Minggu,20 Agustus 2017 | Al-Ahad 27 Zulkaedah 1438


Beranda » Artikel » Merenangi Bait-Bait Kitab Suci dalam "Lelaki Pembawa Mushaf"

Merenangi Bait-Bait Kitab Suci dalam "Lelaki Pembawa Mushaf"

Bambang Kariyawan | Minggu, 02 Juli 2017 11:01 WIB


Karya yang ikhlas akan melahirkan kejujuran.

Itulah petikan kalimat motivasi dari penulis novel perempuan Riau, Nafiah Al Ma’rab dengan nama asli Sugiarti dalam acara bedah novelnya. Novel ini merupakan novel kedua yang ditulis setelah Jodohku dalam Proposal, dan kini hadir Lelaki Pembawa Mushaf (LPM) (Tim Medina Creative Imprint of Tiga Serangka,  Solo: 2016, 208 h). Riau sebagai provinsi literasi dalam pelaksanaannya masih harus berjuang keras menjaga serta merawat julukan itu.

Kehadiran novel LPM, salah satu jawaban dari perjuangan itu. Jarang-jarang dalam kondisi saat ini dari bumi Lancang Kuning hadir novel-novel yang diterima di kalangan pembaca nasional. Geliat pernovelan di Riau dengan hadirnya LPM menjadi titik bangkit pasca Ganti Award yang sempat menghilang. Ajang apresiasi penulis-penulis novel di Riau ini.

Tema novel ini sangat penting bagi kita dalam menjalani kehidupan terkhusus sebagai umat Islam. Tema tentang mendalami kitab suci Alquran, tema yang jarang dilirik atau bahkan tidak terpikir kalau dapat diangkat menjadi cerita yang sangat menarik. Terkadang yang sederhana bila dipoles dengan cara yang bernilai maka akan bernilai pula penampilan dan isinya.

Kesederhanaan disinilah justeru kelebihan penulis mengangkatnya dalam kisah-kisah yang seru untuk dinikmati. Tentunya tema sederhana ini menjadi istimewa karena lahir dari pejuang tinta dakwah yang telah menghabiskan asam garam dunia kepenulisan. Nafi’ah Al Ma’rab telah teruji kepenulisannya dalam berbagai lomba kepenulisan, organisasi kepenulisan, dan karya-karya kepenulisan.

Novel ini bertutur tentang kesungguhan laku seorang pemuda yang ingin belajar membaca Alquran,. Berkisah tentang seorang lelaki, Khalid yang kecewa pada mantan kekasihnya, tetapi kekecewaan itu membawa titik balik perubahannya pada hidupnya. Memang terkadang proses jatuh ke titik nadir dalam kehidupan terkadang menjadi titik balik dalam hidup seseorang. Hidayah diberikan Allah dalam berbagai situasi yang manusia tidak pernah menduganya. “Pelarian” positif dengan mendekati Alquran, sebagai media pelampiasan masalahnya. Jatuh bangun untuk belajar dan menjadi penghafal Alquran,dilaluinya.

Kisah perjuangan dalam merenangi bait-bait Alquran,menjadi menarik dengan dibumbui perjalinan kisah “Adam dan Hawa”. Hubungan lelaki dan perempuan memang takkan pernah habis untuk diangkat sebagai bumbu gurih dalam cerita. Bumbu-bumbu percintaan yang dibungkus dengan nilai-nilai Islami terasa bergetar sekaligus menyesakkan. Mengharubiru melihat jalinan kasih antara Khalid dan Syafira. Menyesakkan saat kemunculan tokoh Wahyuni sebagai wanita penggota rumah tangga Sofyan dan Syafira. Serta ending kejutan dengan memunculkan tokoh perempuan lain yang tidak disebut dalam awal dan tengah cerita menjadi pendamping hidup tokoh utama Khalid. Penulis novel yang baik selalu menyimpan tokoh-tokoh untuk dimunculkan pada saat yang tepat.

