Minggu,20 Agustus 2017 | Al-Ahad 27 Zulkaedah 1438


Beranda » Artikel » Parade Ragam Imajinasi

Parade Ragam Imajinasi

Oleh: Udji kayang Aditya Supriyanto | Minggu, 16 Juli 2017 11:34 WIB

IMAJINASI tak selamanya berakhir di rengkuhan ceracau khayali. Buku kumpulan cerpen Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon? (2016) mendokumentasikan sekian imajinasi liar Eko Triono. Buku itu masuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2016 untuk kategori prosa, sebelum dikalahkan oleh Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi (2016) garapan Yusi Avianto Pareanom. Kita tidak usah mengurusi penganugerahan itu. Kita hanya butuh membaca, dan bahagia karenanya. Tujuh belas cerpen di buku Eko yang berpredikat Sastra Perjuangan ini barangkali sudah pernah kita baca sebelumnya, lantaran pernah terpublikasi di beberapa media cetak nasional maupun lokal. Sementara, cerpen-cerpen lainnya belum pernah ditayangkan media cetak mana pun, terutama cerita sangat pendek Eko yang bakal merepotkan penata letak apabila dipaksakan muncul di koran atau majalah.

Sebelum sampai pada cerpen pertama, kita bakal disambut endorsement Damhuri Muhammad, komentar-komentar terhadap beberapa cerpen Eko, pengantar kurator, dan catatan dari kritikus sastra kondang, Tia Setiadi. Tanpa bermaksud meniadakan, kita boleh melewatkan sementara berbagai komentar tersebut. Tujuannya jelas, agar kita bisa menikmati dan menakar cerpen-cerpen Eko berdasarkan pembacaan sendiri. Kita boleh lekas membaca komentar-komentar di depan setelah tuntas mengakrabi cerpen-cerpen  Eko. Toh, buku kumpulan cerpen Eko cepat selesai dibaca, satu-dua hari sudah cukup untuk menuntaskan buku itu. Namun, kalau ingin menuntaskannya dalam waktu yang jauh lebih cepat, segeralah mendaftarkan diri di Seminar Bacakilat 3.0 yang beriming-iming “ingin menuntaskan tumpukan buku Anda dalam 2 jam?”

Parade imajinasi Eko dibuka oleh cerita (sangat) pendek berjudul Kebahagiaan. Cerpen berkisah tentang suatu pertemuan yang mengobrak-abrik tatanan waktu. Kisah dibuka dengan agak mengejutkan: Pagi hari pintu kamarku diketuk dengan keras. Keras sekali. Kubuka dan ada anak kecil. Kutanya, siapa? “Aku anakmu di masa depan nanti.” (2016: 29). Kita yang akrab dengan serial televisi superhero DC Comics tentunya akrab dengan perjalanan waktu demi sebuah penyelamatan. Perjalanan waktu dalam episode superhero bisa dilakukan oleh The Flash, manusia tercepat di bumi, maupun komplotan Legends of Tommorow dengan kapal penjelajah waktunya. Namun, alasan kedatangan si anak dari masa depan, dalam cerpen Eko, terasa sepele. “Aku cuma ingin tahu masa muda Ayah,” kata si anak (2016: 30).

Cerpen berjudul Paradisa Apoda mempertemukan kereta api dan literasi dalam kemanunggalan imajinasi. Kereta api sebetulnya sudah lama akrab dengan buku. Dalam film Genius (2016) misalnya, menampilkan adegan Max Perkins membaca naskah Tom Wolfe di gerbong kereta api, di sepanjang perjalanan. Pembacaan di kereta api memang belum tuntas, namun suasana yang terbawa cukup berpengaruh, sehingga Perkins lantas berkeputusan menerbitkan naskah Wolfe sebagai Look Homeward, Angel (1929). Eko, dalam cerpennya, lebih merekatkan lagi intimasi kereta api dan literasi. Dikisahkan ada kereta api bernama Paradisa Apoda yang hanya berhenti sekali selama 18 jam 25 menit di tempat yang sama ketika berangkat, yaitu stasiun pusat kota Literia. Stasiun ini mirip perpustakaan tua, dengan rak-rak tua, lantai tua, lukisan tua, suasana tua, dan gadis penjaga yang sudah tua (2016: 61).

