Minggu,20 Agustus 2017 | Al-Ahad 27 Zulkaedah 1438


Beranda » Artikel » Remaja Menulis Puisi

Remaja Menulis Puisi

MUHAMMAD HUSEIN HEIKAL | Minggu, 09 Juli 2017 16:07 WIB

Tulisan ini terinspirasi dari endorsmen Hasan Aspahani untuk buku puisi Muhammad de Putra, yang terpublikasi dilaman media sosial. “Membaca sajak-sajak Muhammad de Putra di buku ini saya mau bilang: Nak, habiskanlah masa kanak-kanakmu yang mahal itu dengan gembira, nikmatilah waktu yang singkat itu, kau akan sangat merindukannya nanti, juga ketika kau menuliskannya dalam puisi,” demikianlah kata Aspahani.

Lantas hadir Surya Gemilang, penyair muda asal Denpasar yang saya kenal lewat sajak-sajaknya di sisipan Kakilangit Majalah Sastra Horison berkomentar, “Seolah-olah dia nganggep kamu (De Putra) kayak anak kecil yang gak bisa bermain gara-gara sibuk ngerjain puisi dan terancam masa kecil kurang bahagia”. Secara sadar, saya tersenyum membacanya. Dikomentar Surya ini turut saya membalas, “Kalau remaja yang menulis puisi itu kira-kira (karena) kurang bahagia tidak?”

Remaja dan Puisi

Remaja adalah masa peralihan dari kanak menuju dewasa. Sedangkan puisi? Ya, puisi. Betapa menariknya puisi, saya kira. Apakah perlu kita pertanyakan, siapa yang tak kenal puisi? Apalagi untuk sekadar pengertian awan yang sederhana: “Puisi ialah rangkaian kata-kata yang indah dan menawan.” Segala sesuatu yang disusun berderet-derat dalam bentuk kata, baris, dan bait adalah puisi. Oleh karena itu, siapa saja bisa menulis puisi. Sangat lumrah orang melampiaskan isi hati, pikiran, dan hasrat terdalamnya dengan menulis puisi. Maka seolah-olah setiap orang bisa menjadi penyair, dengan konsepsi bahwa kodrat puisilah untuk diciptakan oleh penyair.

Saat ini, tak asing apalagi aneh rasanya bila seorang remaja menulis puisi. Memang seharusnya sejak dulu pun tidak aneh remaja menulis puisi. Namun bedanya, puisi yang tulis remaja sekarang dengan “berani dan pe-de” untuk dipublikasikan, dan menjadi santapan publik. Sedangkan dahulu, puisi yang dibuat remaja paling hanya untuk dinikmati pujaan hatinya, atau yang paling menyakitkan –hanya untuk dinikmati diri sendiri.

Dengan rentang usia berbeda-beda, didominasi oleh berumur belasan tahun, banyak para remaja yang bertumbuhan sebagai penulis puisi diberbagai belahan bumi Nusantara. Dari rentang waktu bulan ke bulan, beberapa penulis puisi muda ini telah menerbitkan kumpulan puisinya dalam bentuk buku yang representatif.

Apakah ini semua disebabkan oleh satu dekade belakangan ini, yaitu dunia teknologi menyediakan begitu banyak kemungkinan untuk berekspresi? Saya tak pandai benar menyimpulkan. Namun, dapat kita saksikan bersama berbagai bentuk karya sastra, terutama puisi merembes diberbagai laman media sosial, panjang atau pendek, baik maupun buruk. Jadilah puisi luber dan bertebaran di mana-mana. Melalui esai “Sastra(wan) Generasi Facebook” kritikus sastra Maman S. Mahayana (Kompas, 22/4) mengkritisi “tajam” hal ini. Menurutnya, puisi yang berserak dilaman media sosial muncul tanpa seleksi, tanpa kurator sama sekali. Maman sangat meragukan kualitas puisi karya “generasi Facebook” ini. Menurutnya, tidak seperti penulis puisi terdahulu yang menunggu tiap minggu, menanti karyanya dimuat.

