal hakikat karya seni, dalam hal ini karya sastra berbentuk puisi, memberikan kebebasan menafsir. Karya seni tidak bersifat absolut, ia multi tafsir dan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Kalau diibaratkan, mengutip kalimat yang sering diucapkan almarhum Hasan Junus (pemikir sastra dari Riau), bahwa karya sastra itu seperti pohon yang sangat besar dan rimbun, akarnya menancap ke bumi, daunnya tempat manusia berteduh dan berbuah di sembarang musim.

Niat saya hedak membandingkan puisi Syaukani dengan puisi Denny JA, memang tidak saya lanjutkan. Terlalu jauh perbedaannya, tidak akan menemukan titik persamaan kedalaman makna. Bagaimanapun juga, kerja membandingkan adalah upaya mencari persamaan dan sekaligus perbedaan, sehingga memunculkan kesimpulan bahwa karya tersebut memang berkualitas dan semakin berkilau. Walaupun demikian, disebabkan kerja Denny JA dengan proyek puisi esainya menimbulkan berbagai polemik; yang pro menjulang Denny JA seperti dewa pembaharu kesustraan Indonesia dan yang kontra menganggap Denny JA seperti ‘pengemis’ mengharapkan pujian dengan menggunakan cara-cara ‘haram’ dalam dunia kesusastraan (tulisan tersendiri nantinya, terkait cara Denny JA mendulang kepopuleran). Saya hanya akan memandingkan esai Syaukani yang puitis dengan karya puisi Denny JA yang katanya esai.

Hari itu, presiden datang ke Wasior, khususnya setelah dikecam banyak orang atas kelambatan empatinya. Ia berbaju safari, dan tampak agung di tengah-tengah rakyat yang menunggunya. Didampingi oleh sejumlah penasehat, orang dekat, serta pasukan pengamanan, Ia berdiri di depan rakyat dengan kegagahan seorang presiden. Di layar televisi, kita melihat kesibukan yang luar biasa di lokasi bencana. Tapi sepertinya bukan kesibukan penyelamatan korban, tapi kesibukan menjaga sang presiden dan isteri. Ketika Ia berjalan, para pembantunya sibuk membentuk barikade, untuk membuka jalan agar sang presiden tidak terhambat oleh sesak massa yang mulai merapat, yang mungkin hanya sekedar ingin melihat sang presiden dari dekat, atau sekedar berharap berjabat tangan. Sang presiden terus berjalan, dan bibirnya tersenyum, dengan senyum yang tertata, tipis, sama tipisnya sejak bertahun-tahun lalu. (Paragraf pertama esai Syaukani berjudul “Duhai, Izinkan Aku Merinduimu [Kisah “cinta” antara Wasior dan San Jose]).


Di nisan suaminya
Ia taburkan melati dan kenanga
Sambil melafalkan doa
Perempuan itu Dewi namanya.
Terbius rasa pedih
Ia mohon ampun dengan suara lirih
Segala yang di dadanya terasa berat,
Segala yang di sekitarnya semakin pekat.

Sepuluh tahun sudah ia hidup
Bersama Joko, suami pilihan Ayah
Perkawinannya selalu redup
Karena Albert pilihan hatinya. (tiga bait puisi Denny JA berjudul “Bunga Kering Perpisahan”).

Dari judulnya saja pembaca dapat merasakan citra yang lebih puitik esai Syaukani dibandingkan judul puisi Denny JA. Judul esai Syaukani memerlukan pendalaman imajinasi untuk menangkap maknanya. Syaukani menyadari betul bahwa judul merupakan daya pikat bagi pembaca, membaca sampai tuntas tulisannya, dan pada akhirnya pembaca memahami ‘kehendak’ dari judul tersebut. Sementara judul puisi Denny JA mempertegaskan bahwa perpisahan menjadi pokok permasalahannya. Sesuatu yang tidak memerlukan pendalaman imajinasi menangkap maknanya, bunga kering akan ‘bertunangan’ dengan perpisahan atau kematian.

