Senin,23 Oktober 2017 | Al-Itsnain 2 Safar 1439


Beranda » Artikel » Mahmud (bukan) Sang Pembangkang

Oleh: Bambang Kariyawan YS

Mahmud (bukan) Sang Pembangkang

| Rabu, 20 September 2017 10:27 WIB

JUDUL esai ini sengaja ditulis dan terinspirasi dari sebuah judul novel laris. Pemberian kata “(bukan)” mengarahkan pada nilai netral dalam menjaga keberpihakan pembaca. Ketika Rida K Liamsi (RDK) membuat judul buku ini “Mahmud Sang Pembangkang”  langsung yang terlintas siapakah Mahmud? Mengapa Mahmud membangkang?



Mengenal Banyak Mahmud

Nama Mahmud dalam silsilah  Kemaharajaan Melayu memiliki kemiripan nama  dalam setiap generasinya. Buku ini mengenalkan  empat nama Mahmud yang  mempengaruhi perjalanan sejarah Melayu. (1)  Mahmud Syah I, sultan terakhir  Melaka (1477–1526), di tangannyalah Melaka jatuh ke tangan Portugis,  1511, sehingga dia harus menyingkir ke Kota Kara, di hulu Sungai Bintan, dan membangun pemerintahan di sana. (2) Mahmud Syah II (1685-1699), Sultan Kerajaan Johor ke-9 penerus Kerajaan Melaka, yang  terkenal dengan julukan Mahmud Mangkat Dijulang, yang wafat di atas julangannya, tahun 1699,  karena dibunuh oleh Laksamananya sendiri, Megat Sri Rama, di Kota Tinggi, ibukota Kerajaan Johor, ketika itu. (3) Mahmud Riayat Syah, Sultan Riau-Johor-Pahang ke-4 (1761-1788), dan Sultan Lingga-Riau-Johor dan  Pahang yang pertama (1788-1812).

Perubahan nama kerajaan ini, setelah Mahmud Riayat Syah memindahkanpusat kerajaannya dari Riau ke Lingga, tahun 1788, sebagai dampak dari kalah perang melawan Belanda (VOC) dalam Perang Riau (1782-1784). (4) Mahmud Muzaffar Syah,Mahmud inilah yang menjadi tokoh dalam buku ini, yang dilahirkan di Terengganu 1823, di Istana Sultan Ahmad Syah, kakeknya dari sebelah ibu. Dia bergelar Tengku, karena dia seorang bangsawan dan keturunan Sultan. Ayahnya adalah Muhammad Syah, Sultan Lingga-Riau yang ke-3 (1832-1841).

Tidak ada sebuah penjelasan mengapa nama Mahmud menjadi pilihan nama yang sering diulangulang. Namun ada sebuah pemahaman pemberian nama memiliki pesan ke depannya. Kata Mahmud berarti Terpuji dapat diperkirakan nama tersebut bermakna menjadi orang yang dikenal dan selalu dipuji. Mungkin inilah esensinya makna kata Mahmud tersebut.

Subyektivitas Penulisan Sejarah
Tidak dapat dipungkiri bahwa  dalam setiap penulisan sejarah pastinya terkandung unsur subjektifitas. Hal ini dapat terjadi apabila  sejarawan yang hadir dalam suatu peristiwa membiarkan perilaku politis atau etisnya turut berperan dalam  menyampaikan peristiwa tersebut. Pada prinsipnya permasalahan mengenai subjektifitas seorang sejarawan tidak hanya menyangkut  masalah sejauh mana ia dipengaruhi oleh nilai-nilai politis dan nilai-nilai etis dalam meyampaikan sejarah. Namun ada kalanya hal ini juga dipengaruhi oleh adanya kepentingan yang melandasinya.

