Minggu,17 Desember 2017 | Al-Ahad 28 Rabiul Awal 1439


Beranda » Artikel » Laku Puasa dan Laku Puisi

Laku Puasa dan Laku Puisi

Oleh: Hasta Indriyana | Minggu, 18 Juni 2017 16:20 WIB

SECARA sintaksis, kata “puisi” dengan kata “puasa” merupakan pararima (dalam hal rima). Perulangan konsonan “p” dan “s” di antara keduanya dibedakan bunyi vokal “i” dan “a”. Meskipun berbeda makna, dua kata tersebut memiliki kesamaan. Puisi adalah jalan sunyi untuk memahami nilai kemanusiaan. Disebut jalan sunyi karena dalam proses penciptaan melalui masa pengendapan (inkubasi), perenungan dan pemikiran, re-kreasi, dan transformasi ke dalam wujud teks. Proses itu sendiri terkadang sangat soliter. Visi yang dituju, meminjam istilah Eric Fromm, adalah memanusiakan manusia.

Puasa adalah bentuk ‘kesunyian’ nyata. Ia mesti dilakoni dengan menahan, lelaku, membakar (nafsu), dan menempa dengan kebaikan untuk mencapai tingkat (ke)manusia(an) yang lebih tinggi. Puasa dan puisi sama-sama sunyi, sama visi, tapi beda dalam pemahaman praktis. Pelaku puasa adalah pertapa yang menempa diri dalam sepi untuk mencapai gerbang surga dan pusat semesta. Puisi Tjahjono Widarmanto yang berjudul Rambutmu Sarang Meditasi, melukiskan demikian, ...//di sinilah aku akan bertapa/meniru riwayat kepompong/berguru pada yang bernama: kesabaran!/Di situ pulalah akan kutanam sebuah pohon/kelak rantingnya akan menjulur ke gerbang surga/dan akarnya akan menjalar ke pusat semesta//.

Bulan Ramadhan, kaum muslim diwajibkan berpuasa sebagaimana tersurat dalam QS, Al-Baqarah: 183. Puasa di luar Ramadhan juga dilakukan oleh agama-agama samawi yang ada. Di Jawa, puasa menjadi bagian dari dunia batin mereka. Puasa dan tirakat dimaksudkan untuk menundukkan diri sendiri dari nafsu dan ego. Salah satu laku yang dijalankan adalah puasa senin dan kamis. Haryono Soekiran dalam puisi Menghayati Senin Kamis menuliskan cukup apik, .../Sengaja kureguk hidangan demi cinta/menghayati makna senin kamis berpuasa/ menggiring jiwa dekat denganmu tetap terjaga/meski menyisihkan aral melintang di ujung waktu//...

Bentuk liris puisi Haryono di atas biasa digunakan Amir Hamzah dan para penyair-penyair sufi untuk merengkuh kedekatan dengan Tuhan, yaitu penyebutan “kekasih” atau kata ganti orang kedua (-Mu). Cinta (‘isyq) yang dekat, tetap terjaga untuk menundukkan musuh dalam diri, yaitu dengan menyisihkan aral melintang di ujung waktu. Maka, cukup mengherankan apabila ada seseorang melakukan puasa tanpa alasan yang jelas. Tujuan harus jelas, sebagaimana ditulis Sutardi Harjosudarmo dalam puisinya Komposisi Hidup berikut, .../sebelum kebutuhan, isirahatlah sejenak/dalam ranjang permeditasian yang diam/tempat yang mengajarkan asal mula tangisan/ketika memahami kemakhlukannya sebagai manusia sesungguhnya//.

Ada banyak alasan orang berpuasa, antara lain karena: menjadi kewajiban orang beriman; membantu penyembuhan dalam dunia medis; sebagai lelaku untuk meraih ngelmu; sebagai bentuk protes; latah atau ikut-ikutan; dan puasa karena miskin. Dari beberapa alasan tersebut, kita paham, alasan mana yang berada di tingkatan manusia tertinggi. Untuk mencapai derajat kemanusiaan diperlukan pemahaman intelektual dan spiritual yang dalam. Artinya, puasa tidak waton haus dan lapar.