Novel ini perlu dibaca karena ada pesan terselubung untuk kita mencintai Alquran,. Kita akan menemukan gairah yang berbeda ketika membaca novel dibandingkan ketika mengkaji dari buku panduan teknik membaca Alquran. Novel ini membawa pembaca berimajinasi tentang arti bangkit dari keterpurukan, membangun semangat, dan istiqomah dalam memperbaiki diri. Di sinilah letak fungsi novel sebagai fungsi edukasi masyarakat harus memberikan energi semangat pembaca untuk menjadi pribadi yang selalu lebih baik setiap saatnya.

Konflik tokoh utama dalam novel ini Khalid diselesaikan dengan lari dari masalah merupakan pilihan dalam menyelesaikan masalah. Ada yang menyelesaikan masalah dengan mendekati masalah dan ada yang menyelesaikan masalah dengan menjauhi masalah. Keduanya memiliki titik-titik lebih dan kurangnya. Prinsip terpenting dalam menyelesaikan masalah siap dengan konsekuensi yang dipilih. Khalid dipertemukan dengan berbagai rekan dan kerabat yang mengarahkan niat baiknya untuk merenangi Alquran. Memang benarlah kalau kerabat merupakan jalinan-jalinan yang selalu berkelindan mengantarkan kita pada beragam peristiwa. Ditambah proses belajar (dalam hal ini belajar Alquran) bila azam sudah melekat akan menepis rasa malu dan akan berbuah pada waktunya.

Kehadiran sebuah novel akan bagus bila misi dan sambutan pembaca dapat diraih beriringan. Novel ini merupakan kombinasi antara populer sekaligus mengemban misi budaya Islami dengan latar setting Riau dan Sumbar yang memiliki kekhasan tersendiri. Kekhasan dalam menghidupkan syiar Islam yang berdampingan dengan nilai-nilai budaya tempatan.

Peristiwa besar dalam kehidupan manusia (seperti bencana) dapat menjadi pengubah alur cerita yang menarik. Kejadian nyata menjadi sumber dan penghidup suasana dalam merangkai cerita dalam sebuah novel. Menuangkan kasus asap di Riau adalah pilihan tepat untuk menabur kondisi realitas masyarakat dan lingkungan Riau untuk menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya serta gempa bumi yang sering menimpah Padang menjadi penggeliat alur cerita agar lebih menarik. Penulis telah mendokumentasikan realitas sosial dan alam lingkungan yang pernah terjadi dengan baik dan ditumpahruahkan dalam jalinan sebagai setting peristiwa yang kuat dan berkesan.

Novel ini berpeluang untuk dimanfaatkan berbagai komunitas/organisasi terkhusus berbasis Islam untuk mentadaburi nilai-nilai kebaikan di dalamnya. Mereka akan belajar banyak hal tentang teknik dan motivasi yang tepat untuk belajar membaca Alquran, dengan menyenangkan. Dapat dijadikan referensi sebagai ide cerita tulisan seputar kehidupan remaja dan keluarga Muslim. Apalagi LPM ini bila dilirik sineas film tentunya menjadi alternatif tayangan hebat di tengah tayangan yang masih perlu dipertanyakan esensinya. Mengingat media film merupakan media representasi budaya dalam suatu masyarakat yang seharusnya menambah cerdas kehidupan mereka.

LPM berpotensi untuk dikembangkan atau dilanjutkan sebagai cerita yang berkelanjutan yang mengarahkan pada tema perjuangan keluarga Muslim membangun cinta Alquran. Konfliknya bisa dibangun dari internal dan eksternal tokoh. Misal dari anak hasil perkawinan Khalid dan Namirah yang terpengaruh dari lingkungan sehingga menjauh dari harapan orang tua. Atau dapat dari cemoohan tetangga yang dianggap keluarga yang “kolot”. Setidaknya penulis perlu membangun imajinasi yang keluar dari tema pertama.

Catatan kecil bahwa penulis telah mencoba berjuang sekeras-kerasnya agar ending cerita tidak mirip dengan penulis novel yang setipe.  Hal ini bukan masalah epigon tapi masalah siapa yang lebih dahulu menulis dengan genre tersebut. Yang jelas novel ini telah menginspirasi banyak orang terkhusus kalangan pemuda untuk menjadi generasi yang lebih rabbani.

Bambang Kariyawan Ys, guru sosiologi SMA Cendana Pekanbaru. Aktif bergabung di Forum Lingkar Pena Riau. Penggiat Sastra Hijau.

comments powered by Disqus