Paradisa Apoda terdiri dari beberapa gerbong, di antaranya gerbong para pelamun, gerbong pengusir sepi, dan gerbong masa kecil. Di Literia, melamun bukan perihal tabu. Melamun bukan membuang waktu, melainkan menciptakan waktu; menciptakan jeda untuk memeriksa apa yang sudah kita miliki atau apa yang baru saja hilang, baru saja pergi (2016: 63). Pemaknaan Eko atas “melamun” mengingatkan kita kepada pemikiran Heidegger tentang waktu asali (zeitlichkeit). Waktu asali ditakar oleh setiap eksistensi, atau jika meminjam term Heidegger: dasein, secara kreatif dan pribadi. Hanya saja, kita lebih sering menjumpai waktu asali yang disamaratakan jadi konsensus bersarana detik, menit, jam, hari, pekan, tahun, dan lain-lain. Penyamarataan waktu asali ini Heidegger sebut dengan waktu objektif, alias innerzeitigkeit (1953: 405).

Tepat setelah Paradisa Apoda (apabila membaca cerpen-cerpen secara urut), kita berjumpa cerita sangat pendek lagi. Cerpen Anak Manis berkisah tentang seorang anak lugu yang tiba-tiba teringat sesuatu, lantas mengutarakannya dengan percaya diri, tanpa beban, di tengah kekhusyukan makan malam: “Anak Manis tahu, Papa itu korupsi, dan kata Bu Guru, Papa boleh dihukum mati.” (2016: 65). Pemunculan istilah “korupsi” di tengah cerpen-cerpen imajinatif memberinya tautan pada realitas. Korupsi jelas-jelas hal realistis, alih-alih sureal. Dalam cerpen lain, tepatnya pada Pledoi Spesies Tikus, korupsi Eko munculkan kembali. Cerpen terkait mencoba berkomentar ihwal korupsi dari sudut pandang tikus. Para binatang pengerat itu tak terima nama spesiesnya dipakai sebagai kata ganti koruptor!

Cerpen-cerpen Eko yang terhimpun dalam Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon? bukan saja menunjukkan keragaman perspektif, namun juga eksplorasi teknik berkisah. Beberapa cerpen Eko hanya terdiri dari satu monolog panjang belaka, dibuka dan diakhiri dengan tanda petik, sebut saja cerpen Bukan Aku yang Membunuhnya dan Aku Ini Ibumu. Pemilihan tokoh dalam cerpen Eko cukup variatif, tak melulu manusia. Demikian pula pilihan namanya, terkadang Eko meminjam nama tokoh terkenal (Kublai Khan, Marco Polo, misalnya), terkadang memakai nama-nama aneh. Pemilihan karakter bernama inisial (Pemuda E) sebagai tokoh di cerpen Babi Mentah pada Batu Vinunung dan Sebagainya dan Takut dan Ranumerta mengingatkan kita pada Franz Kafka yang pernah lebih dulu menamai tokoh utamanya di novel Der Prozess (1925) dengan nama inisial (K, lengkapnya Josef K).

Bukan hanya itu, “nama” saja sudah cukup bagi Eko dalam menbuat cerpen. Ada satu cerita sangat pendek (lagi) dalam buku kumpulan cerpen Eko, berjudul Namamu. Ketika namamu adalah hujan yang jatuh menyentuh siapa saja, namaku hanyalah sungai kecil yang tak bisa jika harus mengalir tanpa belaianmu (2016: 174). Analogi aku-kamu semacam ini adalah khas dalam percintaan. Selain Eko, kita dapat menjumpainya dalam lagu Kita Mungkin garapan Sisir Tanah: jika kau mengalir sebagai dusta, aku adalah kata/ jika kau dendam, aku sebagai damai/ jika kau berhembus sebagai maut, aku adalah waktu/ jika kau dosa, aku sebagai doa. Tanpa mendengar Sisir Tanah pun, kita sudah akrab dengan gombalan, “Dik, kalau kamu bunga, aku jadi kumbangnya ya!” Cinta barangkali memang dua entitas berbeda yang saling berjumpa dan berkait. Aih! ***



Udji Kayang Aditya Supriyanto
Peminat sastra dan pengelola edaran Bukulah!
Bergiat di Bilik Literasi

comments powered by Disqus