Demikian halnya dalam buku ini tergambar beberapa penjelasan tentang subyektifitas penulisan sejarah tentang tokoh Mahmud. Pada  halaman 149 kita dapat penjelasan kuat tentang subyektifitas tentang rencana pembangunan istana Lingga pada beberapa sisi yaitu:
“Jika Netscher mencatat pembangunan istana itu dengan nada minor dan mencela, dan Tuhfat An Nafis mencatatnya dengan rasa kagum  tapi menyindir, tidak dengan sebuah  syair yang menurut sumber lokal, ditulis seorang pengasuh Mahmud semenjak kecil yang mencatat  peristiwa pembangunan Istana itu dengan rasa kagum dan bangga. Penuh pujian.”

Dalam sejarah, subyektifitas banyak terdapat dalam proses interpretasi. Sejarah dalam mengungkapkan faktanya memang membutuhkan interpretasi. Subyektif masih diperbolehkan selama tidak mengandung subyektif yang diserahkan kepada kesewenangan subjek, dan konsekuensinya tidak  lagi real sebagai obyektif.

Sumpah Setia Melayu dan Bugis

Dalam MSP berkali-kali pembaca diingatkan akan pentingnya sumpah setia yang pernah dilakukan puak Melayu dan puak Bugis. Masing-masing pihak bersumpah ia tidak akan berbuat khianat kepada yang lain, dan mengetahui serta menyadari bahwa siapa pun yang akan  melanggar sumpah ini bakal  dihancurkan oleh Allah, disisihkan kaum mukmin, serta diazab di akhirat nanti. Pengulangan sumpah ini di waktu-waktu krisis meluruskan garis sejarah dengan membendung hawa nafsu dan membangun kembali suatu kondisi yang harmonis di dalam negeri tersebut.

Tarik ulur akan legalitas dan legitimasi dua puak tersebut menjadi ujian tersendiri dalam perjalanan sejarah Melayu. Istilah darah murni dan darah campuran dua puak terkadang menjadi penguat sekaligus pengganggu hubungan yang telah turun temurun. Namun setidaknya sumpah tersebut telah menjadi reminder bagi siapa saja yang ingin keluar dari niat baik sumpah tersebut. Niat untuk menjaga keseimbangan dan keberlangsungan perjalanan sejarah panjang Melayu.

Pulau Lingga
Pulau Lingga, sebagai pulau yang meninggalkan tapak-tapak sejarah Melayu tergambar dengan puitis dalam buku MSP (99-104). Dalam Syair Sultan Mahmud disebutkan:

Kata orang purbakala
Gunung ada puakanya pula
Seekor naga tujuh culanya
Sisiknya emas jula gumala
(kuflet ke 116)


Pada kuflet 117 tertera:

Di kemuncak gunung baiduri
Khabarnya konon ada puteri
Tamannya indah tiada peri
Dikawal segala jin dan peri

Secara geografis, pulau Lingga   memang sangat strategis. Punya benteng dan perangkap alam berupa hamparan karang yang luas yang tidak  mudah dilalui armada kapal perang dan lainnya untuk masuk ke ibukota kerajaan yang ada di dalam sungainya.

Kemelayuan
Penulis memiliki visi kemelayuan yang kuat sehingga karya-karya yang  dihasilkannya memuat benang merah yang sama yaitu menyatukan melayu.  Mulai dari puisi-puisi Tempuling, novel Bulang Cahaya, Prahara Bukit  Siguntang, novel Megat, dan kini MSP adalah rangkaian yang berbeda  namun diikat pada satu simpul dunia Melayu bersatu.

Sebuah tekad Mahmud dituliskan pada halaman 167,” Inilah negeri milik nenek moyang kami dahulunya, sebelum dirampas penjajah, dan Beta akan merampasnya kembali.” Adalah sebuah cita mulia bila seorang  pemimpin memiliki visi dan misi ke depan yang hebat. Bernostalgia akan kebesaran masa lalu, dikuatkan dengan tekad baja, dan diwujudkan dengan strategi dan tindakan telah  menyatu dalam diri Mahmud.

Tindakan Mahmud memasang sebuah kaart (peta) Kemaharajaan  Melayu besar di dinding istananya membuat pejabat Belanda terkejut  dan marah besar. Peristiwa ini berdampak akan kemarahan Belanda yang digambarkan Netscher,”Usaha  Residen Riau dengan sungguhsungguh, tertumbuk pada sifat keras  kepalanya itu. Ia tidak berani bertindak secara terbuka, akan tetapi dengan cara-cara licik.”

