Senin,23 Oktober 2017 | Al-Itsnain 2 Safar 1439


Beranda » Artikel » Di Sebalik Tarian Buwung Kuwayang

Di Sebalik Tarian Buwung Kuwayang

Oleh Tabrani | Kamis, 10 Agustus 2017 10:07 WIB

Eeee …na… bueung te kuwayang
Sambai nan sambaian
Pagi te ku sambai
Potang te nan tibo
Eee…na.. Burung Kayangan
Dipanggil-panggilkan  
Pagi  ku panggil
Sore baru baru sampai

Eee.. naaaa... Buwung te kuwayang
Onu lah onuan
Kalaulah onu untuk te dubalang
Kalaulah si onu untung nan dayang…
Eee…na.. Burung Kayangan
Warnamu berwarna warni  
Jika warnanya  untuk si Hulubalang
Jika warnanya  untuk si Dayang

Inilah Penggalan mantra yang dibaca oleh pemain tari Buwuung Kuwayang dari Ikatan Komunitas Adat Terpencil Suku Bonai  (IKAT-SB) Desa Babussalam Pujud  yang ditampilkan dalam rangka penyambut  rombongan Famtrip Dinas Pariwisata Provinsi Riau di Desa Rantau Bais tanggal 21 Juli yang lalu.

Tari Buwung Kuwayang sendiri adalah tari magis Suku Bonai. Tari ini umum dilakukan pada kegiatan Badewo atau pengobatan tradisional. Pengobatan  yang melibatkan makhluk halus ini kini sudah sangat jarang dilakukan. Hanya diadakan untuk mengobati pasien penyakit tertentu saja yang  memerlukan keterlibatan dukun kampung. Saat ritual, para penari dirasuki mahluk halus jelmaan burung kuwayang. Burung ghaib yang dipercayai tinggal disuatu tempat yang sangat jauh.

Badewo dilakukan semalam suntuk dengan beberapa tahap atraksi. Proses ritualnya tergantung kepada besar kecilnya kapasitas pengobatan. Apakah pengobatan dilakukan selama 1, 2 atau 3 malam atau dengan istilah bintang 1, 2 dan 3. Peralatan ritual juga tergantung besaran tingkat bintang tersebut. Perangkat tertinggi dilengkapi dengan 5 kolam dan koto 9. Kolam adalah wadah yang dibuat dari batang kelubi. Di dalam kolam disimpan berbagai peralatan ritual seperti mangkuk air limau dan peralatan ritual lainnya. Sedangkan Koto Sembilan adalah miniatur bangunan beranjung (bertingkat) 5 yang berpintu tak berjendala.

Menurut Zainal, pemimpin Kelompok Seni Tradisi Buwung Kuwayang Desa Babussalam, tradisi ini sudah mulai berubah. Beberapa perlengkapannya sudah menggunakan bahan pengganti. Hal ini disebabkan langkanya keberadaan bahan-bahan tertentu akibat perubahan lingkungan. Peralatan yang terbuat dari batang pohon kelubi contohnya kini diganti dengan kayu. Pohon Kelubi atau asam paya ini sudah sulit dijumpai karena hanya tumbuh dihutan-hutan yang masih alami. Begitu pula pemakaian janur sudah banyak dikurangi.

Mengingat penggunaan janur yang berlebihan dapat mengganggu pertumbuhan pohon kelapa. Jadi janurnya diganti dengan kertas atau pita. Attraksi menginjak bara dalam ritual tersebut juga disederhanakan. Jika dahulu menggunakan bara api yang banyak kini hanya dengan menggunakan sedikit api yang diletakkan di dalam sebuah mampan. Keberadaan bara api tersebut selain untuk membakar dupa juga untuk diinjak-injak para pemain dengan kaki telanjang.

Pelaku Badewo memiliki tugas yang berbeda. Dukun atau Kumantan adalah pemimpin pengobatan. Di bawahnya ada Uyang Bosa atau Uyang Godang. Tugasnya mengatur segala kebutuhan dukun. Tugas Uyang Bosa lainnya adalah sebagai perantara kepada keluarga pasien. Selain itu ada pula biduan yang bertugas sebagai pengalun lagu atau mantra. Mengiringi tari tersebut adapula kelompok pemusik terdiri dari penabuh gendang dan peralatan bunyi bunyian lainnya.

Kebudayaan Suku Bonai dimasa sekarang umumnya sudah bercampur baur dengan budaya melayu Rokan maupun masyarakat pendatang lainnya. Walaupun sebagian tradisi lama masih dipertahankan, menguatnya budaya melayu Islam dalam masyarakat Bonai turut mengikis tradisi lama mereka. Namun tidak semua tradisi itu ditinggalkan. Ada juga yang masih dilestarikan seperti Badewo.

Suku Bonai sekilas memiliki kemiripan dengan Sakai. Perbedaan yang mencolok ada pada dialek bahasa. Jika sebaran orang orang Sakai berada di wilayah Kabupaten Bengkalis dan Siak, Bonai hanya terlihat di sekitar perbatasan kabupaten Rokan Hilir dan Rokan Hulu.  Di Kabupaten Rokan Hilir mereka ini tinggal di Desa Babussalam Kecamatan Pujud serta Bagan Nenas di Kecamatan Tanjung Medan. Sedangkan di Kabupaten Rokan Hulu mereka tersebar di wilayah Kecamatan Bonai Darussalam seperti Sontang, Jurong dan Ulak Patian.

Suku Bonai di Desa Babussalam berasal dari kampung tua Labuhan Dagang. Adapula yang berasal dari Bencah Ibul Kecamatan Tanah Putih. Dimasa lalu suku ini hidup dipinggir sungai Rokan. Mereka membuat rumah panggung di atas bibir sungai. Sejak 1981 Pemerintah Orde Baru melalui Kanwil Depsos Provinsi Riau membangun resetlement dan memindahkan suku asli tersebut ke Babussalam, daratan yang terletak sekitar 2 kilometer dari pinggir sungai.***

Penulis adalah penikmat dan penyinta seni budaya serta staf di bidang pemasaran Dinas Pariwisata Provinsi Riau.

comments powered by Disqus