Masuk ke dalam isinya, paragraf pertama esai Syaukani dengan fakta kunjungan presiden ke Wasior, merekam tingkah polah presiden dan peristiwa sekelilingnya dengan pilihan kata membangun imajinasi pembaca. Hari itu, presiden datang ke Wasior, khususnya setelah dikecam banyak orang atas kelambatan empatinya. Ia berbaju safari, dan tampak agung di tengah-tengah rakyat yang menunggunya. Dari kalimat ini ada kontradisi kenyataan yang dapat pembaca congkel maknanya, bahwa di tengah kecaman, presiden masih menyebarkan pencitraan. Begitu juga kalimat berikutnya, mempertegas pencitraan presiden di tengah duka dan derita rakyat disebabkan bencana.

Pada paragraf berikutnya, esai Syaukani membandingkan kunjungan presiden dan peristiwa di Wasior dengan kunjungan Presiden Chile, Sebastian Pinera. Syaukani membuka paragraf itu dengan kalimat yang indah. “Di sebuah negeri yang lain yang bernama Chile, Sebastian Pinera, juga seorang presiden, mengunjungi sebuah lokasi tambang tempat sebuah musibah terjadi”. Inilah esai merekam peristiwa dan mengabarkan opini penulis dengan penilaian sang penulis.

Pada puisi Denny JA yang didengungkan sebagai puisi esai, memang terasa dangkalnya makna yang didedah. Di nisan suaminya//Ia taburkan melati dan kenanga//Sambil melafalkan doa//Perempuan itu Dewi namanya. Pilihan dan penyulaman kata menjadi frase dalam puisi ini, tidak ada yang baru, sehingga citranya pun tidak memerlukan imajinasi yang tajam untuk menggambarkan peristiwa di makam itu. Segalanya keseharian; kebiasaan orang yang sedang berduka di kuburan. Begitu juga pada bait berikut dari puisi Denny, menceritakan keperihan perempuan bernama Dewi yang ditinggal mati suaminya yang bernama Joko. Joko bukan pria pilihan hati Dewi, keterpaksaanlah yang menyebabkan Dewi harus hidup bersama Joko. Pujaan hati Dewi, Albert namanya, berlainan agama dan disebabkan itulah Dewi dipaksa oleh orang tuanya menikah dengan Joko. Lebih seperti prosa, puisi yang ditulis oleh Denny JA.  

Permasalahan sekarang adalah Denny JA mengikrarkan diri sebagai penemu puisi esai di Indonesia. Tentu saja apa yang diklaim Denny JA dengan puisi esai sebagai penobrak puisi Indonesia, terasa ganjil. Dengan membandingkan esai Syaukani di atas saja, apa yang dilakukan Denny JA terbantahkan. Belum lagi dengan puisi yang ditulis Syaukani Al Karim yang lebih dekat nuansa esai. Sementara itu, puisi-puisi penyair Indonesia yang hidup pada masa lampau, seperti Chairil Anwar, jangan dilupakan. 

Inilah yang menjadi pertanyaan besar, apabila penyair mengikrarkan diri sebagai penemu hal yang baru, tanpa melihat karya penyair lain. Ditambah lagi untuk menokohkan diri sebagai penemu, ia harus membayar orang lain menjulang keberadaannya. Sudah jelas, sebelum Denny JA menulis puisi, sudah berlambak karya-karya seperti puisi esai ini, namun mereka tidak ‘mengemis’ diakui sebagai penemu, bahkan tidak membayar untuk pengakuan itu. Biarlah pengakuan itu mengalir dengan sendirinya berlandaskan kualitas pembaharuan.

Daripada memuji diri hendaklah sabar, Biar dan pada orang datangnya khabar. (Gurindam 12, Pasal 8, bait 4, Karya Raja Ali Haji).

Hang Kafrawi, Ketua Teater Matan dan tenaga pengajar di FIB Unilak

comments powered by Disqus