Mengapa Mahmud (bukan) Pembangkang?
Dalam konteks sejarah istilah  pembangkang memiliki nilai subyektifitas tersendiri. Masih ingat dalam pelajaran sejarah di sekolah , selalu  dikatakan Arupalaka adalah seorang pemberontak. Sultan Hasanudin adalah pahlawan. Pemberontak versi siapa? Tentunya Arupalaka menjadi pahlawan bagi kelompok masyarakatnya. Dalam kajian sosiologi persepsi  ini dikenal dengan sudut pandang in group dan out group.

Membaca ini kita diingatkan tokoh yang seperti Arupalaka yaitu Panglima Sulung (183). Beliau adalah pemimpin Lanun di Retih yang dengan segenap  kekuatannya mendukung pembangkangan Mahmud melakukan perlawanan  terhadap Belanda. Apakah perlawanan yang dilakukan Panglima Sulung kita kategorikan pembangkangan? Sedangkan tindakan yang dilakukannya adalah melawan  ketidaksetujuannya pada sebuah cara yang nyata-nyata konspirasi dengan penjajah Belanda?

Pembangkangan “intelek” menurut penulis telah dilakukan Mahmud terhadap  ketidaksukaannya akan Belanda dan Inggris. (161). Pembangkangan apa yang menurut Belanda yang telah dilakukan Mahmud? Pada halaman 174 dijelaskan menurut versi Nietscher terdapat tujuh alasan yaitu;  1) Mahmud sudah berkali-kali mengabaikan kewajiban sebagai orang yang memegang kerajaan pinjaman; 2) Mahmud telah tidak memikirkan keamanan dan ketenteraman dalam kerajaannya, biarpun telah berkali-kali diperingatkan oleh Gubernur Jenderal dan Residen Riau;  3) Mahmud telah mencampuri urusan raja-raja di Semenanjung Melayu  yang berada di bawah perlindungan Gubernemen Inggris, sehingga dapat menimbulkan permusuhan; 4) Mahmud dengan kekuatan senjata dan sikap bermusuhan telah datang ke Terengganu, dengan memperdaya pembesar Inggris di Singapura;

Lalu 5) Tindakan-tindakan yang  dilakukan Mahmud bertentangan dengan pasal 3 (tiga) dari kontrak tanggal 29 Oktober 1830; 6) Gubernur Jenderal telah  mengirimkan surat peringatan kepada Mahmud bulan Desember 1856, yang melarang Mahmud pergi keluar batas wilayahnya, tanpa persetujuan  Gubernur Jenderal, dan bila dilakukan lagi, maka Mahmud tidak lagi dapat mengharapkan perlindungan Gubernemen Hindia Belanda; dan 7)  Mahmud tetap melanggar perintah dan larangan dengan pergi lagi ke Singapura tanggal 30 Agustus 1857, tanpa seizin Gubernur Jenderal.

Di sinilah letak sudut pandang pembangkangan itu. Mahmud berbuat demikian dengan satu alasan yang kuat yaitu ingin mewujudkan sebuah Kemaharajaan Melayu atas daerahnya. Salahkah itu dilakukan? Salah atau tidak tentunya dari kaca mata siapa perbuatan itu ditujukan.  Daftar "dosa" Mahmud mempersulit sekaligus tantangan baginya untuk melepas dari tuduhan-tuduhan subyektif.

Lembaran Sejarah yang Dijauhkan
Membaca Mahmud Sang Pembangkang (MSP) berarti membaca fakta sejarah yang terwarisi. Masyarakat Kepulauan Riau khususnya akan sangat terbantu dengan kehadiran buku ini. Fakta-fakta sejarah yang ditampilkan menjadi catatan warisan berharga sebagai sumber sejarah lokal yang perlu dikedepankan. Generasi baru harus diberikan wawasan kearifankearifan  lokal akan sejarahnya. Harapannya tidak terjadi generasi alpa akan sejarah.***

 

 

comments powered by Disqus