Senin,23 Oktober 2017 | Al-Itsnain 2 Safar 1439


Beranda » Artikel » Teater Tutur Aceh: " Adnan PM TOH Penutur Cerita Penuh Nuansa Teaterikal"

Teater Tutur Aceh: " Adnan PM TOH Penutur Cerita Penuh Nuansa Teaterikal"

Oleh: Sulaiman Juned | Minggu, 27 Agustus 2017 16:04 WIB

Lima puluh tahun bersolo karier, (Almarhum) Teungku H. Adnan PM TOH berusaha mencari penggantinya agar kesenian Aceh yang disebut teater tutur ini memiliki penerusnya. Namun sayang sampai dengan Teungku Adnan menghadap sang khalik (meninggal dunia dalam usia 75 tahun, pada tanggal 4 Juli 2006), belum mampu menemukan penggantinya seperti beliau. Kesenian teater tutur berasal dari peugah haba yang berarti berbicara dengan bercerita semaca bakaba di Minangkabau. Sering juga disebut masyarakat Aceh poh tem  berarti orang yang pekerjaannya bercerita. Ada juga yang menyebutnya dangderia seperti drama monolog atau berbicara sendiri. Teater tutur ini menjadi menarik setelah dikembangkan  Teungku Adnan dengan mempergunakan alat musik rapa’i, pedang, suling (flute), bansi (block flute) dan mempergunakan proferti mainan anak-anak, serta kostum. Proferti dan alat musik serta kostum memperkaya tekhnik pemeranan seperti metode Brechtian yang memakai teknik multiple set (proferti tangan yang banyak fungsinya), dan Efek Alinasi (Memisahkan penonton dari peristiwa panggung, sehingga mereka dapat melihat panggung dengan kritis) . Teknik ini sekaligus memberi kekuatan dan dapat merubah kejadian-kejadian peran menjadi seolah-olah, serta adanya intrupsi dari penonton. Penonton menjadi bagian dari pertunjukan.  

Teungku Adnan dikenal juga sebagai seorang tokoh ulama oleh masyarakat pendukungnya, sedangkan pekerjaannya disamping sebagai seniman adalah penjual obat keliling Aceh. Kesenian (teater tutur) ini dinamakan PM TOH oleh Teungku Adnan. “Asal muasal nama itu berangkat dari peristiwa yang sangat berkesan bagi saya, saya sering menaiki bus PM TOH ketika berpergian ke seluruh Aceh untuk berdagang obat, lalu bunyi klakson bus tersebut  membuat saya terkesan. Maka dalam pertunjukan saya untuk selingan jual obat saya tampilkan poh tem, peugah haba , dangderia. Sembari memamerkan kebolehannya berteater itu, saya memulainya dengan menirukan bunyi klakson bus PM TOH, masyarakat Aceh sangat senang dengan penampilan saya itu. Setiap saya jual obat, penonton pasti ramai, dagangan saya laris tapi saya harus menampilkan Hikayat Malem Dewa. Akhirnya masyarakat Aceh setiap ketemu saya sering memanggil nama saya dengan sebutan Teungku Adnan PM TOH. setelah saya pikirkan sepertinya nama teater tutur saya ini adalah PM TOH” (Wawancara dengan Tengku Adnan, 14 April 1999 di Blang Pidie, Aceh Selatan) 

Ternyata nama teater tutur PM TOH itu merupakan pemberian oleh masyarakat pendukungnya. Ini bukti bahwasannya sejak tahun 1970-an nama itu telah dilekatkan kepada Teungku Adnan, dan ia diterima sebagai pembaharu teater tutur Dangderia yang pemanggungannya hanya ada satu bantal, pedang dari pelepah kelapa hanya mengandalkan kekuatan ekspresi dan kekayaan vokal dalam menyampaikan Hikayat. Sementara Teungku Adnan diterima oleh masyarakat pendukungnya, sehingga dimanapun masyarakat mendengar tentang kehadiran Teungku Adnan, mereka pasti ramai-ramai mendatanginya karena ingin menyaksikan pertunjukan PM TOH.

Kemampuan Teungku Adnan tak pernah tergantikan oleh siapapun. Seorang juru bicara “penyihir” yang mampu memberikan pesona seni peran. Suatu hari dalam Hikayat Malem Dewa ia berubah peran dengan sigap. Lima detik pertama ia mengekspresikan wajah genit, matanya berkedip-kedip. Mengenakan sepotong selendang, sebuah wig, ia pun menjelma menjadi tokoh Puteri Bungsu, putri yang jelita dari khayangan. Lima detik kemudian, ia berganti peran menjadi pemuda gagah siap bertempur memperebutkan puteri Bungsu. Sepotong pedang terhunus di tangan, topi baja melekat di kepala. Sementara mulutnya tak putus-putus ia derukan kisah pemuda bernama Malem Dewa yang harus berangkat ke negeri di atas awan untuk menemui kekasihnya. Berbagai karakter dengan cepat saling berganti di tubuh dan suara Teungku Adnan. Ia dapat menjadi Hulubalang, laskar Aceh, jadi nenek penjaga gubuk Buntul Kubu, pemuda yang mencuri baju sang puteri atau seorang anak yang merindukan sang ibu. Sedang dilain waktu kita seperti menyaksikan peperangan yang maha dahsyat, suara senjata dan tangisan saling bersahutan padahal ia bermain sendiri. Disinilah letak kualitas teaterikal pertunjukannya.

Kekuatan yang paling mendasarkan dalam teater tutur PM TOH adalah daya improvisasi penyaji yang sangat tinggi. Gaya komedikalnya membawakan hikayat masa lalu dikaitkan dengan peristiwa masa kini. Kemampuan Teungku Adnan menyiasati pertunjukan ternyata dapat menghadirkan sejumlah tokoh di atas pentas dengan vokal yang berubah-ubah. Kini Sang Maestro, seniman ‘Traubador Dunia’ meninggal dunia dalam usia 75 tahun, tanpa ada pengganti. Abad ke-12 di Perancis Selatan lahir seorang Traubadur. Lalu 900 tahun kemudian diseluruh dunia hanya ada di Aceh  muncul kembali seorang “traubadur dunia” yakni Teungku Adnan. Sayangnya pemerintah  Aceh tidak mau peduli. Sekarang sang “traubadur” benar-benar sudah tiada, berapa ratus ribu tahun lagi kita harus menunggu untuk kelahiran seorang traubadur seni tradisi yang luar biasa itu. Entahlah, kita hanya mampu berharap, semoga ada pengganti Teungku Adnan  PM TOH. Semoga! .


Sulaiman Juned adalah penyair, esais, kolumnis, cerpenis, dramawan, sutradara teater, pendiri/penasihat Komunitas Seni Kuflet Pandanpanjang, dan Dosen seni Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Pendiri Sanggar Cempala Karya Banda Aceh, Pendiri UKM-Teater Nol Unsyiah, Sekretaris/ Ketua Panitia Pendirian Kampus Seni Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Mantan Kepala Humas ISI Padangpanjang, Doktor Penciptaan Seni Teater Pascasarjana (S-3) ISI Surakarta, Jawa Tengah.

comments powered by Disqus