Geliat Penyair Muda

Bagaimanapun itu, walau berbagai tanggapan dan reaksi (positif maupun negatif) muncul, para penyair muda kian bergeliat. Remaja ini telah mencelupkan dirinya dalam cairan kata-kata. Sekadar menyebut beberapa nama, yaitu Muhammad de Putra (Riau), Surya Gemilang (Denpasar, Bali), Muhammad Daffa (Banjarbaru, Kalsel), Erich Langobelen (NTT) dan masih banyak lagi. Muhammad de Putra, penulis puisi yang masih duduk dibangku SMP ini,  menapak langkah demi langkah untuk menembus berbagai media massa. Dia memulai debutnya diruang Zetizen Riau Pos. Berlanjut ke harian Medan Bisnis, Radar Surabaya, Basabasi.co, Lampung Post, hingga Media Indonesia dan Horison Online.

Prestasi besar ditorehkan Surya Gemilang. Pria muda kelahiran 1998 ini menembus ruang puisi Kompas beberapa waktu lalu. Lima puisinya tampil satu edisi dengan dua puisi Erich Langobelen.

Saya sendiri menulis puisi sejak menginjak usia 18 tahun, semasa kelas 3 SMA. Awalnya, saya membuat lima puisi bertema natural yang saya larutkan dengan nuansa romantik. Dengan percaya diri saya kirim lima puisi ke sisipan Kakilangit Majalah Sastra Horison. Tak sabar saya menunggu, satu bulan setelahnya saya kirim ke ruang Xpresi (sekarang Zetizen) Riau Pos. Dan dimuat! Betapa sukacita hati saya. Ditambah lagi dihari itu pula dihalaman Budaya Riau Pos tampil esai karangan ibu saya. Tarikh itu saya ingat sampai sekarang, 1 Februari 2015.
Batapa kian mengejutkan hati saya, ketika menerima kabar dari Syafrizal Sahrun (distributor Horison area Medan, kala itu) bahwa ia melihat puisi-puisi saya tampil di Horison edisi Februari 2015. Kabar gembira ini bagai meledakkan saya! Maka, mulai dari itulah sampai saat ini saya terus menulis, tak hanya puisi, juga berbagai jenis karya tulis lainnya.

Begitulah proses ringkas tentang beberapa remaja yang menulis puisi. Saya rasa dan saya kira semua dari kita mengakui remaja identik dengan puisi. Lantas apakah sebab mengapa para remaja menulis puisi? Bahkan tak hanya sekadar menulisnya, namun juga –berusaha dan berjuang– mempublikasikannya lewat berbagai media cetak dan online. Kembali ke komentar awal saya, apa remaja yang menulis puisi (disebabkan) kurang bahagia?

Secara implisit, manfaat puisi bagi pembuatnya jelas, sebagai media ungkapan atau curahan isi jiwanya. Sepi, tangis, rindu, pilu, luka, amarah, dendam, cinta dituang penulis puisi dalam puisi-puisi yang dihasilkannya. Puisi lahir dari rahim pengalaman dan imajinasi manusia. Pengalaman tersebut juga didukung dengan pengalaman memperhatikan, mencermati, dan merenungkan, dan merangkainya ke dalam larik-larik puisi.

Seorang yang memiliki pengalaman bahasa, estetik, artistik serta pengalaman ekspresi yang tinggi biasanya mampu menuangkan idenya dalam bentuk karya puisi. Dengan demikian, cara terbaik sebagai penulis puisi ialah menulis dan terus menulis. Membaca dan terus membaca untuk pengoreksian, serta mendiskusikan puisi yang dibuat dengan orang lain yang dianggap memiliki pengalaman yang lebih banyak dari dirinya.

Namun, kita tak perlu merisaukan dari kebahagiaan atau tidak para remaja itu menulis puisi. Mari kita saksikan bersama, geliat puisi yang dihasilkan para penyair muda terus memeriahkan jagad sastra Indonesia. Keterbatasan rubrik sastra menjadi tantangan tersendiri untuk menembusnya. Laman media sosial juga terbuka bagi siapa saja untuk menggoreskan isi hatinya, sebanyak-banyaknya ataupun sepercik saja.***

Penulis muda kelahiran Medan, 11 Januari 1997. Menempuh studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara. Karyanya termuat The Jakarta Post, Kompas, Horison, Media Indonesia, Republika, Koran Sindo, dll.

comments powered by Disqus