Javad Nurbakhsh dalam The Heritage of Sufism (1999) menyebutkan ciri adanya pemahaman visioner (batiniyah) dan praktis (lahiriyah) melawan pemahaman spekulatif dan teoretis. Puisi sebagai hasil kebudayaan adalah suara yang peduli masyarakat, toleransi, kebaikan terhadap sesama, dan memberikan tauladan kemuliaan manusia. Puisi-puisi yang demikian mencakup totalitas transendensi (tu’minuna billah) sekaligus humanisasi (amar ma’ruf) seperi halnya karya-karya Yosodipuro, Ronggowarsito, Kuntowijoyo, Nurrudin Ar-Raniri, Hamzah Fansuri, dan sastrawan sufi yang lain.

Berkaitan dengan visi puisi, aspek humanisasi tergambar dalam puisi Iman Budhi Santosa yang berjudul Menyaksikan Anak-anak Zaman Mogok Makan, berikut, ...//Lalu, mengapa harus berkemah, berpuasa/di taman, di jalanan, terbaring lesu/seperti bayi kehabisan susu?/... Apa alasan berpuasa selain haus-lapar, dan terbaring lesu seperti bayi kehabisan susu? Salah satu bentuk demostrasi terhadap penguasa adalah mogok makan. Mogok makan dimaknai sebagai “laku puasa” atau refleksi atas pembungkaman hak bersuara. Tema sosial-politik mencatat perangai buruk pemerintah dan kondisi masyarakat yang lemah, yaitu ...Sedang langit masih saja/kelabu, zaman tetap terjarah/oleh lain tangan yang tak mau kalah.//

Puisi lain ditulis oleh Joko Pinurbo dalam Baju Bulan, berikut,  //Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin baju baru,/tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,/sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan./... Lebaran adalah ‘paket’ Ramadhan yang berada di akhir. Semestinya, siapa pun masyarakat merayakan dengan khusuk dan bahagia . Namun tidak demikian dengan aku-lirik dalam puisi Joko. Tentu ada sebab yang menjadikan ia tidak punya uang, yaitu kemiskinan. 

Menjelaskan “kesunyian puisi” dengan puisi-puisi puasa dan lebaran di atas, mengingatkan perilaku masyarakat Jawa. Mereka memandang puasa sebagai bentuk pengolahan batin untuk menundukkan ego dan nafsu, sehingga terengkuh hening (jernih), heneng (konsentrasi), dan heling (ingat kepada Tuhan). Puisi, dengan sendirinya akan menjadikan manusia mengenal kemanusiaan dan Tuhan beserta seluruh ciptaannya.

Akhirnya, selamat menunaikan ibadah puasa, selamat menunaikan ibadah puisi. Semoga Allah membuka mata-kemanusiaan kita, semoga kita bisa mendengar Nyanyian Idul Fitri, sebagaimana puisi D. Zawawi Imron berikut, //Wajah-wajah yang kutatap/secerah mentari yang bersinar bening/lantaran mereka bukan lagi orang asing/Aku pun juga kembali/ke noktah mula keasalan/Wajah pertama setelah tersingkap tirai kebebasan//... //Masa depan menanti/Hari ini/permulaan hidup kami/Dan hati-hati/setan juga siap menanti//.

Ya, kapan pun di mana pun, setan selalu siap menawarkan kebergantungan dan menggerus kemanusiaan kita. ***

Hasta Indriyana, lahir di Gunungkidul, 31 Januari 1977 dan bermukim di Cimahi. Menulis karya fiksi dan nonfiksi yang dipublikaskan di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawapos, Republika, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, NOVA, ESQUIRE, HORISON dan dalam buku kumpulan bersama. Buku yang sudah terbit antara lain, Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta (puisi), Teater, Tiada Hari tanpa Pembebasan (penelitian teater), Kisah Cinta yang Dirahasiakan (cerpen), Pintar Bahasa Indonesia Superlengkap (bahasa), Seni Menulis Puisi (teori sastra),  dan lain-lain.



comments powered by Disqus